32. Seatap

163 15 2
                                        

Hari ini Bella memiliki hanya satu kelas, biasanya saat waktu senggang dia akan pergi bermain di mall bersama Karmika dan lainnya tapi sekarang begitu selesai dia akan pulang ke apartemen Rama sembari berharap si pria juga sudah ada disana.

"Hi." Sapa Rama menoleh ke arah pintu dimana Bella terdengar sangat rusuh saat masuk membuka sepatunya terburu-buru.

Mengetahui Rama pun ada disini Bella kemudian lega bisa menghambiskan waktu dengannya "Kok udah pulang?" Tanya dia.

"Nanti jam 3 balik lagi ke kampus." Balas Rama sambil memotong buah apel.

Bella mengangguk sambil mengais oksigen yang bisa Rama dengar lalu Rama bertanya "Kamu setiap pulang lari-lari begitu?"

"Engga, kebetulan cape ingin cepet rebahan haha." Tawanya canggung karena aslinya memang seperti itu agar Bella bisa siap-siap membersihkan diri dan wangi saat Rama tiba.

"Mau apel? Aku potong banyak?"

"Iya boleh." Setelah membalas Bella pergi cepat ke kamar untuk membersihkan diri tidak ingin tercium bau keringat dan mengganti bajunya dengan yang lebih nyaman.

***

Rama fokus menonton berita di televisinya sedangkan Bella tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang ini jadi dia fokus menatap pria yang dia kagumi mumpung jaraknya sangat sedekat.

"Liat nya ke TV dong." Tegur Rama tanpa menoleh.

'Anjing, tauan aja.'

"Ada apa di muka aku?" Tanya Rama tidak Bella jawab karena dia menatap televisi akhirnya.

"Ma."

"Hmm?" Rama masih mengunyah apel yang ada dalam mulutnya. Keduanya saling memandangi layar kotak yang menempel di dinding itu.

"Kamu kenapa tiba-tiba bantu aku segininya? Seniat ini gitu."

"Kalau aku yang gak bantu siapa lagi, si Kiki diliat-liat jadi cowo begitu gak aware tiap dia cerita cuma nyumbang ketawa gak pernah coba bantu kamu." Protes Rama mengingat semua insiden yang dia dapatkan dari Rizki.

"Oh." Bella mengangguk paham lalu membawa apelnya untuk dia santap.

Rama akhirnya menoleh ke arah Bella "Bingung ya sama perlakuan aku ke kamu?"

"Hmm?" Akhirnya Bella menoleh dan mereka pun saling bertatapan.

"Aku akan tolong juga misal posisinya itu bukan kamu bel." Bella mengangguk mulai tau arah pembicaraan ini.

'Okay paham artinya jangan kegeeran.'

"Tapi aku gak akan nawarin pindah sih kalau itu orang lain." Sembari ragu Rama memberi tahu Bella.

"Ma ini mohon maaf ya tapi kamu emang mengundang untuk ditonjok setidaknya sekali mah, iya gak sih?"

Rama tertawa terbahak-bahak hingga tersedak apel sementara Bella mengerutkan dahinya merasa saat ini tidak ada yang lucu sama sekali "Maaf, aku lagi pusing juga sama yang aku rasain." Rama memberitahu dengan menidurkan kepalanya di kursi sofa menatap langit ruang tengah.

Bella yang duduk disebelahnya beranjak berdiri lalu mendekatkan wajahnya dari atas sembari kedua tangan menopangnya mengunci posisi Rama "Jadi maksudnya waktu itu bilang good luck nyuruh aku buat berusaha kan? Atau aku salah tangkep?"

"Kira-kira begitu."

"Fuck Christian Bramantya gak jelas, cowo nyebelin!"

"Kamu juga nyebelin, ganggu terus pikiran aku gak jelas." Isi hati Rama tersampaikan sembari memberikan senyuman pada Bella dari bawah.

"Udah suka berarti kitu mah."

Matanya menyipit sembari tangannya dilipat "Belum tau." tegas Rama menolak.

'Naon sih bilang nyebelin sambil senyum, protes mah protes aja kali jangan sambil ngacak-ngacak hati aku. Ku aing cirian sia Rama, habis kau begitu jadian sama aku.'
 

🌻


METANOIA (another story)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang