Salma mengulum senyum. Mamahnya melihat gelagatnya, mengartikan senyum Salma karena funfact tadi atau... ah dia tahu betul putrinya... Salma kemudian membuka suara.
"Pah, Mah, Om, Tante, Caca mohon ijin bicara boleh?" ucapnya.
Caca? dih sok imut. Batin Rony.
"Kenapa, sayang?" jawab Maya.
"Pah, Mah, bukannya Caca mau menolak perjodohan ini, sungguh Caca menghormati keputusan Papah, Mamah, Om David dan Tante Maya," Salma mulai bicara, bahasanya sungguh tertata, lanjutnya, "Tapi, boleh nggak kalau Caca minta satu syarat?"
"Apa itu, Nak?" tanya Anang.
"Caca mau menikah kalau Rony udah sunat aja," ungkapnya pelan namun tegas.
Rony terpaku menggenggamkan tangannya di bawah meja. Marah. Dia geram dengan Nabila, dan kesal dengan persyaratan aneh itu. Berkali-kali dia melirik ke Nabila kesal bukan kepalang. Rahangnya ia katupkan erat menahan amarah. Mamahnya yang ada di sebelahnya mengusap punggung Rony. Mamahnya paham betul persoalan sunat buat Rony. Malu bercampur marah berkecamuk di dada Rony.
Anang melihat kekhawatiran sahabatnya, juga Rony.
"Nak, itu soalan gampang, kan bisa kalau udah nikah," Anang mencoba menengahi.
"Ini namanya syarat, Pah. Berarti sebelum. Kalau sesudah udah bukan syarat lagi dong," ungkap Salma dengan sedikit canda, merasa menang.
"Ya tetep syarat, cuma itu bisa nanti kan, Ca. Kalau sudah jadi suami istri lebih gampang,"
"Pah, syarat itu bukan semata-mata keegoisan Caca, agama kita mewajibkannya kan? Selain itu, toh itu juga baik buat kesehatan Rony," yang disebut namanya kemudian menatap Salma tajam, ada kekesalan yang memuncak, tangannya semakin mengepal. Tapi Salma tidak gentar, justru menatap Rony lebih tajam, "Itu juga untuk membuktikan keseriusan Rony menikahi Caca," tandasnya.
"Dengan segala hormat, Caca tidak bermaksud menghancurkan rencana kalian. Caca hanya ingin paling tidak untuk melihat kesungguhan pernikahan ini, bukan sekedar perjodohan kedua orang tua, tapi juga untuk masa depan kami yang menjalani selanjutnya,"
Rony benar benar kesal, berulang kali dia melenguhkan nafas panjang. Tatapannya mengintimidasi Nabila terus menerus.
"Ron, Kamu mau kan? toh memang benar kata Caca, itu baik buat kamu juga," Maya sekarang yang menenangkan Rony untuk berhenti merutuki adiknya.
"Tapi, Mah," Rony berusaha menyangkal, dia bisa bersuara juga rupanya.
Obrolan terjeda sesaat, Rony mengeratkan giginya, meredam emosinya. Cih, sok jual mahal. Dia benar-benar marah dengan Nabila. Sungguhpun sebenarnya dia ingin sekali menolak mentah-mentah, tapi dia masih punya rasa menjaga kehormatan orang tuanya. Orang tuanya juga tahu betul seperti apa Rony dengan soalan sunat, memaksa adalah soalan yang sukar bukan kepalang.
"Ehm, Nabila permisi dulu," dia menjadi kikuk, merasa bersalah karena ucapannya juga karena kakaknya terus-terusan meliriknya kesal, membuatnya tidak nyaman. Nabila menuju teras samping rumah Salma, bermaksud menenangkan diri.
Salma yang sekarang merasa bersalah ke Nabila, karena menjadikan omongannya Nabila alasan syaratnya. "Saya juga permisi dulu," meninggalkan obrolan para orang tua dan Rony.
"Tenang Ron, nanti Om akan ngobrol dengan Salma. Tapi Om mohon juga ya sama Kamu, soalan syarat ini. Om tidak tahu lagi harus bagaimana," ungkap Anang ke Rony. Rony sama sekali hanya diam, tidak menanggapi. Harga dirinya benar-benar terusik. Maya mengusap punggung Rony.
Apa sih maunya tu cewek, aneh-aneh aja.
__________
"Nab, Lo OK?" tanya Salma menghampiri Nabila di teras rumah. Nabila hanya melenguhkan nafas panjang, melihat Salma. Mata Nabila berkaca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Katakan [End]
Fiksi PenggemarCerita mengenai perjodohan lelaki dan perempuan yang tidak mudah. Perjalananan panjang untuk bersatu bertemu cinta. Seperti layaknya perjalanan, dalam prosesnya bertemu jalan yang berlika liku juga tanjakan dan turunan. Sebuah perjalanan menelusuri...
![Katakan [End]](https://img.wattpad.com/cover/347744651-64-k971590.jpg)