84. Rasa aman

82 5 1
                                        

"By Rama bohong, ada yang disembunyiin sebenernya beberapa hari terakhir ini." Rama memeluk Bella dari belakang dengan erat begitu pintu unitnya tertutup. 

Setelah mempertimbangkan beberapa hari dengan diselingi kesibukan kampus dan memikirkan tentang restu Rama akhirnya terbuka dengan Bella.

"Mau cerita sayang?"

"Engga deh kayanya, maaf ya." Rama memberikan kecupan di leher menunjukan rasa bersalahnya, dia memang tidak ingin masalah yang dia ketahui menjadi runyam diantara kekasih dan sahabatnya.

"Ya udah bebas, kalau mau cerita tinggal bilang."

"Kamu kalau di sini sendirian dulu gak apa-apa? Aku mau keluar ketemu temen, jam 7 mungkin udah selesai."

"Sok aja tapi jangan telat, aku bosen nanti." Bella mengalungkan tangannya di leher Rama sambil bermanja.

"Iya, sebelum jam 7 mungkin udah beres juga." Rama memberikan satu kecupan lagi kali ini di pipinya.

"Kecup terus cipokeun dong." Godanya sembari menarik tengkuk Rama yang si pria tahan menjauhkan wajahnya tidak mau memberikan ciuman.

Sementara Bella menyibukan diri dengan mengerjakan tugas dan membuat makan malam, Rama bertemu dengan Sawal untuk mengakhiri perang dingin di antara mereka.

"Sorry."

"Kalau gak niat gak usah ngomong."

"Iya sih."

"Anjing ya lo wal."

"Sabar anjir ngamuk mulu, kata gue juga apa? Pura-pura kaga tau aja dari pada kepikiran."

"Ya makanya lu jangan centil."

"Gue biasa aja anjir kaga tebar pesona, gak tau kalau Bella suka nanti."

"Dih gak akan, Bella cinta mati sama gue."

"Siap deh si paling dibawa mati." Suasana menjadi hening kembali sembari keduanya menikmati minuman di atas meja yang sudah mereka pesan.

"Gue serius minta maaf." Ucap Sawal sembari berpura-pura batuk.

"Gue juga, tapi gue tetep sebel. Lu terima kek itu adenya Fang dari pada ngincar punya gue."

"Diem ya gak usah merambat kesana-kemari, btw lu curhatnya beberapa hari ini jadi ke Kiki ya? Kenapa?"

"Ya lo pikir, keadaan kita begini dan masalah yang gue hadapi itu tentang restu orang tua Bella. Aneh gak sih gue cerita ke lo?"

"Ya udah sekarang cerita kan udah beres."

"Engga mau."

"Elah gak pede lo? Takut Bella jadinya mau sama gue apalagi sama gue satu server mudah lancar."

"Kepedean ya." Tonjok Rama pada bahu Sawal yang berhasil membuatnya mengaduh kesakitan.

"Ma bisa gak lo lupain kejadian kemarin malam dan semua hal tentang perasaan gue?"

"Kenapa memang?"

"Gue malu sama lo dan gue rasa lo gak perlu mikirin ini sampe jadi beban, gue bakal urus perasaan gue sendiri. Lo tenang aja."

Rama terdiam sambil mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Sawal "Okay."

Setelah persahabatannya itu aman dengan genjatan senjata, pertemuannya juga diramaikan dengan saling bercerita apa yang mereka hadapi beberapa hari ini karena bagaimana pun keduanya adalah tempat ternyamannya untuk dirinya masing-masing dan dipastikan pula hari berikutnya mereka akan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa sesuai kesepakatannya.

***

"By ini Rama udah pulang." Teriaknya sambil membuka sepatu di pintu masuk.

"Heboh bener astaga." Tegur Bella berjalan santai menemui kekasihnya yang sepertinya telah menyelesaikan masalahnya tebak Bella karena suasana hatinya begitu jelas berbeda.

"Hehehe liat Rama beli nasi kuning yang temennya banyak ada keripik, perkedel, telor ah banyak pokonya." Dia memperlihatkan keresek hitamnya dengan semangat.

"Lah aku nyiapin salad ih."

"Ya udah gak apa-apa penutupnya gadoin salad kan bisa." Ucapnya sambil menarik Bella ke dalam.

"Seneng amat? Habis ketemu cewe cantik ya?"

"Gak ada cewe cantik burem aku by, cuma Bella yang keliatan."

"Apa sih geleuh." Kalimatnya tidak sesuai dengan wajahnya yang tersenyum cerah.

🌻

METANOIA (another story)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang