64. EFFORT

4K 191 22
                                        

HAPPY 50K+ KAWANS♡ GAK NYANGKA BANGET PERKEMBANGANNYA SEPESAT INI :) KITA SAMPAI ADA DI TOP #2 IN INDONESIA💓 GOOD JOB SEMUANYAAAA🙌 SENENG BANGET CERITA INI MAKIN BANYAK YANG BACA TERIMAKASIH 🤗

WELCOME TO OUR WORLD🌎

BTW KALIAN BANYAK SEKALI YANG NAGIHIN UPDATE SO NOW AKU UPDATE🎉 HIHIHI
SEPERTI BISA JANGAN LUPA VOTE, COMMENT, SHARE, DAN FOLLOW AKUN WATTPAD sudutmataa JUGA IG-NYA DENGAN USERNAME YANG SAMA :)


































SELAMAT MEMBACA








******

Diara masih tidak bisa percaya dengan ucapan yang beberapa detik lalu Adnan katakan padanya. Seumur hidupnya Diara belum pernah melakukan hal semenjijikan itu pada orang lain."Muntah?! Aku? Aku muntah di baju, Kak Adnan? You're wrong. Impossible!"

"Nothing is impossible. Mau percaya atau enggak itu urusan kamu, tapi yang jelas penyangkalan kamu gak akan pernah bisa merubah fakta yang ada" Adnan menanggapi keterkejutan Diara dengan begitu tenang."Saya bahkan harus sampai ganti baju karena kamu"

Ucapan Adnan barusan nyatanya berhasil membuat Diara mencoba kembali menggali ingatannya tentang kejadian beberapa jam lalu. Seingatnya baju yang Adnan gunakan tadi itu bukan putih melainkan hitam. Setelah berpikir cukup keras dan meyakinkan dirinya, Diara terpaku dan tubuhnya menegang.

Sekilas ingatannya yang meminta Adnan menjauh tergambar begitu jelas dalam ingatannya. Dan setelah itu ia benar-benar memuntahkan isi perutnya di tubuh tegap suaminya itu, setelahnya semua menghitam. Detik ini juga Diara rasanya ingin menenggelamkan dirinya ke laut. Bagaimana bisa ia melakukan hal seperti itu pada Adnan?! Mau ditaruh di mana wajahnya?! Bagaimana bisa ia muntah di baju seorang CEO perusahaan ternama?

Ceroboh sekali Diara!!!

"Sudah ingat?" tanya Adnan saat melihat Diara terpejam kaku.

Berlahan Diara membuka matanya, menatap ke arah Adnan. Harusnya laki-laki itu marah padanya, atau yang paling normal enggan mengurusnya seperti sekarang. Tapi melihat sikap Adnan saat ini seperti tidak terjadi apa-apa diantara keduanya.

"Sekarang cepat minum obatnya, setelah itu kamu bisa kembali tidur"

"Hm... itu... anu... soal muntah... saya... gak sengaja. Sorry!" Diara berusaha mengalihkan atensinya dari iris tajam milik Adnan. Malu.

"Gak usah dipikirkan. Saya gak masalah"

"Oke" Diara mengangguk kaku. Adnan tidak mempermasalahkannya, berarti permasalahan ini selesaikan? Tapi bagaimana bisa Adnan sesantai itu? Benar-benar manusia langka."Ini terakhir kali saya minum obat ini. Obat ini terlalu pahit buat jadi obat"

Akhirnya Diara memutuskan untuk meminum obat tersebut untuk meminimalisir rasa bersalahnya pada Adnan.

"Kalau pagi nanti kamu sudah sehat, kamu gak perlu minum obat ini lagi. Semua itu tergantung kamu, sama seperti perasaan kamu"

"Kok jadi bawa-bawa perasaan? Apa hubungannya sama obat coba?"

"Sekilas memang gak ada hubungannya sama obat, tapi kalau ditelisik lagi keduanya berhubungan. Sama-sama membutuhkan keputusan dari kamu. Sekarang saya jadi penasaran, bagaimana perasaan kamu ke saya?" Adnan kembali mendekatkan tubuhnya pada Diara sambil menelisik mata Diara yang enggan menatapnya."Kamu sudah cinta sama saya belum, Diara?"

LOVE IN MARRIAGECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang