"Beneran kepalang cinta itu temen kita." Sebastian menyenggol lengan Sawal.
"Gue juga kaga tau seorang Rama bakal se-into itu dalam percintaan, sama Bella pula."
"Emang kenapa kalau Bella?" Tanya Sebastian.
"Ya gitu kan ugal-ugalan anjir si Bella, tipe-tipe anarkis."
"Well, susah kalau urusan cinta."
"Kaya paham aja bang elah."
"Gue mau kenal cinta tapi kayanya cinta yang gak mau kenal gue, geli gak sih wal omongan gue?"
"Gue hampir mau nonjok lo bang."
Kegiatan berbisik-bisik di sebuah club malam ini menjadi pemandangan indah bagi beberapa wanita yang melewati meja mereka sebab keakraban Sebastian si pria kaya raya dan Sawal sosok selebgram yang tampan adalah perpaduan yang luar biasa setiap tertangkap kamera bersama, tentu teman yang lain pun menjadi pembicaraan hangat namun Sebastian dan Sawal adalah pemegang tranding topik dimana pun mereka hadir.
"Ke floor yu jangan buat suasan jelek di tempat seneng-seneng." Ajak Jian memaksa Rama yang dikerumuni awan mendung.
Gemerlap lampu dengan alkohol yang sudah mengalir di tubuh Rama nyatanya tidak membuat dirinya terhibur sedikit pun, cairan yang panas melewati tenggorokan tidak dapat menghangatkan tubuhnya juga apalagi hatinya yang sudah sejak tadi pagi terasa dingin. Begitu dingin saat mendengarkan nada bicara Bella yang tidak sama lagi.
Rama yang tidak menikmati musik yang diputar memutuskan untuk pergi dari sana namun sosok yang dia kenal menghentikan langkahnya tiba-tiba. Rambut panjang diikat kuda dengan jam tangan di tangan kirinya.
"Bella?" Rama menggosok matanya agar penglihatannya jelas dan benar saja itu kekasihnya yang terlihat sedang bekerja sebagai pelayan.
Sepersekian detik Rama mengira ini semua efek alkohol tapi semakin langkahnya menuju lebih dekat dia yakin bukan hanya mirip tapi wanita itu adalah Bella.
Rama yang sempat ingin menghampiri mengurungkan niatnya dan memilih kembali menuju meja dimana teman-temannya duduk.
Sebastian yang berniat turun ke lantai 1 tercegat oleh Rama yang menariknya ke pojokan untuk berbicara.
"Gue mau book vip room cuma buat gue sendiri dan gue pingin pelayan yang datang cuma Bella."
"Hah apaan ma? Bella kerja di sini?" Sebastian terkejut melirik kanan dan kiri mencari sosok Bella.
"Club ini tempat temen lo si Jerry kan bang? Tolongin gue."
***
Bella menghembuskan napasnya saat atasannya Jerry yang memintanya langsung untuk mengurus tamu di ruang vip no. 3, saat ada permintaan seperti ini tentu dia menjadi waspada karena seharusnya pelayan siapun itu tidak mempengaruhi makanan dan minuman yang diantarkan tapi meminta dia personal untuk mengantar patut dicurigai. Bella sudah tahu bekerja di club malam memiliki resiko yang berbahaya untuk perempuan tapi memang ini yang termudah untuk cepat diterima dan bekerja.
Anggap saja pergaulan Bella pun tidak baik tapi bukan berarti dia merasa tenang di tempat seperti ini apalagi dia datang dengan niat bekerja bukan untuk menjual diri yang artinya pegawai tidak memiliki power, dia juga tidak bisa seenaknya menggunakan fisik untuk melawan jika terjadi sesuatu.
Bella mengeratkan tangannya di kenop pintu berharap tamu di dalam bukanlah bapak-bapak mesum yang kurang ajar, sempat beberapa detik dia diam di tempat sampai akhirnya dia mengetuk pintu beberapa kali dan memberanikan masuk.
'Bajingan!'
