48 Favourite Fruit

12.4K 644 17
                                        


Salma menuju dapur kecil di rumah itu cepat-cepat. Mencari-cari perkakas untuk sekedar membuat minuman. Tapi karena rumah ini lama tidak ditempati, maka beberapa perkakas sepertinya disimpan, mungkin menghindari debu-debu.

"Ron, gelas dimana ya?"

"Di laci kayaknya. Ini keknya dispenser nggak dinyalakan, masak air aja, Sa," pinta Rony.

Salma mengikuti instruksi Rony, mengambil teko, mengisi air dan memasaknya.

"Gue ambil kopi dulu di mobil," ucap Rony.

"Gue aja Ron, Lo jangan banyak gerak. Sini mana kuncinya?"

"Ga papa kok, Sa," Rony masih menyangkal.

"Udah gue aja! Buruan kunci mobilnya," pinta Salma.

Setelah menerima kuncinya, dia berlalu ke carport. Dia memaksa karena ingin menyembunyikan perasaannya yang gak karuan. Dia masih malu mengetahui rupanya Rony menyimak obrolan semalam dan juga sebuah.... Dia berlama-lama di carport. Berkutat dengan pikirannya sendiri.

Ehm, Rony mau ngomong apa ya tadi? Apakah Rony akan membahas mengenai semalam? Malu. Atau dia justru mau bahas soal komitmen? Dia harus bilang apa kalau-kalau Rony membahas hal itu? Aagh! Salma, kenapa ceroboh sekali si...

"Lama amat?" komentar Rony saat Salma kembali ke dapur.

Salma tidak menyahut, otaknya masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia meletakkan kopi, teh dan lemon di meja. Rony duduk di kursi menghadap meja kitchen island tersebut. Salma menyiapkan kopi dan teh di gelas, juga memotong satu slice Lemon lanjut menyeduh dua gelas itu begitu air mendidih. Menggeser gelas kopi ke hadapan Rony. Rony tersenyum.

"Sa, urusan tempat tinggal Lo sudah aman, berarti Lo udah mau balik Jogja ya?" tanya Rony sedih.

"Iyah, rencana gue besok si," ucap Salma sembari mendudukan di kursi lainnya di seberang Rony.

Rony tidak menanggapi. Dia benar-benar sedih. Dipandanginya kopi di gelas yang ia genggam gagangnya. Waktu benar-benar terasa cepat berlalu.

"Ga usah sedih si, kan jadi ikut sedih," Salma berseloroh.

Rony mencoba tersenyum.

"Eh, gimana soalan travelling? Lo mau nggak?" tanya Rony membahas rencana yang ia tawarkan karena Salma sudah membantunya di acara kemarin.

"Ehm, gue bingung,"

"Ya, Lo-nya gimana dulu, mau enggak?"

"Sebenernya gue mau. Gue pengen banget," jawab Salma dengan wajah memelas.

"Lo udah ngomong ke bokap Lo?"

"Gue nggak berani, Ron," jawab Salma sambil menunduk mengaduk-aduk gelas lemon tea-nya.

"Apa karena sama gue? Kan gue udah bilang, as a friend?"

"Nggak gitu maksud gue, cuma gue belum ngobrol sama papah-mamah secara langsung soalan kita ketemu kali ini. Setelah kejadian waktu itu. Kayaknya ga enak aja gitu kalau gue minta ijinnya nggak langsung,"

"Apa perlu gue yang ngomong?"

"Eh, maksud Lo?"

Rony menimbang-nimbang pikirannya, apakah ide spontan ini akan berhasil.

"Ehm, gue telepon bonyok Lo, kita langsung berangkat dari sini," ungkap Rony.

"Nggak gitu Ron, jangan impulsif. Gue juga perlu ke dokter untuk check tangan gue. Gue juga udah lama nggak pulang, gue kangen papah-mamah gue Ron," Salma nampak murung di ujung kalimatnya.

Katakan [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang