Kedekatan Bella dan Karmika nyatanya tidak membuat Bella membuka suara dimana hal itu membuat Rama tidak bisa tidur walau begitu Karmika selalu memberikan informasi terkait keseharian Bella agar Rama tidak begitu khawatir. Karmika tidak tahu cemasnya Rama tidak bisa diredakan begitu saja sebab Bella pernah mendadak bertanya pada Rama bagaimana jika hubungannya berakhir, Bella bertanya tiba-tiba yang membuat Rama cukup tegang untuk beberapa saat sebab hal itu mengingatan pada saat dirinya dan Bella yang berjauhan kembali ke kepalanya. Pertanyaan itu terlontar karena Bella pun tidak bisa bohong ancaman Roy memang membuatnya khawatir, dengan kecemasan itu Bella mencoba fokus memikirkan solusinya sampai dapat sendirian bukan karena ingin terlihat hebat tapi mengurus sendiri lebih baik untuk saat ini pikirnya.
"Sia jadi mata-mata aing ya?" Tebak Bella pada Karmika yang sibuk dengan ponselnya.
"Dih ngapain."
"Ngapain-ngapain itu bego belakang kamu kaca." Bella bisa melihat pantulan di ponsel Karmika yang sedang bertukar pesan dengan Rama.
"Bukan mata-mata anjir Rama khawatir, kamu juga ih olo-olo banget pake kaga cerita segala.Mau so nyelesein sendiri? Kalau iya jangan deh dunia ini tokoh utamanya gak akan selalu kita yang berarti bisa aja kamu celaka otw mampus."
"Anjir emang Karmika paling bisa ngomong sadis."
"FYI aja ini mah."
"Aku bakal cerita tapi maneh jangan heboh."
"Iya sok apa?" Karmika merebahkan tubuhnya tiduran di kamar Bella menunjukan bahwa dia akan mendengarkan dengan santai tanpa harus heboh seperti tuduhan temannya.
"Aku pernah ketemu........ Roy."
Karmika bangun lalu berdiri "Anjir si orgil Roy yang jahatin Rama!?"
"Kan." Bella sudah menduga Karmika yang terlihat bisa mengatasi masalah ini nyatanya selalu panik berlebihan.
"Ayo sekarang let's go kita tumbuk orangnya." Ajak Karmika semangat.
"Diem dulu anjir aku udah ada strategi."
"Apa? Strategi apa?"
"Gak akan aku kasih tau kamu, ini aja geus heboh intinya aku aman kamu jangan bilang ke Rama."
"Gak mau anjir! Kita harus pake bantuan laki-laki."
"Udah, aku udah plan. Kamu santai aja, doain dan kalau bisa minta tolong papah kamu buat bantu kasusnya soalnya aku bakal endingin pertaian disekitar aku dan Rama ini."
***
Sebelum sampai lantai paling atas Bella menarik napas beberapa kali bersiap-siap untuk bertemu Roy, dia mencoba untuk tenang seperti Rama walau tangannya beberapa kali mengepal ingin menyelesaikan dengan kekerasan dan menyerang secara membabi buta.
Hari ini masih di gedung yang sama dimana pertemuan Bella pertama kalinya dengan Roy, dia berjalan sendiri seperti biasanya dengan langkah penuh percaya diri dan tidak terlihat terintimidasi sedikit pun.
Kunci melawan musuh adalah terlihat percaya diri, sisanya biarkan semesta bekerja setelah kita berusaha.
"Wes gak kaka gak adik bawa antek-antek di belakangnya, kenapa sih gak percaya diri sama kemampuan sendiri?"
"Bacot, jadi gimana pilihan lo? Pake acara nyuruh gue kesini lagi." Keluh Roy menggulungkan baju lengan panjangnya dan duduk si sofa tua.
"Kaka lo juga nyuruh gue kesini ya bangsat mana gak diganti ongkos ojek nya, ya gantian lah."
Roy tertawa dan memuji Bella "Lucu juga lo."
"Awas suka, nanti lo sama kaka lo ribut yang ribet gue." Bella duduk di kursi plastik yang berhadapan dengan Roy.
KAMU SEDANG MEMBACA
METANOIA (another story)
RomanceKisah romansa huru-hara remaja milenial di kampus Regulus yang diawali dengan perkenalan antara seorang Bella Tanaya yang menyandang tittle yakuza dengan Christian Bramantya yang memiliki imej malaikat yang baik, menariknya pribadi yang bertolak bel...
