79. Beda keyakinan

67 5 0
                                        

Perbedaan yang sama-sama mereka sadari harus dilewati cepat atau lambat, Rama adalah orang yang selalu mengawali untuk membahas hal itu sementara Bella yang tidak yakin cenderung tidak ingin membahas hal yang berat.

Bella bukan meragukan Rama atau perasaannya tapi lebih ke diri sendiri yang mungkin tidak sanggup menjadi perisai untuk kekasihnya saat melawan keluarganya nanti.

Bella sadar betul keadaan keluarga mereka pun berbeda jauh, keluarga Rama terbiasa dengan perbedaan sedangkan Bella lebih konservatif yang keluarganya memiliki citra agamis di lingkungannya.

Kini dia pun tahu posisi Rama yang tidak begitu baik dengan papahnya membuat dia semakin tidak tega jika harus mendorongnya untuk melawan bapaknya yang sangat kolot.

Mengingat setiap setahun sekali bapaknya mampir ke kos pun tidak pernah ada tegur sapa kepadanya karena si bapak masih tidak menyukai keputusan Bella yang pergi jauh tidak seperti kakak dan adiknya yang mengabdi mengajar di pesantren atau menikah muda seperti yang memang seharusnya perempuan lakukan di pandangan si bapak, rasanya skenario di kepalanya membuat Bella mengidik ngeri membayangkan bapaknya yang ke anak kandungnya pun bisa secuek dan sekeras itu apalagi nanti pada kekasihnya Rama.

Memang keputusan bersama dengan Rama berawal dari percintaan yang tidak memikirkan masa depan tapi saat menjalaninya Bella pun jadi semakin serakah ingin titik akhirnya sosok Christian Bramantya dan jadilah begini akhirnya tanpa perbekalan harus menghadapi tembok yang tinggi.

Dan hal yang ditakutkan itu pun terjadi, ketika Bella masih di kampus Rama menghubunginya untuk segera pulang sebab si pria dikagetkan dengan kunjungan dadakan orangtua kekasihnya yang sudah pasti terkejut dengan kehadiran seorang pemuda.

Saat Bella tiba Rama sudah duduk di lantai terlihat merasa bersalah sementara kedua orang tuanya duduk di kursi dan tepi ranjang menunggu kehadiran anak perempuannya.

"Ma kamu diapain?" Tanyanya langsung terfokus pada Rama membuat sang bapak menggeleng kecewa karena kata pertamanya bukanlah salam atau menjumpai orangtuanya tapi pada seorang yang pria yang dengan seenaknya ada di kos putrinya.

"Ini yang bapak khawatirkan kalau kamu terlalu ngejar dunia gak penting. Kos pindah gak bilang-bilang, pakaian gak jelas gitu calan soek-soek, jauh dari agama, bawa cowo ke kos. Kaya cewe gak bener kamu!"

"Pak udah pak nanti kedenger kamar sebelah." Sang ibu berusaha menenangkan suaminya, Rama terlihat cemas sementara Bella abai dan hanya terfokus pada Rama dengan memeriksa wajah dan tubuhnya takut bapaknya melakukan sesuatu padanya.

"Lihat anakmu bu malah khawatir sama cowo gak jelas."

"Bella." Panggil ibunya lembut.

"Bu Rama itu bukan cowo gak jelas dia baik, rajin, jagain aku, nolongin aku, kalo aku sakit juga dia yang rawat yang bayarin juga malah, dia ke kos paling cuma buatin nasi buat aku karena aku suka meles. Udah deh bapak gak usah riweh, selama Bella di Bandung ge yang jagain mamahnya Rama sama temen-temen Bella gak usah kaya pedul." Entah keberanian dari mana kalimat itu keluar begitu saja untuk membela kekasihnya.

"Bapak tanya ayeuna pantes emang lalaki ka kos awewe? Mun eweh bapak dek naon coba duduan di kamar?" Pertanyaan bapak hendak Rama jawab tapi Bella memotong, Rama tidak dibiarkan membela diri dan hanya di belakang Bella.
Translate : Bapak tanya sekarang memang pantes laki-laki ke kos perempuan? Kalau gak ada bapak mau ngapain coba berduaan di kamar?

"Bukan urusan bapak!"

"Jangan pikir bapak bodo nya, eta foto kamu bareng dia pasti ada hubungan lebih artina tapi mun aya ge bapak gak akan setuju. Bapak tau dari namanya juga dia beda sama kita."

METANOIA (another story)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang