~ HAPPY READING! ~
***
"Kehadiranmu mengundang
cahaya mentari yang menyinari
sebuah hati yang ribuan purnama hanya gelap di dalamnya,"
***
JESSIE memasuki kelasnya dengan wajah riang. Ia mempunyai semangat baru untuk bersekolah, yaitu menemui David. Walau kejadian kemarin masih membuatnya kecewa dengan teman-temannya.
Jessie menduduki bangkunya dengan senyum yang masih merekah di bibirnya. Ia menatap Disa dan Dinda yang sedang mengobrol ria di sampingnya tanpa mengucapkan 'selamat pagi' kepada mereka.
"Jes," panggil Dinda. Yang dipanggil hanya diam tak menjawab.
"Jes!" Kali ini Disa yang memanggil dengan nada sedikit tinggi. Jessie memutar bola matanya dengan tatapan datar.
"Kenapa? Masih mau ngomong sama anak culun kayak gue? Bukannya gue sombong, tapi gue bener-bener gak bisa memaafkan seorang munafik." Ucap Jessie seraya melipat kedua tangannya di dada.
Disa terkekeh pelan, "Lo pikir lo bisa bertahan dari Kak Nasya?"
Dinda menyikut lengan Disa. "Sa, jaga ucapan lo. Jangan sampai--"
"Dinda, kita nggak boleh bohong,"
Jessie mendengar perdebatan di antara Dinda dan Disa. Mengapa Nasya harus dibawa-bawa? Sayangnya, dia tak berminat menonton perdebatan tersebut dan beranjak pergi keluar kelas.
Awan mendung menghiasi langit kala itu. Petir beberapa kali menyambar bertanda akan turun hujan. Jessie berlari kecil menuju taman belakang sekolah lalu duduk di salah satu bangku taman walau sudah tahu hujan akan turun sebentar lagi.
Jessie menghembuskan napas panjang seraya menatap taman bunga tulip yang menghiasi sekeliling taman. Seseorang tiba-tiba memegang punggungnya dari belakang.
"Jes, ngapain jam segini lo disini? Bentar lagi kan masuk." Wisnu yang entah melakukavn apa sedari tadi muncul dan duduk di samping Jessie. Hanya ada wajah kecut yang tertera di wajah Jessie.
Jessie memutar bola matanya dan menatap orang di sampingnya datar. "Kalo kakak memang suka sama gue, ada satu syarat yang harus kakak lakukan,"
Wisnu mengeryitkan dahinya, "Apa? Beliin lo baju mahal di mall? Beli skincare buat lo? Gue bakal kabulin semua."
Jessie menghela napas seraya menatap langit mendung di atasnya. "Kakak dateng begitu aja tiba-tiba dalam kehidupan gue. Padahal, gue nggak kenal kakak sebelumnya, bahkan gue nggak tau waktu MOS enam bulan yang lalu tentang kakak," ia menjeda ucapannya, "Kakak tau kan, kalau gue itu cuma cewek biasa yang cuma pengen hidup bahagia sampe gue mati. Kakak juga tau kan, kalo kakak gue sekarang lagi dirawat di rumah sakit gara-gara kecelakaan?"
Wisnu mengganguk tahu. Dia mencari banyak hal tentang Jessie. Mulai dari kehidupannya, keluarganya, apa yang gadis itu sukai dan tak sukai, ia sudah mengetahui semuanya.
Jessie meremas rok abu-abunya pertanda dirinya gugup akan sesuatu. "Kakak... tau juga kan kalo Agam itu kecelakaan itu gara-gara keluarganya kak David?"
Wisnu kembali menggangguk. Siapa tak mengetahui kabar yang sempat menggemparkan satu sekolah saat itu? Agam merupakan most wanted-nya anak kelas dua belas. Jadi, bukan hal yang mengherankan jika berita tentang Agam menggegerkan sekolah hingga ke kalangan guru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unforgettable Memories [END]
Teen FictionEND (TAMAT) PART MASIH LENGKAP ~~~ Jessie Adeline Farasya. Agak tomboi, tapi bisa feminim berhubung langsung dengan keadaan moodnya. Gadis biasa yang harus menerima sebuah konflik percintaan yang rumit dalam hidupnya setelah terlibat sebuah kecelak...
![Unforgettable Memories [END]](https://img.wattpad.com/cover/220541182-64-k747544.jpg)