63. Terbuka

142 11 1
                                        

Setelah sempat berbincang perihal tembok yang menghalangi mereka, secara tidak sadar kekhawatiran akan masa depan untuk bersama itu menjadi muncul setiap sebelum tidur. Bagaimanapun kebahagiaan Rama dan Bella hari ini benar-benar sementara, dan mereka tahu itu, jalan yang akan mereka tempuh mungkin akan sulit ke depannya atau sangat sulit karena pada dasarnya hal ini dilarang namun mereka ingin mencoba dengan kekuatan masing-masing untuk menghadapi sampai titik terlelahnya dalam tingkat berusaha keras sebagai manusia gigih yang memiliki keinginan, mereka tetap membuka peluang jalan yang tidak pasti itu.

"Apa yah akunya diliatin terus?" Tanya Rama tersipu sambil meminum kopi di hadapannya yang membuat Bella lepas dari lamunannya dan menanggapi kekasihnya yang malu-malu sendiri.

"Ganteng deh pacarku hari ini pake kemeja hitam rambut blonde, duh ide siapa sih ini?"

"My baby."

"Ih gemesnya." Bella mendekat mencubit kedua pipi Rama yang menjadi tontonan orang sekitar.

"Ih bel diliatin orang."

Bella berbisik kepada Rama "Biarin, kita buat mereka iri yu." lalu keduanya pun tertawa sambil mencicipi makanan ringan di hadapannya.

Cafe dengan nuansa simple, modern, namun dekat dengan alam ini menjadi pilihan Rama setelah keduanya mengunjungi bioskop sedangkan Bella dia hanya tinggal mengikuti semua plan yang Rama buat setiap keduanya kencan.

"Enak by cake nya?"

"Enak, ini dikit lagi abis."

"Udah ini mau makan apa lagi?"

"Perut aku meledak terus kamu jejel mah ma, aku ke kamar mandi dulu ya." Rama mengangguk mengizinkan kekasihnya.

Ponsel yang Bella tinggal layarnya beberapa kali menyala menandakan pesan masuk, Rama mengabaikan hal itu sebab itu privasi kekasihnya namun nama kontak yang tertera membuat dirinya tidak bisa lepas dari layar yang menyala..
tertera nama Joseph yang Rama tahu bahwa dia mantan kekasih Bella.

Selain Joseph ada nama beberapa laki-laki yang pesannya tak Bella buka dan nama temannya Sawal yang dia percayai tapi fokusnya tentu pada Joseph yang memiliki sejarah romansa bersama Bella.

'Ngapain dia chat mulu sih?'

Rasa kesal dan tidak sabarnya membuat Rama mengabaikan privasi yang dia jaga dengan membuka pesan juga membalasnya satu per satu menggantikan Bella.

Joseph mengenali gaya dari pesan singkat Bella sehingga dia langsung sadar yang membalasnya bukan Bella dan Rama pun tidak ada niatan mengelak, dia sudah mengenalkan diri sebelum Joseph menebak.

Rasa cemburu tiba-tiba menyeruak membaca beberapa pesan saat Joseph menjelaskan hubungannya dengan Bella yang masih sama seperti teman akrab, mereka pun putus bukan karena masalah besar melainkan Joseph yang sibuk untuk fokus menjadi atlit, dan hal itu agaknya menganggu bagi Rama. 

Kemarahan seketika menguasai dirinya sampai-sampai seorang Rama yang dikenal sabar ini memancing emosi Joseph mengungkit tentang masa lalu mereka yang rupanya Joseph tidak begitu ingat, hal itu memberikan dampak yang campur aduk bagi Rama sampai dirinya melamun dengan pesan dari Joseph yang hanya dibaca saja.

Saat Bella kembali ponselnya sudah ada di tangan Rama dengan ruang obrolan terbuka yang dimana Joseph terus mengirim pesan yang Rama abaikan karena dia melamun.

"Hey kamu kenapa?" Tegur Bella membuat Rama sadar lalu panik.

"By maaf i-ini Rama buka soalnya.. soalnya pokonya Rama gak sopan maaf." Ada genangan air di mata Rama yang membuat Bella ikut panik dan berpindah duduk di sebelah kekasihnya.

"Ih ayang kenapa hmm? Joseph ngomong apa sini liat." Bella mengambil ponselnya dan hendak membaca tapi Rama bersandar pada bahu Bella sehingga dia mengurungkan niatnya untuk memeriksa dan fokus terhadap Rama dahulu.

"Sayang mau pulang hmm? Biar enak kalau mau nangis atau apapun, kalo disini nanti ada yang kepo atau videoin ih nanti kita viral."

Rama masih tidak bergerak jadi Bella mengelus rambutnya yang halus bagai rambut bayi itu "Yu sayang, aku temenin, aku nginep."

"Bener ya?" Suaranya agak serak mungkin karena menahan rasa sedih yang harusnya keluar semua lewat tangis.

"Yu sayang aku temenin." Bella menangkup wajah Rama lalu menghapus sedikit tetes air mata yang terlanjur keluar "Di mobil deh boleh nangisnya. Jangan salah paham ya ini mah, kamu boleh banget ma lemah tapi di hadapan aku aja jangan depan orang banyak nanti orang lain judge aku gak suka berakhir baku hantam sama mereka."

"Heem ayo pulang." Ucap Rama setuju.

***

"Jadi kenapa Rama sedih?" Tanya Bella memegang kedua tangan kekasihnya yang menunduk, tidak menangis karena sepertinya ia tahan tapi hidung dan telinganya merah dengan mata yang bergenang air yang belum sempat turun, jelas Bella tau hal ini pasti serius dengan tampang Rama yang terlihat rapuh untuk pertama kalinya.

"Rama boleh cerita boleh engga kok, aku gak maksa. Mau sekarang bobo-boboan aja juga ayo aku mah."

"Bella kalau tau ceritanya kayanya bakal jiji sama Rama."

"Mana mungkin, emang Rama kriminal?" Rama yang ditanya dengan suara lembut mengangguk dengan bibir menekuk ke bawah membuat Bella sedikit takut untuk mengetahui kenyataannya.

"Iya kaya kriminal, Rama bukan orang baik."

"Rama banyak kurangnya."

"Bella mungkin bakal beda sama Rama setelah tau hal ini."


🌻



METANOIA (another story)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang