23. Insiden

131 11 4
                                        

Menunggu kelas selanjutnya yang memiliki jarak nanggung ini sudah biasa dirasakan beberapa mahasiswa biasanya karena dosen yang tidak hadir atau jadwal yang tiba-tiba berubah, hal itu membuat beberapa orang dilema sebab jika pulang ke rumah biasanya terlalu jauh dan menguras tenaga tapi menunggu di kampus pun rasanya terlalu lama. 

Yang dilakukan Rama dan teman-temannya saat seperti itu biasanya menumpang bermalas-malasan di unit apartemen Rama atau kantin namun kali ini mereka memilih untuk menunggu di kantin sembari membeli makanan ringan untuk menemani Sawal dan Sebastian yang lagi-lagi bersemangat menceritakan pengalamannya bermain bersama Bella.

"Sumpah ya bang waktu Bella ngomong si bapak nya langsung diem hahaha." Beberapa orang di meja itu terlihat terhibur tapi tidak dengan Gilang yang datar sembari memakan snack di hadapannya, sedikit Rama mengerutkan dahinya karena dia beberapa kali mendapati Gilang sedang berjalan dengan Bella berdua.

"Gue kan biasanya kalau urusan kecil kaya aga malas ya ngebela gitu soalnya gak worth dan malas bagian ributnya tapi Bella ini wihh maju terus." Balas Sebastian menambah saksi dari narasi Sawal, sisanya yang ada di meja hanya diam menikmati kisah tingkah Bella Tanaya yang diceritakan kedua temannya yang penuh rasa kagum sementara Rama mulai semakin kesal. Rama yang tidak berminat mengetahui lebih tentang Bella merasa semakin muak mendengarkan cerita yang terus terdengar oleh telinganya beberapa minggu ini.

"Wal jadi gak?" Rama memotong obrolan temannya.

"Eh lo duluan aja nanti gue nyusul."

Rama berdecak kesal, temannya ini lebih memilih menjadi pendongeng padahal Sawal yang mengajaknya untuk pergi ke kos Rizki namun rencananya berubah jadi hanya Rama seorang.

"Gue duluan ya." Pamit Rama meninggalkan meja kumpulan anak Blasteran Malaikat yang beberapa hari ini terhibur mendengarkan kisah komedi dari 2 temannya itu.

Rama mengenal Rizki Pratama atau dikenal dengan Kiki ini dari Sawal karena mereka teman satu kelas, kos yang jaraknya dekat kampus itu sering kali dipakai istirahat sejenak oleh Sawal atau Rama ditambah ada sebuah warteg yang menyediakan makanan rumahan nikmat jadi posisi kos Kiki cukup strategis.

"Eh Sawal mana bro?" Tanya Kiki melihat Rama masuk seorang diri ke kamarnya.

"Lagi sibuk stand up komedi."

"Kampret, gue sekelompok tugas sama si eta malah dia yang teu datang."

"Nanti gue bantu tapi ki sorry gue mau nebeng mandi boleh gak sih? Badan gue gak enak lengket."

"Boleh, cuma kamar mandinya di luar. Bisa emang tuan Rama?"

"Apa sih bedanya emang? Kamar mandi ya gitu-gitu aja kan."

"Cara kuncinya make paku."

"Hah?"

"Nanti gera gue ditunjukin." Ucap Kiki sedikit tertawa melihat Rama yang tidak tahu.

***

Sambil menggosok tubuhnya dengan sabun Rama memperhatikan sekitar karena menurutnya kamar mandi Kiki cukup seram bahkan atapnya saja sedikit bolong di samping yang Rama khawatirkan ada orang yang melihatnya, selama ini Rama tidak pernah menumpang ke kamar mandi Kiki jadi ini pengalaman pertamanya. Lantai kamar mandinya juga sedikit kotor di setiap sudut ruangan entah tanah dari mana tapi yang jelas keadaan kos Kiki ini cukup aneh bagi Rama untungnya Kiki memberikan sandal agar Rama merasa nyaman namun tiba-tiba Rama yang sedang membasuh tubuhnya itu dikagetkan dengan seseorang yang membuka pintu kamar mandi dengan kasar, bukannya buru-buru ditutup atau melakukan sesuatu tapi keduanya berdiri diam shock entah si pembuka pintu atau Rama yang memegang gayung sambil diam mematung dengan air yang terus membasahi tubuhnya.

Ternyata yang seharusnya Rama khawatirkan bukan lubang kecil di atap kamar mandi tapi pintu yang hanya dihalangi oleh paku berkarat.

🌻

METANOIA (another story)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang