47. KALUNG BERLIAN

2.6K 121 8
                                        

HEYO KAWANS! BALIK-BALIK LAGI WITH 47 PART🎉 CUMA INGATIN AJA SUPAYA JANGAN SIDERS!
MAKANYA VOTE, COMMENT BANYAK-BANYAK, SHARE KE SATU KABUPATEN YA! BIAR MARATON AJA SIH HEHEHE


























SELAMAT MEMBACA






"Saya bisa menerima segala penolakan, Diara. Tapi penolakan dari kamu adalah pengecualian"

-Adnan Ezra Mahardika-

******

Diara sampai di rumah ketika matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat setelah seharian ini pergi bersama Adit. Hari ini akan menjadi salah satu hari yang paling disukai oleh Diara. Adit tidak pernah gagal dengan kejutan-kejutannya yang selalu berhasil membuat senyumnya terbit. Diara merasa beruntung karena Adit menjadi bagian dari hidupnya.

Suara khas ibu-ibu dari seorang wanita paruh baya menggema di telinga Diara, ketika ia baru saja masuk dan menutup pintu. Ia disambut begitu histeris oleh Bi Sur."YA AMPUNNN!! Non Ara. Ini kok bajunya lembab gini? Rambut Non Ara juga lepek"

Melihat tingkah Bi Sur seperti sekarang Diara ingin sekali tertawa. Namun, ia tahan karena menghormati perhatian dari wanita baik di hadapannya saat ini. Jujur, bagi Diara tingkah Bi Sur sekarang ini begitu lucu, terlebih ekspresi wajah Bi Sur.

"Kehujanan, Bi" Diara menjawab sambil tersenyum hangat. Sebenarnya lebih tepat hujan-hujanan."Bibi kok udah stand by di sini?"

"Bibi nungguin, Non Ara" jawab Bi Sur sambil memberikan handuk yang ada di tangannya pada Diara."Tadi Den Adnan minta tolong ke Bibi buat bawain Non Ara handuk. Katanya Non Ara udah pulang, eh bener!"

Diara menghentikan pergerakan tangannya yang sedang mengeringkan rambut. Ia tertegun."Kak Adnan udah pulang, Bi?"

"Udah, Non. Sekarang lagi di ruang kerjanya" Bi Sur menjawab dengan bersamangat."Non Ara kok seperti kaget gitu?"

Bagaimana tidak kaget? Adnan pulang lebih awal! Untungnya tadi Diara minta diturunkan di ujung jalan. Bagaimana kalau tadi Diara diantar Adit hingga depan gerbang? Lalu bertemu dengan Adnan? Bisa jantungan di tempat Diara.
Membayangkannya saja membuat Diara bergidik ngeri. Ia belum siap mental jika suatu saat Adit bertemu dengan Adnan.

"Gak, Bi. Heran aja, biasanya Kak Adnan pulangnya malam" Diara tersenyum canggung."Kalau gitu aku mandi dulu ya, Bi"

Bi Sur mengajungkan jempol kanannya."Sip, Non. Bibi juga mau ke belakang"

*****

Kaki Diara yang hendak menaiki tangga terhenti saat suara Bi Sur mencegahnya. Tujuan Diara adalah ruang kerja Adnan, ia ingin meminjam buku laki-laki menyebalkan itu di sana. Malam ini Diara memiliki waktu luang untuk membaca buku karena ia tidak memiliki tugas.

"Non Ara, ini Bibi buatkan teh hangat supaya badannya juga ikut hangat" ucap Bi Sur sambil menyerahkan cangkir yang berada di atas nampan pada Diara.

"Repot-repot, Bi" Diara tersenyum ramah sambil menerimanya."Tapi, terimakasih"

"Gak repot, Non" Bi Sur membalas senyum ramah Diara tak kalah hangat. Terlihat begitu jelas kerutan di wajah Bi Sur saat wanita itu tersenyum.

"Kalau gitu Ara ke atas dulu"

Diara melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi hingga sampai di depan ruang kerja milik Adnan yang pintunya terbuka lebar. Tidak biasanya ruangan ini terbuka dengan begitu lebarnya jika tidak ada sang pemilik di dalamnya.

LOVE IN MARRIAGECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang