81. Langkah baik

73 5 0
                                        

Setelah keduanya tahu tujuan dari perjalanan kisah cintanya adalah kebersamaan mutlak di akhir, tercipta lah hubungan yang lebih sehat dari sebelumnya antara Rama dan Bella karena sama-sama meyakini apapun yang terjadi mereka akan kembali ke rumahnya, tempat ternyaman yang mereka pilih setelah lika-liku masalah yang mereka hadapi selama ini. 

Namun kekuatan kepercayaan ini nyatanya terguncang oleh rasa cemburu yang hinggap tanpa permisi, hal itu dirasakan oleh Rama pada temannya Sawal. Sebuah perasaan yang rasanya tidak perlu tapi Rama merasa terganggu terlebih kedekatan Sawal dengan kekasihnya semakin terlihat semenjak dia menitipkan Bella di rumah sakit, sebelum itu pun Bella sering menghabiskan waktu dengan Sawal sampai datang ke lokasi kerja sahabatnya atas dasar balas budi kepada Sawal yang telah menjaga Rama katanya.

Sebagai sesama laki-laki Rama merasakan radar bahaya di mana dia harus menjaga wanitanya tapi untuk memberitahukan perasaannya ini dia tidak memiliki banyak bukti untuk ditunjukan pada Bella, Rama tidak bisa dengan seenaknya menyuruh kekasihnya memberikan jarak jika alasannya tidak valid terlebih hubungannya saat ini sedang sangat baik. Rama tidak mau menjadi tokoh tidak masuk akal yang tantrum atas dasar alasan yang tidak jelas.

Kegelisahannya semakin terguncang kala dirinya harus datang ke sebuah acara keluarga di luar kota membiarkan Bella sendirian, dimana kemungkinan besar kekasihnya akan bertemu dengan Sawal karena memang beberapa temannya dengan Bella sangat akrab, circle pertemanan antara Bella dan dirinya memang di situ-situ juga yang seharusnya menjadi penjamin rasa aman tapi sekarang tidak. Rama gelisah.

"By ikut aja yu sama aku."

"Haroream ih ma, lagian naon coba aku ikut wae ke acara-acara keluarga kamu. Udah kamu aja."

"Atuh by, temenin ayo."

"Kan aku mah aya kelas kamu mah kosong. Bagus emang ngajak bolos?" Sekarang keadaan berbalik Rama yang biasa menasehati Bella tentang apa-apa saja yang harus diprioritaskan mendadak ingin kekasihnya tidak mementingkan perkuliahan, perubahan Bella ke arah yang baik ini ternyata merugikan dirinya saat ini membuatnya pusing bukan main. 

"Gak sayang ini mah." Gumam Rama yang jelas terdengar oleh Bella.

Bella buru-buru memangku wajah Rama gemas "Sok sok ngomongnya ngarang gitu mah bakal aku hap pitonnya gak kasih ampun." Bella mencubit pipi Rama di akhir kalimatnya.

Rama menunjukan wajah cemberutnya yang Bella dekati dengan mengecup beberapa kali bibirnya sambil meledek sang kekasih yang manja "Akhir-akhir ini nempel mulu si ganteng, kenapa coba cik jelasin?"

Rama tentu tidak memberitahukan perasaannya, dia menghindari dengan menarik Bella ke dalam pelukannya "Mau sama Bella ih ayo ikut."

"Gak mau ah." Bella walau pun sudah masuk di fase tergila-gila kepada Rama tapi ada saat-saatnya dia selalu berani menolak saat memang dirinya tidak ingin, ketegasan itu memang sudah ada dari awal hubungan mereka lahir yang merupakan salah satu pesona yang Rama sukai darinya.

"Ya udah. Tapi Rama pergi kamu gak boleh deket sama cowo-cowo, gak boleh main jauh-jauh pas gak ada Ramanya."

"Apa sih? Main jeung cowo saha? Paling si ka Jian, ka Fang, Sawal gak ada cowo lain semenjak kita pacaran ih gemes deh pake acara larang-larang budak teh."

'Justru cowo yang kamu sebutin by yang buat aku pusing saat ini.'

"Kamu riweh banget seolah aku bakal gimana-gimana, Rama gak percaya sama aku?" Tanya Bella serius atas reaksi Rama yang khawatir berlebih ini.

"Percaya baby tapi-"

"Ya udah jep kalo percaya. Aku bisa jaga diri, fisik, hati semua bisa."

"Bener ya?"

METANOIA (another story)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang