5. Musuh

137 13 0
                                        

Tidak terasa sudah 2 hari berlalu dan hari ini waktunya Karmika menagih tugas tapi ternyata Bella belum sempat menyempurnakan, hal itu mengundang emosi Karmika yang menyukai hal semua tepat waktu.

"Ya udah nanti malam aku ke rumah kamu." Solusi Bella enteng.

"Gak mau anjir ngeganggu lagian kalau keberatan gak bisa itu kamu ngomong, cari tau, bukan sendiri aja kaya gini. Kamu anak baru coba reach out orang-orang jangan menyendiri kaya seolah bisa nyatanya begini kan nyusahin!"

Kata-kata Karmika begitu menyebalkan tapi ada benarnya juga, Bella tidak suka ada di posisi seperti ini, sangat tidak nyaman ingin meluapkan amarah namun tidak tahu ke siapa karena dirinya sendiri dan kebodohannya yang tidak dapat mengerjakan tugas yang diberikan.

Bella menggebrak meja menuju perpustakaan untuk pertama kalinya karena ingin mengerjakan tugas saat istirahat berlangsung.

'Anjing emang Karmika paling bisa malu-maluin orang depan public tapi aing gak bisa bales lagi da fakta tolol! Perasaan waktu di kampung mah asa pinter pas kesini naha kaya idiot ih meni kesel please otak lah kerja samanya.' Bella berkeluh kesah dalam hatinya atas ketidakmampuannya dalam belajar cepat dan suka terlambat dalam memahami informasi.

Setelah terus mengerjakan di waktu luang sisa tugas Bella akhirnya selesai dan dia pun mengejar Karmika yang berjalan hampir dekat gerbang sekolah.

"Mi, Karmika." Panggilnya membuat Karmika terhenti dengan teman lelaki disebelahnya yang ikut menoleh.

"Tugas aku, maaf lama."

"Oh." Karmika mengambil map biru nya tanpa berkata apapun dan menarik pria di sebelah kirinya untuk berjalan kembali meninggalkan Bella yang merasa lega telah menyelesaikan tugasnya.

'Wih cowonya cakeup ey, jadi pingin pacaran.'

***

Setelah kejadian itu Karmika selalu terlihat ingin menghindar saat pembagian kelompok dan Bella menyadarinya.

'Anjir si ieu gara-gara aku telat ngasih tugas jadi embung sekelompok lagi, keras amat orang hih.'

Bella merasa kesal namun tidak punya alasan untuk mengkonfortasi Karmika karena bagaimanapun itu hak nya.

Bagaikan jalan takdir walaupun sudah menghindar keduanya selalu dipertemukan disituasi yang janggal, misalnya seperti hati ini Bella sengaja pulang telat tanpa alasan yang jelas namun betapa terkejutnya dia menemukan Karmika yang sedang menangis di kelas, Bella pun melanjutkan pergi ke bangkunya yang berada di belakang mencoba tidak menghiraukan Karmika. Tetapi niatnya ingin langsung pulang diurungkan karena merasa tidak tega meninggalkan Karmika sendirian dengan suara tangis yang begitu terdengar sedih, Bella bisa merasakannya.

Sambil mencoret-coret menghitung pengeluaran uangnya dia menunggu Karmika mereda.

Karmika yang sudah tenang menoleh ke belakang dan berteriak karena kaget dengan Bella yang sedang menulis menundukan kepalanya, tentu Bella pun ikut teriak dan melihat ke belakangnya seperti Karmika bedanya refleksnya dia sambil mengangkat kursi mencoba melindungi dirinya entah dari apa.

"Anjing ih ada apa!" Kesal Bella tidak menemukan apapun di belakangnya."

"Kamu bego! Kaya hantu, lagian ngapain sih disitu."

"Lah ini bangku aing, kamu lah yang ngapain mewek-mewek."

"Bukan urusan kamu!"

"Yeuh tolol!" Bella merapihakan kantongnya dan bergegas pergi namun Karmika tarik.

"Jangan bilang ke yang lain."

"Jangan pede jadi orang, artis sia?" Jawab Bella ketus menghempaskan tangan Karmika yang menahannya lalu pergi.

***

Karmika merasa tidak nyaman karena merasa kelemahannya sudah diketahui jadi dia memperhatikan terus pergerakan Bella takutnya dia menyebarkan bahwa Karmika menangis.

'Anjing si ieu kenapa sih?' Bella merasa risih pergerakannya diperhatikan, asalnya dia mengira hanya perasaannya tapi beberapa kali mata mereka berdua saling bertemu dari situlah dia yakin dan memutuskan untuk mengajak Karmika berbicara sepulang sekolah.

Di kelas yang sepi setelah jam sekolah mereka berdua diam di bangkunya masing-masing, seperti beberapa hari lalu dimana Bella menemukan Karmika menangis.

"Woy." Teriak Bella.

Karmika mengacuhkannya tanpa menoleh ke belakang.

"Ada masalah apa sih!"

"Aku ngerasa gak ada masalah." Karmika mengernyitkan dahinya.

"Terus kenapa ngeliatin aing anjir!"

"Siapa tau ngebocorin rahasia aku."

"Nugelo, penting emang perihal orang nangis? Bukannya normal manusia bisa nangis, nangis rahasianya belah mana jir? Gimana sih gak paham anjing konsepnya."

"Gak usah paham."

"Kamu makin sini makin menyendiri anjir, bahkan itu temen kamu si Sarah-Sarah juga jadi gak bareng. Kenapa?"

"Bukan urusan kamu."

Jawaban ketus Karmika benar-benar membuatnya kesal jadi dia menggebrakan meja Karmika keras "Sia yang bilang jangan so sendiri kalau gak bisa tapi kamu sendiri yang sekarang keliatan lebih menyendiri di kelas, sadar gak sih? Nangis aja sendiri gak-"

"Gak usah so ngajarin kaya kamu punya temen aja."

"Punya!" Jawab Bella percaya diri padahal belum ada satu pun teman yang akrab setelah 2 bulan tinggal di Bandung.

"Intinya jangan ikut campur, makasih udah gak ngomong apa-apa perihal aku nangis." Jawaban Karmika tenang, membuat Bella diam untuk memperhatikan wajahnya sekejap mencoba membaca ekspresi teman sekelasnya yang ternyata sulit dia temukan jawabannya.

'Anjir ih kenapa sih ini orang.'

🌻


METANOIA (another story)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang