"Sa, kita mau kemana lagi?" tanya Rony. Kali ini dia bertanya lebih dulu.
"Sial. Kalah cepet gue. Lo aja Ron yang atur,"
"Enak bener hidup Lo. Ya Lo ada yang dipengenin nggak?"
"Lumpia si, hehehe. Di gang Lombok,"
"Dimana itu?"
"Deket Kota Lama si, nanti cari aja di maps. Tiap papah mamah ke Semarang, pulangnya beli itu, tapi gue belum pernah beli sendiri,"
"Oke. Kita kesana, terus?"
"Lo nggak ada pengen kemana gitu?"
"Enggak ada si. Dari kemarin sampai Semarang emosi gue naik turun, hehehe. Ada aja ribut-ribut, gatau ada masalah apa kota ini sama gue,"
"Lo bad mood banget ya kemarin, gara-gara Nathan? Pantes kek ga enjoy gitu jalannya di Kota Lama, makanya kalau ada apa-apa tu diomongin!"
Rony tersenyum geli, itu kata-kata yang semalam ia ucapkan, Salma mengucapkannya secara ironi saja.
"Hari ini udah nggak bad mood, udah aman semuanya," ucap Rony, merasa berhasil melewati masalah bersama adalah prestasi baru hubungan mereka.
"Apa mau langsung ke Timur kita?"
"Oke, tapi dari kemarin gue browsing-browsing ke Timur gue bener-bener blank, kek nggak ada yang bener-bener dituju," ungkap Rony, yang berganti jadi memikirkan kemana mereka selanjutnya.
"Ya, kita ngalir aja deh..." jawab Salma yang malah jadi orang yang tidak lagi memikirkan rencana.
Obrolan ini terjadi saat sarapan. Sarapan memang waktu mereka sinkronisasi. Mensinkronkan keinginan dan rasa.
__________
Memenuhi keinginan Salma untuk membeli Lumpia, mereka pun menuju gang Lombok. Lokasi dimana penjual lumpia itu berada. Tokonya kecil, berbatasan langsung dengan jalan, tidak memiliki halaman. Di seberang jalan merupakan sungai, Sungai Semarang yang kemarin mereka sebrangi melalui jembatan Berok.
Rony kesulitan untuk parkir di jalan itu, karena jalannya pun tidak seberapa besar. Dia maju sedikit dan menemukan lahan parkir sebuah klenteng, mereka menumpang parkir disana. Di penanda bangunan itu tertulis nama 'Tay Kak Sie'. Tempat itu tak seberapa jauh dari toko Lumpia.
Rupanya antrian membeli lumpia sangat panjang. Mereka harus menunggu. Daripada menunggu hanya ditempat keduanya berjalan-jalan di kawasan pecinan tersebut.
Bangunan pecinan khas dimana-mana, bangunan dengan muka kecil dan bertingkat. Kebanyakan berbentuk ruko, rumah toko. Sebuah strategi efisiensi lahan dimana lantai satu sebagai ruang usaha, lantai dua untuk tempat tinggal. Mungkin karena dulu kelompok masyarakat dikumpulkan berdasar etnisnya. Lahan yang dimiliki jadi terbatas.
"Gue penasaran sama lumpianya, seenak apa si?" tanya Rony pada Salma.
"Ya enak lah, pake rebung gitu Ron. Biasanya tu kadang kalau buat oleh-oleh belinya masih mentah lebih cepat, belum digoreng. Nanti digoreng di rumah, dimakan anget,"
"Oh... tapi ini yang beli mateng juga banyak berarti ya?"
"Iya... Eh, Ron, mau jajan nggak? Itu ada yang jualan," tanya Salma, Rony mengangguk.
Sebuah penjual makanan menggunakan gerobak dorong. Di gerobaknya tertulis gilo-gilo. Jualannya berupa gorengan, baceman, sate telur, sate usus, dan sebagainya. Seperti di angkringan. Yang berbeda adalah dijualnya buah potong, semangka, melon, pepaya dan nanas. Tentu saja, merahnya buah semangka yang menarik Salma untuk membeli. Buah favorite nomor 2.
KAMU SEDANG MEMBACA
Katakan [End]
FanfictionCerita mengenai perjodohan lelaki dan perempuan yang tidak mudah. Perjalananan panjang untuk bersatu bertemu cinta. Seperti layaknya perjalanan, dalam prosesnya bertemu jalan yang berlika liku juga tanjakan dan turunan. Sebuah perjalanan menelusuri...
![Katakan [End]](https://img.wattpad.com/cover/347744651-64-k971590.jpg)