44 Settle the Matter

11.5K 676 39
                                        

Suara tepuk tangan riuh mengakhiri pertunjukkan. Salma dan Rony melepas genggaman tangan mereka untuk bertepuk tangan. Ada kelegaan karena acara sudah terlaksana hingga selesai.

Selesai pertunjukkan bukan berarti selesai waktu bekerja bagi penyelenggara. Mereka masih harus mengurusi berbenah. Tugas Rony kembali beredar menemui para tamu dan kolega, saling berjabat tangan. Rony meminta Salma bergabung dulu dengan teman-temannya, Novia, anggis dan Nabila, mereka duduk di bawah pohon tabebuya berbunga kuning. Ada sebuah bangku taman disana ditemani dua kursi. Mereka menunggu tim cowok menyelesaikan koordinasi dengan crew yang mendukung acara ini. Memastikan semua property aman, mengurus performer dan urusan panggung serta kelengkapannya.

"Tunggu ya..." ucap Rony pelan di telinga Salma sebelum dia meninggalkan perempuan itu.

"Sal, Lo oke kan?" tanya Novia yang melihat Salma hanya diam sedari tadi, padahal dia tahu Salma adalah sosok yang ramai.

"Kak Salma masih nggak enak badan kah?" Nabila menambahi pertanyaan.

"Aman kok gaes, agak capek aja," Salma menjawab pelan namun matanya sesekali mengekor dimana Rony berada.

"Hatimu kan yang nggak aman?" ungkap Novia yang to the point.

"Apaan si Nov," mereka tergelak melihat tingkah Salma.

"Oh.... tadi aku liat Bella si," ungkap Nabila polos.

"Nggak cuma Bella, Nab. Yang lain banyak juga yang datang..." Novia menimpali.

"Apaan si kalian," kilah Salma.

"Sabar ya kak Salma, Kak Rony emang casanova...." Anggis ikut bersuara untuk menggoda.

"Dih, casanova, cassassava iya. Telo! Ya, nggak papa, kan nggak ada apa-apa," kilahnya lagi.

"Nggak ada apa-apa tapi satu lagu terakhir udah kayak truk aja,"

"Apaan tuh kak Nov?" tanya Nabila bingung.

"Gandengaaaan,"

Mereka tertawa, Salma semakin kikuk. Dia berpura membenarkan jilbabnya, tidak bisa mengelak. Pandangannya tidak terarah, kadang ke lampu, kadang ke pohon, kadang menunduk ke rumput.

"Ciye ciye... kalian lucu deh," Anggis masih melanjutkan godaan.

"Tenang, Sal. Rony seserius itu sama Kau. Banyak yang suka samanya, tapi menurutku yang udah lama jadi temennnya, cuma samamu dia berbeda," ungkap Novia, nampak santai namun mendalam. Nabila dan Anggis mengangguk meyakinkan Salma. Salma hanya tersenyum tipis, ditahannya senyumnya melebar karena salah tingkah.

Sekali lagi mereka tertawa bersama yang mengundang para tim cowok penasaran. Paul langsung menghampiri.

"Ada apa nih ribut-ribut?" tanyanya, tidak mendapat jawaban dia langsung menatap Nabila, penasaran.

"Nanti deh aku ceritain," jawab Nabila.

"Yah, penasaran," Paul sedikit kecewa.

"Wei, seru kali rupanya kalian," ungkap Danil yang mulai bergabung.

"Nov, gue udah kelar nih. Mau balik duluan ke studio?" tawar Neyl yang rupanya sudah diantara mereka. Dia memang berpacaran dengan Novia.

"Keknya Diman sama Rahman belum selesai, kita tunggu bentar ya Bang, kita bareng aja," jawab Novia.

Sambil menunggu teman-temannya selesai semua, Salma menangkap sosok Rony sedang berbicara  dengan Bella. Mereka nampak serius. Tangan Rony sesekali mengusap rambutnya kasar. Bahkan Rony nampak menghentakkan tangannya terbuka seperti bilang, 'terserah'. Entah apa yang mereka bicarakan. Namun sepertinya cukup tegang. Perasaan Salma jadi gelisah, dia berusaha berpegang teguh pada ucapan Rony, penjelasan. Sabar Salma... batinnya dalam tarikan nafas yang dalam.

Katakan [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang