1. Doin Less, Fallin Harder

810 102 1
                                        

Happy reading~




Sudah satu minggu sejak Jennie mulai bertingkah seolah dunia bisa menunggunya. Bangun siang, latihan setengah hati, dan menjawab manajer dengan tatapan kosong seakan keberadaannya adalah semata-mata bagian dari dekorasi ruangan.

Semua orang menyalahkan kelelahan fisik—jadwal yang padat, tidur yang tak menentu, tekanan dari netizen yang terlalu lihai membaca gerak bibir.

Tetapi Jisoo—sang Bodyguardnya, tahu lebih dari itu.

"Pakaian hari ini—kemeja putih longgar dan celana bahan abu-abu. Anda tidak ingin terlihat terlalu mencolok, saya paham," ucap Jisoo, menyerahkan pakaian yang sudah disetrika dengan lipatan rapi.

Jennie hanya mendengus pelan. Duduk di tepi ranjang dengan rambut acak-acakan, dia terlihat seperti mahasiswa yang menyesal mengambil kelas jam tujuh pagi.

"Aku tidak mengerti kenapa harus ke wawancara itu. Mereka akan menanyai hal yang sama: siapa inspirasiku, bagaimana aku menjaga tubuhku, dan siapa yang sedang dekat denganku. Pertanyaan terakhir itu akan kubalas dengan menghela napas saja."

Jisoo menunduk sekilas, lalu kembali berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang. "Anda tidak perlu menjawab semua dengan jujur. Beberapa jawaban bisa berupa ilusi yang dirangkai demi kenyamanan publik."

"Ah, lihat? Bahkan kau tahu aku harus berbohong. Aku merasa seperti tokoh drama yang naskahnya ditulis oleh orang yang tidak pernah jatuh cinta," gerutu Jennie, kali ini berdiri dan mulai mengenakan bajunya—tanpa banyak usaha merapikan rambutnya.

Yang membuat Jisoo heran, bukan perubahan Jennie yang semakin sembrono. Tapi justru kenapa, semakin sang idol itu berhenti mencoba untuk terlihat ‘sempurna’, dia justru jadi semakin menarik perhatian.

Misalnya hari ini. Tanpa riasan penuh, tanpa senyum setengah paksa, dan dengan gumaman sarkastik setiap lima menit, Jennie malah lebih memukau daripada saat dia tampil di atas panggung.

"Apakah aku terlihat acak-acakan?" tanya Jennie tiba-tiba saat mereka sudah dalam mobil.

Jisoo menoleh singkat. "Sedikit. Namun, kejujuran Anda terlihat lebih utuh dalam kondisi seperti ini."

Jennie terkekeh. "Itu cara halus untuk bilang aku jelek."

"Bukan maksud saya demikian," jawab Jisoo cepat.

"Santai, Ji. Aku tidak akan menurunkanmu dari mobil hanya karena itu." Jennie menyandarkan kepalanya ke jendela, melihat ke luar sejenak sebelum bertanya, "Kenapa kau tidak pernah panik di dekatku? Padahal aku ini selebriti. Harusnya kau merasa gugup atau setidaknya kikuk sesekali."

Jisoo menatap lurus ke depan. "Karena saya tidak melihat Anda sebagai figur yang harus ditakuti. Saya melihat Anda sebagai manusia yang barangkali, sedang merasa terlalu lelah untuk terus berpura-pura."

Mobil berhenti di lampu merah. Dalam sepersekian detik keheningan, Jennie memandang Jisoo lama-lama.

"Jadi, kau tidak tertarik padaku, begitu?"

Jisoo mengernyit. "Itu bukan pertanyaan yang patut dijawab di tengah lalu lintas."

"Tapi bukan jawaban ‘tidak’, ya?"

"Bukan pula jawaban ‘ya’."

Jennie tertawa pelan, menutupi wajahnya dengan tangan seolah baru saja menertawakan lelucon paling tidak pantas di dunia. "Sial. Aku mulai menyukai percakapan kita yang aneh."

"Begitu pun saya. Meskipun... kadang saya merasa Anda menyukai percakapan hanya karena Anda bisa mengalihkan perhatian dari hal yang sebenarnya Anda pikirkan."

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang