"Gue sukanya Elo," jawab Rony nyeret, sambil berlalu ke kamar mandi.
Salma terpaku.
Bangsat! Ini apa ya maksudnya, dia serius? gue harus gimana? ah, paling ga serius, dia aja ngomong sambil berlalu.
Salma sekarang kembali membuka belanjaannya. Dia sudah memutuskan akan menggoreng ayam, menggoreng tempe dan tahu lalu menumis kangkung. Dia juga membeli beberapa jenis lalapan dan bahan sambal. Pertama yang akan dia lakukan adalah menanak nasi. Disiapkannya rice cooker yang ada di pojokan.
"Ron, gue butuh blender. Ada?" tanya Salma sekembalinya Rony dari kamar mandi. Cukup lama lelaki itu di kamar mandi.
"Di rak atas, gue ambilin," Rony membantu Salma, menjadi jagoan yang bisa diandalkan.
"Lo lama amat, di toilet. Sakit?"
"Enggak, aman," jawab Rony. Anjing pake ditanya, gue salting sendiri cok!
Salma berkutat dengan hp-nya mengecek resep dari mamahnya lalu menyiapkan bumbu sesuai instruksi. Sebenernya Salma sudah berkali-kali masak ayam goreng ini, tapi tidak mengingat bumbu pastinya. Dia hanya mengerjakan instruksi mamahnya saja. Setelah mengambilkan blender Rony duduk di depan Salma yang sibuk.
Rony memperhatikan Salma yang sedang mencoba mempertunjukkan kemampuan memasaknya. Tidak terlihat mahir di dapur, tapi juga bukan yang tidak bisa sama sekali. Sedang Rony justru sedang meragu dengan pikirannya. Setelah mengungkap cerita masa kelamnya dia merasa ada yang aneh dalam dirinya.
"Lo cuma mau liatin gue, Ron?"
"Trus ngapain?" tanya Rony sambil memasukkan lagi semangka ke mulutnya. Semangka di siang hari yang terik memang segar.
Salma mengambil sebuah wadah dari salah satu lemari.
"Nih, potongin kangkungnya!"
"Anjing, seumur-umur gue belum pernah potongin kangkung!"
"Katanya jagoan, diminta potong kangkung doang nolak,"
Rony akhirnya menurut dengan perintah Salma. Meski ogah-ogahan. Apalagi berkali-kali Salma merevisi potongan kangkung Rony, ada yang kependekan ada yang kepanjangan. Bikin Salma frustrasi.
Tapi Rony bisa berkilah, "Halah nanti ujungnya juga jadi tai!"
Salma masih bisa menampik, "Kadang enggak si, Ron, haha..." keduanya tertawa.
"Eh, Sa. Lo sering masak?"
"Enggak, hehehe. Ngikut-ngikut mamah doang,"
"Waduh, bahaya nggak nih?"
"Sialan, Lo bener-bener nyepelein ya! Liat aja ntar!" Salma ngamuk.
"Ini tu makanan, Sa. Ya gimana mau tau hasilnya kalau cuma diliat doang, Sa," komentar Rony.
"Huh!" Salma memanyunkan bibirnya.
"Eh, Lo emang sering belanja di warung yak?"
"Iya seringnya di warung si, Mbak Asri. Kalau beli banyak baru deh ke pasar,"
"Kenapa di warung? kan kadang lebih mahal malah, udah kualitasnya nggak ngerti lagi,"
"Hem, ini di Jogja si, mungkin di Jakarta ceritanya lain. Di warung itu sayurannya fresh tiap hari. Ada yang ambil di pasar, ada juga lho yang langsung dikirimin dari petani. Mereka juga nggak punya alat pendingin kek di grocery, jadi se-fresh itu bukan yang udah berhari-hari. paling lama 2hari. Terus, warung itu support orang-orang yang nggak bisa beli dalam jumlah besar. Misalnya kek orang yang penghasilannya harian, karena di warung bisa beli secukupnya aja," Salma menghela nafas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Katakan [End]
FanfictionCerita mengenai perjodohan lelaki dan perempuan yang tidak mudah. Perjalananan panjang untuk bersatu bertemu cinta. Seperti layaknya perjalanan, dalam prosesnya bertemu jalan yang berlika liku juga tanjakan dan turunan. Sebuah perjalanan menelusuri...
![Katakan [End]](https://img.wattpad.com/cover/347744651-64-k971590.jpg)