Update! Maaf ya baru nongol lagi nih cerita 😭 selamat membaca, jangan lupa vote dan komentarnya biar penulisnya ga males buat lanjut ❤️🌼🌼
Malam ini rasanya Karina bermimpi indah. Bahkan dia merasa tidak seperti biasanya, meski tubuhnya tidak enak. Rasanya dia sedang tidur di tempat yang paling nyaman. Tempat tidur ternyaman yang pernah dia tiduri seumur hidupnya. Matanya terjepam kuat, rasanya tidak ingin membuka mata. Tapi keadaan yang tidak dia tahu memaksanya untuk segera tersadar.
Cahaya putih dari lampu membuat matanya menyipit karena silau. Pemandangan itu yang Karina lihat pertama kali setelah bermimpi indah. Pelan-pelan membuka kelopak mata yang tidak rela untuk bergerak dari posisi tidurnya.
"Rin, akhirnya kamu sadar juga." Suara cemas juga lega masuk ke dalam indra. Karina sangat familier dengan suara itu. Dia mencari tahu siapa sampai sosok itu akhirnya tertangkap oleh pandangannya.
"Ersa," panggil Karina.
Ersa mengangguk. "Iya, ini aku. Astaga aku tidak menyangka kalau sakit kamu separah ini."
Dahi Karina mengerut. "Sakit?"
"Iya, sakit. Kamu tidak lupa kan semalam kamu pingsan di Bar?"
Kerutan di dahi Karina semakin lebar. "Pingsan?" tanya Karina. Mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
Semalam Ersa memaksanya untuk tidak melanjutkan pekerjaan yang tersisa. Ersa cemas karena melihat wajahnya yang pucat. Setelah itu Karina mengobrol dengan Kai, tidak ada yang aneh. Karina juga merasa dia masih kuat walau sadar tubuhnya menggigil. Tapi dia tetap bertahan. Tapi ketika tidak sengaja mendengar obrolan Ardhani dan Kai, tiba-tiba tubuhnya gemetar kuat. Karina mendadak sesak napas dan tiba-tiba tidak sadarkan diri.
Obrolan yang tidak ingin Karina dengar karena takut. Takut aksinya bersama Ardhani malam itu ketahuan. Apa lagi Ardhani mengatakan kalau Jesica menuduh laki-laki itu bersama perempuan. Bagaimana bisa tuduhan itu keluar? Apa benar apa yang mereka lakukan semalam ketahuan? Apa ada orang lain yang melihatnya?
"Rin," panggil Ersa.
Karina mengerjap. Tubuhnya gemetaran lagi. Ketakutan itu kembali datang ketika kalimat Ardhani soal tuduhan Jesica menghantui pikirannya.
"Aku di mana, Sa?" tanya Karina. Berdehem beberapa kali karena tenggorokannya kering.
"Di rumah sakit," jawab Ersa.
"Rumah sakit? Kenapa aku dibawa kemari?" Karina kembali bertanya. Pantas saja tidurnya terasa nyaman. Ternyata kasurnya memang benar nyaman, jauh berbeda dengan kasur yang dia punya di kontrakannya.
Ersa berdecak mendengar pertanyaan Karina. "Ya demi kesembuhan kamu juga, Rin. Kamu sih, sudah tahu sakit malah memaksakan diri untuk masuk kerja. Bukannya istirahat saja di rumah."
Karina mendesah. "Tidak apa-apa. Aku suka bekerja, lagi pula buat apa aku di kontrakan sendiri? Itu jauh lebih membosankan."
Ersa mengerang gemas mendengar jawaban Karina. "Tapi lihat kondisi juga, Rin. Terlalu dipaksa juga tidak baik. Kasihan juga sama tubuh kamu, butuh istirahat."
"Setiap hari aku istirahat. Kan pulang kerja langsung pulang. Ini hanya sakit biasa, nanti juga sembuh," balas Karina.
"Tuhkan, kamu itu benar-benar keras kepala. Susah sekali kalau diberi tahu. Untung semalam ada Ardhani juga yang mau membantu, kalau tidak? Gimana nasib kamu di Bar? Kamu tahu sendiri pekerjaan aku, Riz dan Kai belum selesai semalam," omel Ersa.
Jantungnya mencelos mendengar pengakuan Ersa barusan. apa lagi ketika nama Ardhani disebutkan. "Ardhani?"
Ersa mengangguk. "Iya. Semalam setelah kamu pingsan, Kai membawa kamu ke ruangan Bos. Karena aku dan Kai tidak bisa menjaga kamu karena pekerjaan yang masih belum selesai. Akhirnya Kai meminta tolong Ardhani untuk menjaga kamu."

KAMU SEDANG MEMBACA
Limerence (TAMAT)
RomanceKarina harus menerima pil pahit ketika Dokter memberi tahu bahwa dirinya positif hamil. Fakta tentang kehamilan yang terjadi karena one night stand juga atas kesalahannya membuat Karina berantakan. ** Semuanya berawal ketika malam itu. Di mana Ardha...