37. Relakan Saja

864 104 7
                                        

BERHUBUNG KEMARIN BANYAK YANG
SPAM NEXT, JADI GAK PERLU SELASA DEPAN DAH UPDATE LAGI NIH YUHUU 🤩

SIAPA YANG GAK SABAR NIH? SEBENTAR SEBELUMNYA AKU MAU KASIH KALIAN PERTIMBANGAN DULU SEBENTAR

JADI, AKU SUDAH MULAI ADA RENCANA BUAT BIKIN SPIN OFF U.M, KALIAN TAU LAH YA, KISAH ADAM DAN DINDA. JADI, KALIAN MAU CERITA ADAM DAN DINDA DI PUBLISH SETELAH U.M TAMAT ATAU LANGSUNG AJA? JAWAB YA-!

~ HAPPY READING! ~

***

"Aku tahu, Tuhan takkan pernah merestui aku untuk merengkuhmu dalam pelukanku," —David Sadboy

***

HATI David mencelos begitu saja membaca pesan dari Altha. Rasanya seperti ditusuk oleh ribuan belati yang menghujam perutnya. Tidak, ia harus berpikir positif. Bisa saja bukan Altha hanya berbohong padanya?

David
Jangan bohong sama gue.
Gue gak suka, Tha.

Tak lama kemudian, terdengar lagi suara notifikasi.

Altha
Relakan Jessie, Dav.
Dia sudah sepenuhnya punya Wisnu.

David semakin merasa lehernya tercekat. Entahlah, tampaknya Altha serius menyampaikan kabar yang menurutnya adalah kabar buruk. Ia tanpa pikir panjang langsung menancapkan gas motornya kembali sekencang mungkin menuju SMA Bina Dharma. Sepanjang perjalanan, ia terus-menerus mengumpat tak jelas, bahkan hampir menabrak pengendara lainnya.

Sesampainya di depan gerbang SMA Bina Dharma, David langsung memasuki pekarangan sekolah dan mencari keberadaan Jessie disana. Tak peduli dengan orang-orang yang menatapnya aneh karena tak memakai seragam sekolah pada umumnya.

"David? Ngapain kesini?"

David membalikkan badannya ke arah suara tersebut. Tampaklah Dinda dengan raut wajah keheranan yang menatapnya dari atas ke bawah.

"Jessie. Di mana Jessie?" tanya David.

"Jessie? Dia lagi ke toilet sebentar. Biasa ritual pagi-pagi," jawab Dinda. "Bye the way, lo kenapa gak sekolah-sekolah? Kenapa juga gak pake seragam putih abu-abu? Kenapa juga lo kayak panik gitu? Kenapa juga lo—"

"Ntar gue jelasin, makasih ya," David menyela ucapan Dinda tanpa merasa berdosa dan melengos begitu saja. Dinda pun hanya bisa berdesis sebal.

David dengan pontang-panting berlari menuju toilet perempuan yang berada di ruangan paling timur SMA Bina Dharma. Tak perlu sampai ke tempat tujuannya, ia sudah melihat batang hidung gadis itu yang sedang berjalan santai di sekitar lorong yang sepi.

"Jessie!" panggil David.

J

essie sontak membalikkan badannya ke arah sumber suara. Matanya membulat seketika melihat David sedang berlari ke arahnya dengan secepat kilat.

"Kenapa lo? Dikejar rentenir?" ledek Jessie seraya terkekeh pelan menatap David yang tampak terengah-engah dan berusaha kembali mengendalikan ritme pernapasannya.

Unforgettable Memories [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang