83 Katakan dengan Indah

10.5K 657 160
                                        

Rony terpaku di tempatnya. Begitu juga Salma. Dalam lubuk hati mereka tak bisa dipungkiri ada rindu terhadap satu sama lain yang begitu besar. Tapi saat pertemuan tiba tanpa diduga, yang terjadi adalah membeku, nge-freeze.

Rony seperti melihat makhluk halus, malaikat maksudnya. Salma seperti ingin segera putar balik lalu berlari. Mungkin ke hutan atau ke pantai, untuk teriak sekencangnya. Tapi keduanya justru terpaku pada pandangan satu sama lain.

"Ca, sini!" panggil Santi.

Salma mendekat ke meja, Rony juga tanpa melepas pandangannya. Keduanya menempati dua kursi kosong di ujung-ujung meja. Salma menyapa David, Maya dan Nabila sopan. Masih kikuk. Salma menempati kursi yang sebelumnya jadi tempat duduk Rony, Rony di ujung terjauh lainnya. Memaksa mereka dengan mudah memandang satu sama lain. Namun keduanya memilih mencari arah pandangan lain. Canggung.

Jantung mereka tidak aman, berdegup kencang terus. Rony bingung, semesta benar-benar bercanda dengannya. Salma masih syok karena merasa ditipu orang tuanya. Mungkin perasaannya sama seperti Rony pertama melihat Anang dan Santi.

Rony mencuri pandang ke perempuan pujaan hati yang membuatnya patah hati. Cantik, lebih dari biasanya, mungkin karena lama tidak berjumpa. Atau mungkin karena rindu yang menggila. Namun kekesalan karena perempuan itu sudah membuat hatinya berkeping-keping juga hadir di benaknya. Amarah dan kerinduan beradu unggul.

"Jadi mumpung udah ngumpul semua, Kami mau cerita," David membuka obrolan yang akan panjang.

Empat sekawan di meja itu kemudian menceritakan pertemuan mereka di Jogja, dan hal-hal yang terkuak setelah pertemuan itu. Tentang foto itu. Anang dan Santi menceritakan pemahaman mereka mengenai hal itu. Keduanya pun mengerti kalau Rony dijebak Bella.

Rony hanya mendengarkan cerita itu. Saat Anang melihat raut wajah Rony, seperti ada kekesalan disana. Anang paham anak itu pasti sangat jengkel karena tertuduh tanpa berkesempatan menjelaskan.

Tanpa sepengetahuan Rony Salma mencuri pandangnya. Rahang tajam Rony nampak dieratkan kuat-kuat. Menjadi tertuduh adalah hal yang menyakitkan. Mestinya lelaki itu kesal menjadi yang terpojokkan. Dan obrolan ini seperti dengan gampangnya menihilkan perasaan Rony. Begitu pikir Salma. Apakah lelaki itu marah padanya? Pada keluarganya?

Mereka juga bercerita mengenai Anang yang mengigau, sampai soalan Santi yang memaksa Salma memutuskan hubungannya dengan Rony gara-gara igauan itu. Santi mengungkapkan penyesalan mereka juga atas hal tersebut. Bergantian mereka bercerita, yang satu melengkapi yang lain. 

Nabila banyak terkejut dengan cerita yang terjadi. Apalagi Salma. Dia baru tahu kisah ini. Kesal sekesal-kesalnya. Sebulan lebih ia berjuang dengan hatinya yang kalut, tanpa mampu ia ceritakan ke siapapun. Menyembunyikan perasaan itu menghabiskan energinya. Sebisa mungkin dia nampak kuat di mata orang tuanya. Mau ditaruh dimana mukanya di depan Rony?

Santi menangkap keterkejutan Salma, meskipun anaknya itu tidak bersuara. Ada rasa bersalah yang dalam disana.

Suasana seakan seru bagi empat sekawan itu. Karena tawa pun menyelingi cerita-cerita mereka, supaya tidak tegang. Menunjukkan kedua orang tua berdamai dan menerima semua hal yang terjadi. Termasuk menerima masa lalu, tidak ada yang dirahasiakan atau ditutupi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

Kedua orang tua merasa bersalah dan menyesalkan keadaan hubungan Rony dan Salma yang terputus karenanya.

Bagi Rony dan Salma?

Obrolan empat sekawan itu hanya didengarkan oleh Rony dan Salma. Namun keduanya tidak benar-benar menyimak. Gundah dan gelisah mendominasi emosi mereka. Keduanya benar-benar kebingungan. Mereka berdua seperti anak ikan yang terombang-ambing ombak karena badai yang dibuat orang tua mereka sendiri.

Katakan [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang