17. Berakhir

1.7K 338 135
                                        

TERIMA KASIH SUDAH
MEMBACA!

SUDAH AKU TENTUKAN, BAKALAN STOP UPDATE DULU SAMPAI PART 20 BUAT REVISI. AKU HARAP KALIAN BACA ULANG SUPAYA NGERTI DENGAN ALUR CERITA BARUNYA

~HAPPY READING!~

***

"Kamu lebih berbahaya dari narkoba. Kamu bisa membuat orang candu untuk menatap wajahmu dan tergila-gila. Dan aku, termasuk dari salah satunya,"

***

HARI ini adalah hari kepulangan Agam dari rumah sakit. Tetapi, Laura masih meminta izin kepada sekolah untuk menjalani perawatan.

Jessie berjalan santai menuju sekolahnya. Ia sudah memiliki tekad untuk mandiri dengan berjalan kaki ke sekolah dan selalu menolak untuk diantar Laura. Walaupun, ujung-ujungnya pasti ada yang menawarkan tumpangan.

Ciiitt!

Suara decitan mobil terdengar nyaring di telinga Jessie. Ia menoleh dan mendapatkan mobil sedan berwarna hitam berhenti di sampingnya.

Kaca mobil tersebut terbuka perlahan menampilkan wajah David di dalamnya.

"Masuk," ujar David.

Jessie hanya menatap David datar. Pikirannya memang benar akan ada orang yang menawarkan tumpangan padanya di jalan. Tapi, setelah mengingat yang dilakukan David padanya, ia menggeleng.

"Nggak usah," jawabnya datar seraya melanjutkan perjalanannya.

David hanya terdiam. Ia menghembuskan napas panjang dan menatap punggung Jessie yang lama-lama mengecil dan menghilang.

Sungguh, aku tulus menyukaimu, dan aku takut, kamu tak akan memaafkanku, batinnya dalam hati.

***

JESSIE mengusap peluh keringat di dahinya. Ia sudah sampai di sekolah beberapa menit yang lalu bertepatan dengan bel.

"Selamat pagi anak-anak," ucap Bu Yaya--Guru Matematika sembari memasuki kelas.

"Selamat pagi, Bu," jawab seluruh murid serempak.

"Keluarkan buku Matematika kalian. Buka halaman lima puluh tujuh!" Titah Bu Yaya seraya bersiap-siap menerangkan pelajaran.

Selama pelajaran, Jessie hanya mendengarkan dan menyimak Bu Yaya yang sedang menerangkan pelajaran. Tiba-tiba, Dinda menyenggolnya.

"Jes, kalo gue ketiduran, bangunin ya," ujar Dinda.

"Nggak," ketus Jessie.

"Bodo. Lo itu baik sama semua orang. Gak mungkin lo nggak bakalan bangunin gue," ucap Dinda seraya menidurkan kepalanya di atas meja.

Jessie menatap Dinda yang ada di sebelahnya datar. Dasar bocah tak tau diri!

Kriiingg!!

"Oke, untuk PR kalian kerjakan bagian tiga nomor satu sampai lima! Selamat siang," ujar Bu Yaya mengakhiri pelajaran dan disambut seluruh murid yang berlarian keluar dari kelas.

Unforgettable Memories [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang