'Heran anjir jadi sok jol sekelompok wae yeuh sama ini manusia, hariwang ribet ih. Malesin asli!' Keluh Bella di pagi hari setelah dipasangkan satu kelompok dengan Karmika di jam pelajaran pertama.
Tiba-tiba saja hari ini guru memilih kelompok dengan cara acak yang menyebabkan Bella duduk berdua di bangku yang sama bersama Karmika, semakin ada keinginan untuk menjauh semakin takdir mendekatkan Bella dengan Karmika. Kadang hidup memang selucu itu, terjadi di luar kendali dan skenario yang kita buat.
Saat berdiskusi Karmika terasa lebih dingin dari biasanya sedangkan Bella mencoba responsif terhadap semua rencana Karmika dalam mengelola tugasnya karena tidak ingin dianggap tidak bisa, karena Bella tau dari awal masuk sekolah tugas sekolah seperti hal yang besar untuknya. Karmika selalu mencoba melakukan yang terbaik.
Kemampuan belajar Bella yang cukup meningkat menurutnya karena cukup rajin belajar dengan Joseph nyatanya tidak ada apa-apa nya saat bersanding dengan Karmika namun hal itu tidak membuat Karmika kesal.
Aneh,
Bella yang dari tadi waspada dan siap ditegur keras nyatanya tidak merasakan tekanan apapun beberapa menit membahas tugas bersama Karmika.
'Bisa ya orang berubah secepat itu? Kata Sarah Karmika gak pernah kaya gini? Elah buat aing kepikiran aja manusia.' Bella menggelengkan kepalanya untuk tidak peduli dengan hal yang bukan urusannya.
Sampai akhirnya dia terseret sebuah pertengkaran tidak penting.
Di kamar mandi yang cukup jauh dari kelasnya dimana dia sedang merapihkan seragamnya, tiba-tiba terdengar beberapa langkah orang masuk sambil membicarakan Karmika. Bella seketika terdiam sambil menguping.
"Jadi si kaka kelas itu tuh meninggal karena si Karmika?"
"Ngeri anjir, tapi kalau pelaku masa iya dia jadi deket sama adiknya."
"Iya juga gak masuk akal."
"Aku gak ngerti sih ini tuh maksudnya karena Karmika tuh gimana? Bukannya katanya sakit?"
"Gak ada yang tau lah banyak banget kabar simpang siurnya."
Begitu obrolan beberapa orang yang berbeda yang Bella dengar dari bilik kamar mandi.
"Lagian ya dia centil apa gimana sih deket sana sini sama cowo, kaya murahan. Apalagi sama si Rama yang kelas ipa itu, lengket bener anjir masa temen gitu gak ada ja-"
Tiba-tiba percakapan berhenti karena Bella membuka pintu dengan menendang sekeras-kerasnya sampai beberapa orang itu teriak.
"Anjing!" Salah satu umpatan keluar dari wanita yang terlihat sibuk memakai make up.
Bella menyeringai seperti meledek lalu membersihkan tangannya lalu berbicara sendiri dengan cermin "Kalau ngeledek orang murahan harusnya ngaca, sendirinya ke sekolah dangdan berlebihan kaya mau kondangan. Jalang kota memang beda." Kepalanya mengangguk-angguk.
"Heh lo ngomong sama gue?"
Bella tidak menanggapi dan menyipratkan tangannya yang selesai membasuk membuat mereka yang bergosip mengeluh.
"Heh lo berhenti." Salah satu perempuan itu mencegat Bella yang mau keluar.
"Kalian 5 orang sama aku juga bakal menang aku jadi awas janan ngahalangan, atau mau ta cekek? Kebetulan ini tangan belum cuci pake sabun, jaba ceboknya tai bekas tai."
"Ih jorok banget jadi cewe." Semuanya menjauh memberikan jalan untuk Bella.
"Sama bekas tai takut padahal kelakuan kaya tai." Bella pergi meninggalkan orang-orang disana sampai tak bisa berkata-kata.
***
Karmika masuk kelas dan langsung duduk di sebelah Bella membuat Bella bingung.
"Lain kali gak usah gitu."
"Hah? Aing dosa apa lagi ini dilabrak begini." Keluh Bella yang memang beberapa kali di tegur perihal tugas oleh Karmika setelah 3 kali satu kelompok di mata pelajaran berbeda.
"Bukan, yang kamar mandi. Makasih udah ngebela."
"Bukan ngebela sih biasa aja, aku gak suka denger cewe ngerendahin cewe lain bari kenal ge engga. Eh kamu kenal gak sih sama merekanya? Pek teh kenal."
"Engga, gak kenal."
"Hmm geus aing duga sih tuman." Bella merasa puas telah sedikit membalas omongan jahat para perempuan di kamar mandi itu.
"Tapi bel yang mereka omongin bener."
Bella terlihat santai lalu mendekat dan berbisik "Kamu ngebunuh?" Yang ditanya malah diam dan berakhir Karmika menceritakan kepada Bella apa yang terjadi.
Bella yang selesai mendengarkan menangkap bahwa sebenarnya Karmika menyesal menjadi orang yang ignorant terhadap lingkungan sekitarnya termasuk teman-temannya, sehingga saat temannya yang diketahui bernama Zidan itu sakit dan berakhir tidak terselamatkan Karmika menyadari bahwa sosok Zidan penting di kehidupannya. Untuk masalah adiknya Zidan bisa menjadi dekat itu karena adiknya menemukan semua barang-barang peninggalan kakanya berhubungan dengan Karmika, dan dari situ juga awal mula kedekatan adik dari temannya yang kebetulan ada di sekolah yang sama namun berbeda kelas.
"Kata aku mah kamu amun nyesel yaudah sekarang perbaikinya dengan baik dan lebih perhatian ke temen kamu yang sekarang da masa lalu gak bisa diubah, misal ngobrol sama Sarah tuh dia kaciri takut da kamu tiis."
"Kamu gak takut aku?"
"Engga lah, ngan era aja aing bodo." Balasnya.
Obrolan mereka semakin dalam secara tiba-tiba, dan masukan Bella yang santai dan sederhana nyatanya dapat membantu Karmika untuk tidak murung di kelas.
🌻
KAMU SEDANG MEMBACA
METANOIA (another story)
Roman d'amourKisah romansa huru-hara remaja milenial di kampus Regulus yang diawali dengan perkenalan antara seorang Bella Tanaya yang menyandang tittle yakuza dengan Christian Bramantya yang memiliki imej malaikat yang baik, menariknya pribadi yang bertolak bel...
