Rama duduk tegak dengan kaki bersila sembari menunggu Bella menyiapkan air putih, saat Rama melihat ke segala penjuru kamar Bella ada hal yang membuat dirinya kaget yaitu adanya bra yang sembarang di simpan di ranjang.
"BEL!" Panggilnya cukup keras secara otomatis.
"Apa anjir ih kaget!" Bella menoleh ke arah Rama.
"Itu." Tunjuk Rama pada bra yang tergeletak.
"Astaga kirain apa anjir lah." Bella tidak mempedulikan lelaki yang heboh itu dan menuangkan air putih yang baru sebab tadi tumpah.
Merasa canggung sendiri Rama meminta izin untuk pergi ke kamar mandi yang tentu hanya bohong belaka yang Bella ketahui "Udah gak usah heboh nanti aku pindahin, gak bau da itu baru dipake sekali." Ucapnya menghentikan langkah Rama yang baru saja mau keluar, masalahnya bukan bau atau bagaimana hanya saja Rama malu. Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan berdiri canggung dekat pintu yang sudah terbuka sedikit.
'Anjing emang si ojol-ojol datang wae, harusnya chat dulu kitu masa ke kos cewe main dateng aja kan jadinya si eta ngeliat keadaan aing lagi butut hayoh! Da punya WA teh lainnya chat gemes ngadon kirim-kirim foto azab, Rama gelo!' Bella mengomel dalam hati ditambah merasa malu kamarnya seperti kapal pecah.
Translate : Anjing memang si tiba-tiba datang aja, harusnya chat dulu gitu masa ke kos cewe main datang saja jadinya kan dia ngeliatan keadaan aku yang lagi jelek terus! Da punya WA bukannya chat gemes malah kirim-kirim foto azab, Rama gila!
"Jadi apa aja ini di keresek?" Tanya Bella pura-pura merasa tertarik agar Rama tidak canggung dipojokan, di pria mulai duduk dekat Bella heboh membuka keresek putih yang penuh buru-buru.
"Banyak ini, ada ciki-ciki, minuman, puding, mie, aku beli nasi di warteg depan juga terus.." Rama mengabsen dengan semangat sambil mengeluarkan.
'Ieu budak kenapa anjir kaya penjual yang atoh barangnya mau dibeli?' Bella masih belum terbiasa dengan Rama yang mode Ramah ini, karena baiknya Rama itu hanya pada orang-orang sekitar selain Bella.
Translate : Ini anak kenapa anjir kaya penjual yang kesenengan barangnya mau dibeli.
Rama fokus mengobati lutut Bella yang terluka dan beberapa luka gores ditangan sementara Bella mulai sibuk menikmati makanan yang Rama bawa.
"Kalau cewe jangan kaya gini, sayang jadinya luka. Biarin aja cowo yang kejar."
"Disini cowonya gak berguna, lama lagian berharap sama orang mah mending kita aja duluan ari bisa mah."
"Ya udah telfon aku lain kali kalau ada bahaya." Saran Rama membuat Bella menarik tangannya yang sedang diobati.
"Kamu sebenernya mau apa ma? Baik kaya gini maksudnya."
"Maksudnya?"
"Bukannya biasa kamu gak anggap aku ada, ngobrol aja gak pernah tentang kita. Kenapa jadi berubah sampai berani datang kesini seenaknya?" Ditanya seperti itu si pria agak bingung untuk menjawab.
"Ya udah kalau gak bisa jawab yang itu, jawab kenapa aku dibandingin sama Sarah? Aku gak suka ma, kamu bebas mau nyanjung dia tapi jangan gara-gara sadar aku deketin kamu jadinya ngejelekin gitu aku juga gak akan maksa kalau kamu risih aku bakal berhenti."
"Kapan ak- oh." Rama kemudian ingat dan menebak bahwa sikap Bella yang sedikit dingin itu karena hal ini menyinggungnya."Itu waktu di cafe yang lain ngeledek bel jadinya aku jawab seadanya aja biar cepet diem, mereka ledekin ak-."
"Jadi solusinya jelekin aku? Kalau mau ngomong yang jelekin aku minimal pas gak ada aku aja, bebas sekalian mau sebarin rumor juga bukan pas aku ditempat. Apa sengaja biar aku denger dan sakit hati?"
"Bel bentar tangannya belum keobatin semu-"
Bella berdiri berjalan menuju tas nya "Berapa total ini semua makanan?" Tanyanya buru-buru membuka dompet.
"Bel gak usah, aku beli sengaja buat kamu." Rama ikut beranjak dan menahan tangannya yang siap membayar.
"Ya udah pulang sana kalau udah selesai." Usir Bella kesal Rama tidak fokus dengan apa yang dia bicarakan.
Rama baru menyadari perubahan ekspresi Bella, mungkin dia adalah satu-satunya orang yang santai saat berhadapan dengan yakuza Regulus kalau orang lain pasti begitu sadar dia salah akan langsung meminta maaf dengan wajah panik. Untuk Rama dia merasa tidak masalah jika Bella menghajarnya sedangkan Bella selalu mencoba membatasi amarahnya saat di dekat Rama.
"I get it, kamu kesal sama aku. Maaf aku gak sengaja. Cara ngomong aku, nada aku, pilihan kata aku nyakitin kamu tapi gak ada niat buat jelekin kamu. Beneran deh."
Bella melihat kedua mata Rama bergantian "Maaf bel." Kehedingannya dibuyarkan lagi dengan permintaan maaf Rama.
Bella menggelengkan kepalanya untuk tetap sadar tidak melamun "Ok, sekarang pulang sana-"
Disuruh pergi Rama malah berjalan mengelilingi kamar Bella yang kecil itu "Kamar kamu bahaya bel aku liat-liat, pintunya juga gak kokoh. Kamu mau tinggal di apart aku?"
'Anjing kenapa sih bangsat suka ojol-ojol terus!'
Demi tuhan kaki Bella tidak tahan untuk menahan bobot badannya sendiri saat ini. Rama benar-benar di luar ekspetasinya, dengan wajah yang polos serta senyuman yang manis kata-katanya selalu berhasil membuat debaran di jantung Bella.
🌻
KAMU SEDANG MEMBACA
METANOIA (another story)
RomanceKisah romansa huru-hara remaja milenial di kampus Regulus yang diawali dengan perkenalan antara seorang Bella Tanaya yang menyandang tittle yakuza dengan Christian Bramantya yang memiliki imej malaikat yang baik, menariknya pribadi yang bertolak bel...
