70. Kebiasaan Bella

161 4 1
                                        

Bella biasanya hanya membantu para perempuan Regulus yang berhadapan dengan pria-pria berengsek, dia dan Karmika selalu vocal saat ada ketidakadilan yang terlintas di matanya dan akhir-akhir ini kebaikan Bella di mata Rama bertambah karena sosoknya yang menolong teman-temannya terutama untuk Sawal, Karmika, dan Devon yang dia anggap begitu banyak peran dalam kehidupan sosok Christian Bramantya saat sulit tapi nyatanya ketenangan yang Rama dapatkan tidak begitu panjang sebab di pagi hari yang cerah ini dia mendapati kabar bahwa Bella kembali terlibat perkehalian.

Bukan dari base kampus tapi kabarnya dapat dari temannya Dirga dan yang sempat melihat langsung aksi pukul memukul itu.

Di dalam keramaian kantin Regulus Rama mencari sosok kekasihnya dan ternyata wanita tersebut sedang bersembunyi di balik keramaian di belakang tubuh Karmika yang tidak membantu sama sekali sebab begitu Rama datang Rama melihat ke arah nya Karmika langsung menghianati dengan melambaikan tangan.

"Bodo anjir sia kenapa dadah-dadah sat!" Tegur Bella mengeluh pada sosok temannya.

"Nanti aku disangka bersekongkol ah." Karmika tidak peduli dengan nasib Bella, dia lebih berpihak pada Rama si baik tentu saja.

Rama menyapa Karmika dan meminta izin untuk membawa kekasihnya, sedangkan Bella tidak diajak bicara sama sekali. Rama langsung menggandeng tangan sang puan menjauh dari kantin membuat Bella cukup takut akan kesabaran Rama yang mungkin habis.

Memang semenjak kejadian Rama menghajar pria yang melecehkan Bella, dia tidak pernah menggunakan nada meninggi atau menyalahkan Bella saat ada keributan seperti saat ini tapi diam tidak mengatakan apapun adalah hal baru juga karena biasanya sudah seperti rutinitas Rama akan menasehatinya dan menunjukan rasa kesal jiga Bella menggunakan kekerasan tapi anehnya kali ini kekasihnya terlihat santai dan tidak berkata apapun.

Di perjalanan menuju yang entah kemana Bella menyempatkan membuka ponselnya untuk mengecek base kampus dan benar saja keributan yang menyangkut dirinya sudah menjadi narasi yang padu bagaikan kisah fiksi yang sudah tersebar masif.

Langkah terhenti dan Bella pun menyimpan ponselnya kembali, Rama membawanya ke taman di sebelah fakultasnya. Duduk di kursi kayu panjang yang jauh dari keramian.

Mata Bella tertuju pada keresek hitam yang sedari tadi pria itu jinjing dan ternyata berisi obat merah juga permen kaki kesukaan Bella yang hanya bisa ditemukan di beberapa tempat karena cukup langka.

"Rama marah?" Tanya Bella pada pria yang sibuk dengan barang di dalam keresek hitamnya.

"Khawatir by bukan marah." Jawab Rama sangat lembut masih memanggilnya dengan panggilan by yang berarti Rama tidak marah besar, menyadari hal itu Bella langsung menunjukan senyumnya lebar menunjukan giginya.

Rama akhirnya menatap Bella "Kenapa senyum begitu?"

"Hehehe kirain marah kamu ma."

Rama hanya menggelengkan kepalanya lalu membukakan permen kaki untuk Bella. Sembari wanitanya menikmati permen yang diberikan, Rama mengobati tangan yang terluka.

"Tuh kan pasti ada lukanya. Walaupun lawan kamu gak bales, kamu tuh suka rusuh gitu jadinya lukain diri sendiri atau kena barang sekitar kamu waktu ribut" Ucap Rama men tap-tap bagian luka yang kemerahan di kulit tangan Bella.

"Rama keringetan dari mana?"

"Bandung panas." Alasan si pria yang sebenarnya berlari seperti ninja.

Rama mengobati dengan fokus memeriksa setiap kemungkinan luka yang ada dan Bella tersenyum seperti orang gila mengamati kekasihnya.

"Ma kok ganteng sih jadi mau cipok deh." Dengan mudahnya Bella mengekspresikan keinginan gilanya, Rama tentu sudah biasa dan dia merespon dengan mencubit pipi kekasihnya lalu mengobati lukanya kembali.

METANOIA (another story)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang