08.00 AM.
Jennie duduk di meja makan, rambutnya masih acak-acakan, mengenakan hoodie kebesaran dan celana pendek. Di depannya ada semangkuk sereal yang belum disentuh. Ia menggulir ponsel dengan satu tangan, tangan lainnya menopang dagu.
Dari dapur, terdengar suara mesin kopi. Bukan suara yang keras, tapi cukup kontras dalam keheningan rumah itu.
Tak lama, Jisoo muncul dengan dua cangkir kopi. Salah satunya diletakkan di depan Jennie, tanpa diminta.
"Kau ingat bagaimana aku suka kopiku?" tanya Jennie, sedikit terkejut.
"Satu sendok gula, tanpa krimer. Anda mengatakannya dua hari lalu," jawab Jisoo singkat, lalu duduk di seberang meja.
Jennie mengangguk kecil. "Kupikir kau tidak terlalu memperhatikan."
"Pekerjaan saya adalah memperhatikan," balas Jisoo, tapi nadanya tak sekaku biasanya. Lebih lunak. Lebih seperti... teman?
Jennie mengambil sendok dan mulai mengaduk serealnya pelan. Tidak buru-buru makan.
"Kalau begitu, kau tahu aku tidak benar-benar suka sereal ini," gumamnya.
"Tapi Anda membelinya sendiri di toko."
"Karena bungkusnya lucu."
Jisoo tersenyum kecil. Senyum yang tidak tampak di hari-hari pertama mereka tinggal bersama, tapi akhir-akhir ini tanpa disadari lebih sering muncul.
Setelah beberapa saat, Jisoo berdiri. Ia membuka lemari dan mengeluarkan roti, lalu mulai memanggangnya. Tanpa berkata apa pun.
Jennie memperhatikannya dalam diam, lalu bertanya, "Apa kau akan membuat sarapan untuk kita berdua?"
"Tidak, hanya untuk Anda. Saya sudah makan tadi," jawab Jisoo sambil membalik roti panggangnya.
"Kenapa repot-repot?"
'Karena Anda tidak akan menyelesaikan sereal itu," balasnya tenang.
Ucapan itu seharusnya terasa seperti teguran, tapi dari mulut Jisoo, ia terdengar seperti... perhatian.
Dan Jennie tahu. Perhatian yang bukan datang dari pekerjaan. Bukan tugas. Tapi pilihan.
Beberapa menit kemudian, seiris roti panggang disajikan di hadapannya, dengan selai stroberi tipis dan sebutir telur rebus di sisi piring.
"Ini bukan makan pagi yang biasa kumakan," ucap Jennie pelan.
"Coba saja dulu. Mungkin Anda akan menyukainya."
Jennie menatapnya sebentar, lalu menyantap roti itu tanpa komentar lagi.
Jisoo duduk kembali di seberang, meminum kopinya sambil membaca ponsel.
Untuk sesaat, mereka hanya duduk begitu. Makan pagi di ruang makan kecil, dengan bau kopi dan roti hangat, dalam keheningan yang nyaman.
Dan di antara suap roti dan seruput kopi, tidak satu pun dari mereka menyebut bahwa pagi itu terasa... berbeda.
Tapi dari cara Jennie tak lagi menyentuh ponsel selama sarapan, dan dari cara Jisoo tidak buru-buru berdiri setelah selesai minum, keduanya tahu—mereka sedang membangun sesuatu. Perlahan. Tapi pasti.
Saling mengandalkan bukan selalu soal menyatakan, "Aku ada untukmu." Kadang, itu soal membuatkan roti saat tahu seseorang tidak suka serealnya.
Jennie diam-diam tersenyum, betapa manisnya bentuk perhatian Jisoo padanya.
"Kurasa... aku benar-benar jatuh padanya."
~
Lampu ruang tengah sudah diredupkan. Layar televisi masih menyala, tapi volumenya dikecilkan. Kartun konyol yang tadi mereka tonton sudah berganti menjadi film dokumenter tentang hewan malam di hutan Amazon. Tidak ada yang terlalu memperhatikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fiksi Penggemar[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
