36. Prasangka

154 14 3
                                        

Beberapa kali teman-teman Rama ingin berkunjung untuk sekedar bermalas-malasan atau menumpang tidur yang Rama tolak karena tidak ingin Bella tidak nyaman dengan kehadiran segerombolan laki-laki jadi akhirnya Rama menjelaskan alasannya dibalik penolakannya itu.

Setelah Rama memberitahukan bahwa Bella sementara tinggal di tempatnya, respon yang terjadi adalah hening beberapa detik sebab semua temannya tau bagaimana dia tidak ingin berurusan dengan seorang Bella, jadi kabar seperti ini tentu mengagetkan tapi kemudian Jian tidak melewatkan kesempatan ini untuk mengejek Rama dan menuduhnya ada sebuah hubungan diikuti oleh Devon yang merasa heran atas kombinasi dua orang yang tidak pernah menyangka akan satu atap. Sementara yang lain mulai tertawa mendengar keributan yang ada dengan segala rumor buatan Jian sementara Gilang diam lebih fokus pada makanan di hadapannya tidak begitu mengindahkan apa yang dibicarakan teman-temannya.

Ada beberapa detik Rama dan Gilang bertatapan lalu Rama bercengkrama kembali membantah tuduhan gila temannya sementara Gilang kembali menunduk memakan salad yang dia pesan.

'Ini dia diem karena gak peduli atau shock cewe yang diem-diem deket sama dia sekarang ada di apart gue? Tapi gak mungkin ada apa-apa sih ya kalau iya masa bang Gilang ngizinin Bella tinggal sama gue atau setidaknya dia bakal kasih gue peringatan buat gak deket.'

Sawal menyikut Rama untuk berbisik-bisik "Heh bego kenapa lu bawa Bella ke rumah lu? Ngaku aja deh, lo suka ya?" Sawal menebak membuat Rama langsung menoleh namun tak menjawab.

"Jangan anjing ma, dia rada sinting." Peringatannya.

"Kok? Eh gue baru sadar deh akhir-akhir ini lo berantem mulu sama Bella ributin hal-hal kecil ya." Ucap Rama yang berpikir ini lah sebab ketakutan temannya akan hubungan dirinya dengan Bella.

"Gak kecil anjir banyak hal, dia nyebelin astaga ma dan selain Kiki gue juga suka kena getah sialnya. Bawa sial intinya." Jelas Sawal heboh dan serius sedangkan Rama yang mendengar malah tertawa saja merasa kehadiran Bella tidak membuat hidupnya menjadi negatif malah Rama merasa pagi harinya menjadi menarik dan perbincangan yang akan dilakukannya bersama wanita itu menjadi kegiatan yang dia tunggu-tunggu.

'Ini maksudnya gue udah suka sama lo atau nyaman doang ya bel?'

***

Bella yang sedang membuat sereal di dapur merasa tatapan Rama selalu tertuju padanya dan saat dia periksa benar saja pria itu tersenyum ke arahnya "Kalau mau bilang jangan kaya orang aneh diem-diem kitu."

Rama beranjak dari sofa ruang tengah dan berdiri di hadapan Bella terhalang counter dapur, lalu dia membuka mulutnya "Aaaaaaaaaaaaaaa."

"Apa jiga kudanil kitu, ini makan sendiri lah." Bella memberikan mangkuknya sementara dia menuangkan kembali sereal untuk dirinya.

Bagaimana bisa seseorang begitu tampan namun aksinya banyak yang menggemaskan begini, pernah Bella memergoki Rama sedang menjait bajunya yang sedikit robek. Benar-benar lucu rasanya ingin mencium pipinya memberikan semua cinta yang Bella punya saat melihat bibir pria itu mengkrucut fokus mengerjakan pekerjaannya, mengerutkan dahinya saat sedikit membuat salah. Rama benar-benar menggemaskan saat melakukan hal tertentu, padahal kalau sedang di luar Rama begitu gagah seperti pria yang dapat diandalkan dengan pesona pria baik-baik yang memang baik sekali pada semua orang, senyumnya dengan murah ditebarkan kesana-kemari tapi hatinya cukup susah didapatkan dan kini sosok good boy Regulus ini memperlihatkan sisi lain yang baru Bella ketahui saat dirinya menumpang di unit milik Christian Bramantya ini. Sisi Rama yang lebih ramah dari biasanya, itulah sisi baru yang Bella lihat.

'Rama anjing gemes mulu jadi manusia!'

Tapi spekulasinya dimusnahkan saat dirinya tidak sengaja pulang lebih awal disambut dengan suara keributan di kamar Rama yang membuat langkahnya lebih cepat masuk ke ruangan sumber suara tanpa mengetuk ke kamar pribadi sang tuan rumah.

Pemandangan yang Bella baru ketahui bahwa pria menggemaskan dan penuh senyum itu bisa membuat hal yang menyeramkan juga, yaitu membuat kamarnya hancur lebur berantakan dengan semua barang yang pecah, patah tak tersisa selain ranjang yang masih di posisi yang sama.

Rama baru menyadari sorot cahaya bersumber dari pintu yang terbuka "Bel?" Panggil Rama dengan suara yang lemah menoleh ke balakang, wajahnya ketakutan seolah Bella harusnya tidak mengetahui apa yang terjadi.

"A-aku-" Rama mencoba menjelaskan yang terdengar sulit karena napas yang tidak teratur.

Bella masuk ke dalam kamar memperhatikan dari ujung kepalanya sampai kaki lalu dia memeluk Rama sembari menepuk punggungnya "Nanti beresin bareng-bareng ya."

Tidak ada pertanyaan, tidak ada wajah ketakutan, hanya pelukan hangat dari wanita yang tidak dia sangka. Rama mendarkan wajahnya di bahu Bella mencoba mengatur napas yang memburu.

"Maaf." Ucap Rama terdengar gemetar.

Keheningan yang menyelimuti dengan usapan yang tidak berhenti membuat Rama tenang sementara Bella merasa panik dan takut tapi dia sembunyikan sebisa mungkin.


🌻

METANOIA (another story)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang