Pelukan hangat dari Bella rasanya membuat Rama semakin tenang, dirinya ikut membalas dengan melingkarkan tangannya di pinggang si wanita. Terus-menerus mengucapkan maaf yang Bella tidak balas ucapannya membiarkan keheningan menenangkan hingga napas si pria teratur.
"Ke dapur dulu yu minum? Suara kamu serak." Ajak Bella langsung menarik tangan Rama tanpa menunggu izin si pria.
Rama menunduk pasrah ditarik si wanita ke arah dapur, menyuruh Rama duduk di salah satu kursi sementara dirinya membuatkan teh hangat.
Baru setelah itu isi kepala Rama rasanya semakin riuh antara pikiran tentang masalahnya dan rasa bersalah, juga malu terah memperlihatkan sisi dirinya yang lemah,
lemah dalam mengontrol emosi.
Sembari menikmati teh hangat tangannya Bella sentuh, dia bolak-balikan mengecek apakah ada luka disana namun ternyata hanya goresan kecil yang mungkin terkena lembaran buku atau barang-barang yang hancur, Bella hanya membersihkannya dengan air untuk luka yang ringan.
"Mau makan?" Tanya Bella setelah Rama bingung harus melakukan apa saat teh hangatnya abis.
"Engga, makasih."
"Malam ini tidur di sini aja ya?" Bella sepertinya khawatir setelah melihat kamar Rama yang kacau mengartikan mentalnya pun jelas tidak baik-baik saja yang artinya dia tidak mengizinkan seseorang di level seperti ini menyetir sendiri.
"Aku di sofa aja." Rama menunjuk ruang tengahnya.
"Okay, kalau ada apa-apa ketuk aja." Rama mengangguk saat Bella mulai menjauh meninggalkan dirinya namun langkahnya terhenti saat si pria memanggil.
"Bel." Panggil Rama ragu namun Bella membalikan tubuhnya menunggu Rama mengatakan yang ingin dibicarakan.
"Kamu gak mau nanya aku kenapa?"
"Engga, aku tidur ya." Balas Bella masuk ke kamar tamu.
'Fuck Rama memalukan.' Rama mengusap wajahnya kasar mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
Entah berapa lama Rama menyalahkan diri sendiri, dari kamar Bella yang lampunya menyala hingga gelap dan hening si pria masih duduk di kursi yang sama dengan segala penyesalan telah memperlihatkan dirinya yang sedang kacau namun lamunannya dikagetkan oleh Bella yang membuka kembali pintu kamar dengan membawa bantal dan selimut.
"Aku kan bilang ak-"
"Iya kamu di sofa, aku dibawahnya. Mau nonton aku." Bella menuju ruang tamu namun langkahnya dihadang Rama.
Rama buru-buru membawa kasur lipat agar Bella tidak kedinginan walau tidur di bawah. Setelah menata tempat tidur untuk Bella dia masuk kembali ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian, takut Bella nya tidak nyaman dengan Rama yang belum mandi mengingat Bella akan cukup lama di ruang tamu.
***
Bella yang duduk di bawah bersandar pada sofa menyadari bahwa seseorang yang berbaring di atas sana melihatnya terus "Jangan liat-liat aku juga bisa salting tau." Tegur Bella membuat Rama pura-pura memainkan jarinya lalu melihat ke arah televisi seolah ada hal menarik.
"Kamu tidurnya pake lampu dinyalain atau dimatiin?" Tanya Bella.
"Mati tapi gak ap-" Belum selesai Rama berbicara Bella sudah mematikan lampu ruang tamu sehingga cahaya hanya ada dari layar televisi.
"Bobo gih." Bella menyuruh Rama yang langsung dituruti dengan membalikan tubuhnya ke arah berlawanan karena Rama lebih suka gelap saat tidur.
Sebenarnya Bella jadi merasa sedikit takut dengan Rama yang bisa sesangar itu merusak semua yang ada tapi Karmika tidak pernah bercerita buruk tentang teman dekatnya berarti tidak ada yang perlu Bella khawatirkan.
Berjam-jam keduanya di posisi yang sama, Rama terlihat sudah membalikan tubuhnya mengarah pada sandaran kursi sedangkan Bella masih menonton hingga dirinya menguap tanda bahwa sudah lelah dan mengantuk, dia menengok ke belakang untuk memeriksa sang tuan rumah yang tertidur lelap.
Bella beranjak dari duduknya untuk membenarkan posisi selimut lalu diam beberapa menit hanya untuk memandangi Rama yang terlihat nyaman dengan posisi tidurnya seperti jeruk melengkung.
"Hahaha nyungseb gitu wajahnya." Bella kemudian menutup mulutnya sadar suaranya cukup kencang lalu tangannya bergerak dengan sendiri mengusap rambut si pria yang ternyata sangat lembut.
"Semoga mimpi indah, kalau ada masalah cerita sama Sawal sama Karmika ya, jangan sedih sendiri." Bella mendekatkan wajahnya ingin sekali mencium tapi dia urungkan sembari menampar dirinya sendiri.
'Bangsat mau pelecehan gera si aku, amatir anjir Bella kaya gak pernah liat cowo ganteng bego begooo!' Bella buru-buru berbaring disebelah sofa tidur dengan selimut ditarik hingga wajahnya sembari menendang-nendang ke langit karena malu sendiri.
Di sisi lain Rama belum sepenuhnya tidur dan dia menebak-nebak apa yang baru saja terjadi karena usapan dikepalanya terhenti digantikan napas panas yang terasa dekat wajahnya, benar-benar membuatnya kepikiran.
'Anjing kenapa lo nebak-nebak ma astaga! Tidur cepet!' Rama kesal dengan imajinasinya sendiri.
Ternyata benar satu atap itu kadang bukan hal yang baik, contohnya mereka berdua :
yang katanya paling mahir menahan diri,
yang katanya memiliki pengalaman yang cukup banyak tapi
saat disatukan dengan perasaan asing ini jadinya malah salah tingkah seharian berujung kurang tidur dengan mata panda di esok hari.
🌻
KAMU SEDANG MEMBACA
METANOIA (another story)
RomanceKisah romansa huru-hara remaja milenial di kampus Regulus yang diawali dengan perkenalan antara seorang Bella Tanaya yang menyandang tittle yakuza dengan Christian Bramantya yang memiliki imej malaikat yang baik, menariknya pribadi yang bertolak bel...
