Sejak kecil, jarak usia lima tahun itu tidak pernah benar-benar terasa sebagai jarak. Jisoo tumbuh lebih dulu, lebih cepat memahami dunia, lebih cepat memikul tanggung jawab—sementara Jennie mengikuti dari belakang dengan langkah yang kadang terburu, kadang malas, namun hampir selalu searah. Di lingkungan yang sama, dalam rumah yang saling berhadapan, kebiasaan terbentuk tanpa perlu kesepakatan. Jennie datang dan pergi, Jisoo membuka pintu dan membiarkan.
Pagi itu, pintu kamar Jisoo terbuka sebelum ketukan sempat terjadi.
"Aku masuk," ujar Jennie, sudah melangkah setengah badan ke dalam.
Jisoo menoleh dari meja kerjanya. "Kau tahu kebiasaan mengetuk, bukan?"
Jennie mengangkat bahu, menutup pintu dengan kaki. "Kalau aku mengetuk, kau bisa saja pura-pura tidak dengar."
Jisoo menghela napas pendek, lalu kembali pada layar laptop. "Kau sudah sarapan?"
"Belum," jawab Jennie sambil menjatuhkan tas ke kursi. "Aku akan belajar. Janji."
Kata belajar diucapkan dengan nada yang terlalu sigap, seakan hendak menutup kemungkinan pertanyaan lanjutan. Jisoo memutar kursinya, menatap Jennie sebentar—cukup lama untuk membaca wajah polos itu.
"Ujian akhir tinggal beberapa minggu," kata Jisoo. "Kau tahu itu."
"Aku tahu," Jennie menyahut. "Makanya aku ke sini."
Jisoo berdiri, merapikan buku-buku di meja kecil dekat jendela. "Duduk. Kita mulai dari yang paling tidak kau sukai."
"Matematika," Jennie menjawab tanpa ragu.
"Benar," kata Jisoo. "Dan karena itu, kita mulai dari sana."
Jennie meringis, namun tetap menarik kursi dan duduk. Ia membuka buku dengan gerakan setengah hati. Dari jendela, suara alam sekitar terdengar biasa saja—kendaraan lewat, pintu pagar berderit, percakapan tetangga. Hal-hal yang sejak lama menjadi latar tetap kehidupan mereka.
Jisoo mengambil pulpen, menandai halaman. "Coba kau jelaskan yang ini. Jangan menghafal. Pahami alurnya."
Jennie menunduk, membaca soal, lalu terdiam. Beberapa detik berlalu.
"Aku lupa," katanya.
"Lupa atau tidak pernah benar-benar mengerti?" tanya Jisoo, suaranya tenang meski wajahnya agak menyeramkan.
Jennie menggigit bibir, lalu mengangkat wajah. "Yang kedua."
Jisoo mengangguk kecil. "Baik. Kita ulang dari awal. Sampai kau mengerti."
Ia menjelaskan perlahan, tidak terburu, tidak meninggikan suara. Setiap kalimat disusun rapi, seperti kebiasaan Jisoo dalam banyak hal. Jennie mendengarkan—kali ini lebih sungguh—sesekali bertanya, tapi lebih sering mengangguk. Di sela penjelasan, Jisoo berhenti.
"Perhatikan bagian ini," katanya sambil menunjuk. "Di sini kau sering keliru karena terburu-buru."
Jennie mendekatkan wajah ke buku. "Karena aku malas membaca panjang."
"Itu bukan alasan," jawab Jisoo. "Itu kebiasaan. Dan kebiasaan bisa diubah."
Jennie tersenyum tipis. "Kau selalu terdengar seperti orang dewasa."
Jisoo menatapnya. "Aku memang orang dewasa."
"Kadang aku lupa," Jennie bergumam.
Kalimat itu tidak ditanggapi segera. Jisoo kembali menulis, lalu berkata, "Aku tidak akan selalu di sini untuk mengingatkanmu, Jendeuk."
"Aku tahu," jawab Jennie cepat. "Aku hanya... lebih bisa fokus jika kau ada."
Jisoo berhenti menulis. Ia menatap Jennie, kali ini lebih lama. "Itu bukan alasan yang baik untuk bergantung."
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
