LIMERENCE 77

6K 814 11
                                    

Update! Siapa yang masih nunggu lanjutannya? Jangan lupa di ramaikan dengan vote dan komentarnya ya guys❤️


Yiska heran melihat Karina yang mendadak tidak bersemangat. Biasanya Karina akan banyak tersenyum saat mengobrol bersama. Tapi sekarang wajah perempuan itu malah menjadi murung, padahal Yiska dengar Karina baru saja berbelanja dengan Ibu. Apa terjadi sesuatu sampai membuat ekspresi Karina berubah seperti itu? Karina juga bahkan memaksa ingin pulang dan beberapa kali juga Ibu mencoba meminta Karina untuk tetap di sini.

"Bu, bukannya tadi Ibu bilang baru pulang berbelanja dengan Karina?" tanya Yiska.

Ibu mengangguk. "Iya. Ibu membeli beberapa pakaian. Kamu tahu? Pakaian bayi di sana sangat lucu sekali. Sayang sekali Ibu melewatkan perkembangan di saat Javas baru lahir," jawab Ibu, sedih.

"Apa sesuatu terjadi di sana?" tanya Yiska.

Satu alis Ibu naik. "Maksud kamu?"

Yiska menunjuk Karina yang sedang duduk bersama Javas dengan dagunya. "Itu, Ibu lihat di sana. Calon menantu Ibu terlihat sedang sedih sekali. Aku pikir sesuatu terjadi saat belanja tadi."

Ibu ikut melihat Karina. "Tidak ada yang terjadi, semuanya baik-baik saja. Karina bahkan terlihat menikmatinya. Ya, meski pun Ibu paksa untuk membeli beberapa yang di inginkan nya walau dia memaksa tidak mau."

Yiska mengangguk mengerti. Dia kembali melihat ke arah Karina. Tidak mungkin kan hanya karena Ibu memaksa membelikan sesuatu Karina bisa murung seperti itu? Yiska yakin ada sesuatu yang terjadi, tapi dia tidak tahu apa karena Karina juga tidak mau bercerita.

"Apa Karina marah karena Ibu memaksanya membelikan barang?" tanya Ibu cemas.

Yiska dengan cepat menggeleng. "Itu tidak mungkin. Pasti ada hal lain yang buat dia seperti itu," kata Yiska. "Yiska ke sana dulu ya Bu."

Ibu mengangguk. Membiarkan Yiska berbicara dengan Karina. Memang benar perubahan ekspresi itu cukup jelas sekali, padahal di saat belanja tadi Karina masih baik-baik saja.

"Rin," panggil Yiska.

Karina terkesiap. Dia mendongak menatap Yiska. "Ya Mbak?"

Yiska mendesah, perempuan itu duduk di samping Karina. "Ada apa?"

Satu alis Karina naik. "Maksudnya Mbak?"

Yiska mendesah. "Kamu tidak bisa bohong. Sedari tadi kamu melamun, wajah kamu juga muram sekali. Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Atau di tempat belanja tadi Ibu melakukan kesalahan yang menyakiti hati kamu?"

Karina membelalak. "Tidak, Ibu baik kok. Aku justru senang bisa berbelanja dengan Ibu dan juga Javas."

Yiska mengangguk. "Ah, ternyata bukan itu ya. Lalu kenapa wajah kamu suram begitu? Aku yakin ada sesuatu. Kenapa? Kamu tidak mau cerita?"

"Aku benar tidak apa-apa kok, Mbak. Hanya ingat pekerjaan saja."

Yiska menyipitkan tatapannya. "Aku yakin bukan karena itu. Ada apa? Cerita, sebentar lagi kita akan menjadi keluarga. Masa kamu tidak mau menceritakan masalah kamu ke aku? Kamu tidak menganggap aku keluarga kamu ya?"

Karina dengan cepat menggeleng. "Tidak, bukan seperti itu Mbak. Hanya saja─ya, ini memang bukan masalah besar kok."

"Aku tidak peduli, ceritakan saja. Kamu tidak boleh memendam masalah sendirian, tahu. Kamu tidak lihat banyak kasus Ibu yang stres karena menanggung beban pikiran sendiri? Jadi ayo berbagi masalah kamu, sekali pun mungkin aku tidak bisa membantu, setidaknya beban pikiran kamu menjadi ringan sedikit."

Karina terdiam, dia tidak bisa bercerita. Lebih tepatnya dia memang tidak suka menceritakan masalahnya kepada siapa pun. Selama ini dia selalu memendam semuanya sendiri sampai pernah membuat Tiara dan Kai juga Ersa memarahinya karena Karina selalu memendam segalanya sendirian.

Limerence (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang