Ada sebuah pertanyaan yang Bella belum ajukan sebetulnya, tentang amarah Rama yang berlebihan terhadap Attar. Bella tahu tidak ada kekasih yang rela wanitanya dilecehkan namun dia juga tidak menyangka Attar sampai luka parah seperti korban yang sudah dikeroyok warga karena maling. Lamunannya buyar ketika kekasih tampannya itu bertanya hal yang di luar prediksinya.
"Kapan ya bel aku bisa ketemu orang tua kamu? Maksudnya kamu ada rencana mau kenalin aku gak?"
"Hah? Gimana?"
"Iya kenalan aku sama orang tua kamu."
"Buat?"
"Ya biar orang tua kamu tenang aja, anaknya walau rantau jauh ada aku yang jagain gitu bukan ngomong serius atau apapun." Rama menjelaskan rinci tidak ingin Bella salah paham dengan maksudnya.
"O-oh."
Kegugupan terpancar pertama kalinya dan Rama penasaran akan hal itu jadi dia menanyakan lagi "Kamu gak pernah kepikir buat kenalin orang tua kamu ke aku ya? Belum nyaman?"
"Orang tua aku kan di kampung."
"Ya terus? Kan mungkin suka ada mereka mampir atau kamu pulang ke sana."
"Bapak ku guru pesantren ma."
Hening, keduanya tidak berbicara apapun bahkan beberapa detik seperti tidak bernapas.
Bella buru-buru menjelaskan "Aku nyaman sama kamu, aku ngerasa kalau ada kamu aku makin aman tapi problemnya bapak ku ini cukup keras aku bahkan ke Bandung gak direstui ma, cuma ibu yang dukung. Aku yang tau watak bapak ku gak tega rasanya nyurungin kamu ketemu dia. Niat baik kamu nanti ke tutup sama pertanyaan kenapa kita punya hubungan padahal beda, aku aware kok kita beda cuma aku jalanin juga serius sambil ngeraba siapa tau ada jalannya."
"Baru kali ini aku liat kamu panik." Rama mengelus kepala Bella "Okay pelan-pelan aja ya, maaf pertanyaannya buat kamu gak nyaman. Aku sama kaya kamu aku aware sama penghalang kita tapi bukan berarti pas jalanin ini gak serius dan coba-coba, apalagi kemarin-kemarin aku udah ngerasain kamu jauh dari aku. Aku gak bisa jauh-jauh dari kamu by ternyata dan kaya yang aku bilang aku kenalan ke orangtua kamu bukan niat yang gimana-gimana cuma mau mereka tau tapi kayanya nanti aja ya hehe." Rama menundukan kepalanya sambil mengusap tengkuknya canggung mendadak.
"Aku bakal di pihak kamu kok kalau suatu hari jalan kita ribet, apalagi bapak aku galak." Bella mengelus rambut Rama yang masih menunduk.
Kini giliran Rama yang ingin menenangkan Bella "Aku mau nanggung segala resikonya, kamu gak usah lingdungin aku."
"Ngomongnya kaya caleg pake janji-janji." Bella menanggapi dengan Tawa.
"Not for me by, aku serius. Tadinya aku gak mau bilang soalnya kaya membebani kamu tapi biar kamu kebayang ya sekarang. Sebenernya begitu kamu kasih kesempatan buat aku, disitu aku mikir mau serius sama kamu. Tapi boleh tunggu aku buat cari jalan yang aku yakini? Keyakinan bukan hal mudah by buat aku yang keluarganya dari beragam kepercayaan, makanya aku dari dulu belum netapin sampai sekarang."
"Iya mau, aku mau nunggu kamu ma. Kalau endingnya sama okay kalau engga juga ya udah aku gak mau ikut campur tugas kamu dalam ibadahnya."
"Maaf kamu harus nunggu."
"Jangan ngerasa bersalah wajahnya ah, aku tau kamu gak main-main dengan kamu punya pikiran mau serius. Aku malah gak pernah mikir kesana, aku yang jahat dipikir-pikir. Bukan karena gak percaya sama kamu tapi kaya berat aja buat kepala aku hehe.."
"Dulu aku pasti ngambek kalau tau kamu gak mikir jauh tapi sekarang kamu suka aku dengan serius udah cukup, aku percaya kamu. Aku percaya sama kita, agak geli tapi kamu juga ngerasain kan sayangnya kita kaya makin kuat."
"Manis banget obrolan kita kalau serius ya." Bella tersenyum lebar menunjukan jajaran gigi yang rapih.
"Selalu manis kok kamu aja buat genre hubungan kita jadi dewasa."
"Ya abisnya pacar aku wow banget."
"Wow gimana?" Tanya Rama sambil menyimpan tangannya untuk menahan dagu sambil siap mendengarkan jawaban kekasihnya.
"Luarnya aku suka cakep, manis, lucu." Bella menyentuh pipi Rama dengan telunjuk "Bibirnya enak." Jarinya turun mengusap bibir bawah Rama "Sifatnya baik, penolong dan pitonnya kesukaan aku mantep. Jangan senyum-senyum cipok dulu sini." Bella memajukan bibirnya yang Rama halangi oleh tangannya sambil tertawa merasa gemas atas tingkah kekasihnya yang bisa manis dan juga nakal.
"Mandi gih kamu dari tadi udah makan malah males-malesan."
"Mandiin sayang."
"Ngaco hahaha." Rama menggelengkan kepalanya padahal si wanita berbicara serius tanpa ada niat bercanda sedikit pun.
🌻
KAMU SEDANG MEMBACA
METANOIA (another story)
RomantikKisah romansa huru-hara remaja milenial di kampus Regulus yang diawali dengan perkenalan antara seorang Bella Tanaya yang menyandang tittle yakuza dengan Christian Bramantya yang memiliki imej malaikat yang baik, menariknya pribadi yang bertolak bel...