Entah kenapa rasanya malu, Bella malu dengan seragam pelayan yang dia pakai sambil bertatapan dengan mantan kekasihnya yang kini duduk di tengah sofa dengan tatapan lurus padanya.
Bella menelan ludah lalu menunduk fokus menghidangkan pesanan Rama di meja, sementara tatapan Rama terus tertuju padanya tanpa terputus.
Rama sudah tau sebelum mereka kenal, Bella terlihat bekerja di beberapa tempat sebagai pelayan dan kasir namun tidak di tempat hiburan malam dan itu membuatnya kesal karena rasa khawatir untuk kekasihnya bertambah apalagi rok yang dipakai cukup pendek dan bisa saja ada orang yang kurang ajar melakukan hal gila untuk menyingkapnya.
"Kenapa kerja di tempat ini?" Tanya Rama yang tidak mendapatkan jawaban
"Aku punya kenalan pemilik cafe." Ucap Rama yang Bella pahami maksudnya.
"Aku udah tanya Jerry, kamu kerja disini cuma sebulan tapi aku minta dia biarin kamu kerja seminggu aja dan selama itu aku bakal pesan ruangan ini lagi dengan ditemenin kamu." Bella yang mendengar mengeratkan giginya tanpa membalas ucapan Rama.
"Kalau butuh uang bilang aku, jangan ke tempat kaya gini bahaya." Masih tidak ada respon.
"Berhenti jadi orang so peduli sama aku." Balas Bella tanpa menoleh pada pria di hadapannya.
"Aku jelas peduli sama kamu, kalau kamu ngira karena aku marah berlebihan sama dengan gak peduli, itu artinya kamu salah mengartikan. Aku sayang sama kamu bel, kalau engga aku gak akan ngejar kamu begini padahal tau kelakuan kamu selalu aja kasar sampai berani ngerusak kosan. Setelah semua keributan juga aku stay kan? Aku sayang beneran paham gak sih kamu!"
"Dengan kamu ngebela cowo si Atma aku anggap kamu gak pedu-"
"YA EMANG DIA LAKUIN APA BELLA SAMPAI HARUS KAMU PUKULIN?"
"DIA LECEHIN AKU! Dia ngajak aku tidur di belakang kamu, dia ganggu aku di dm pake banyak akun, akhirnya dia remes pantat aku di kampus terus aku gak boleh pake kekerasan harus pasrah digituin? Anjing emang kamu!" Bella meledak dengan melemparkan gelas yang membuat Rama terdiam untuk memproses informasi yang baru saja dia dapatkan.
"Bel-"
"Aku mau kerja dengan tenang, jangan ganggu aku lagi kedepannya. Aku sibuk dan kita udah selesai."
"Bel bel tunggu." Rama panik menghentikan Bella yang hendak pergi dari ruangannya.
Bella menghempaskan genggaman Rama "Jangan sentuh aku." Giginya dirapatkan menahan amarah begitu juga tekanan dalam suaranya saat berkata, mata yang merah menatap mata Rama begitu nyalang dan Rama bisa rasakan kebencian Bella terhadap dirinya. Seketika Rama menjadi lemah dengan perasaan bersalah, tangan yang menahan menjadi melonggar dia biarkan Bella keluar karena merasa tidak berhak menahannya.
"ANJING ANJING TOLOL RAMA TOLOL!" Ucapnya berteriak merusak semua hidangan yang ada di meja, pintu yang belum sepenuhnya tertutup membuat Bella mendengarkan semua makian yang Rama lontarkan untuk dirinya sendiri namun dia tetap memilih melangkah meninggalkan Rama yang kacau.
🌻
KAMU SEDANG MEMBACA
METANOIA (another story)
CintaKisah romansa huru-hara remaja milenial di kampus Regulus yang diawali dengan perkenalan antara seorang Bella Tanaya yang menyandang tittle yakuza dengan Christian Bramantya yang memiliki imej malaikat yang baik, menariknya pribadi yang bertolak bel...
