2. Doin Less, Fallin Harder

562 89 12
                                        

Lampu di dapur sudah dimatikan. Kopi mereka tinggal sisa dingin di dasar cangkir. Dan jam digital di dinding ruang tengah baru saja berubah dari 20:59 ke 21:00, seolah menjadi isyarat bahwa percakapan basa-basi sudah berakhir, dan kini giliran kesunyian yang bicara.

Jennie duduk di lantai, menyandarkan punggung pada sofa, sementara Jisoo masih mempertahankan posisi duduk yang kaku di tepi karpet.

Tangan Jennie sibuk memainkan remote TV tanpa benar-benar menyalakan apa pun. Sesekali ia melirik ke arah Jisoo—yang entah kenapa tetap memakai jaket kerjanya meski udara di ruangan terasa hangat.

"Kau tidak lelah menjaga postur seperti itu terus-menerus?" tanya Jennie tanpa menoleh.

"Saya sudah terbiasa," jawab Jisoo cepat. Namun jawabannya terdengar seperti pembelaan, bukan pernyataan.

Jennie tertawa kecil. "Lelah itu tidak selalu terasa. Tapi lama-lama bisa bocor juga. Dari tatapan, dari nada bicara, dari diam yang terlalu panjang." Ia mengangkat kepalanya dan menatap Jisoo langsung. "Dan kau mulai bocor."

Tidak ada balasan segera. Hanya suara AC yang berdengung pelan, dan detik jam yang terdengar terlalu nyaring dalam keheningan malam.

Akhirnya, Jisoo menunduk. "Saya tidak tahu harus bagaimana... saat Anda tidak sedang berperan sebagai Jennie yang publik kenal."

"Aku tidak tahu juga," sahut Jennie pelan. "Tapi aku tahu satu hal: aku tidak sedang berperan malam ini."

Mereka diam lagi. Tapi diam yang kali ini lebih dalam, seolah keduanya sedang berdiri di batas tak kasat mata. Batas antara siapa yang seharusnya menjadi siapa, dan siapa yang benar-benar mereka rasakan satu sama lain.

Lalu Jennie berkata, "Aku tidak menyukai orang dengan cepat. Tapi aku mudah terikat pada hal-hal kecil. Cara kau menatapku saat aku hampir jatuh di tangga. Cara kau tidak pernah menyentuhku kecuali benar-benar diperlukan. Bahkan cara kau tidak tertawa ketika aku mencoba melucu—itu... entah kenapa, terasa jujur."

Jisoo mengangkat kepalanya perlahan. "Itu karena saya menganggap Anda... bukan sesuatu yang boleh saya sentuh sembarangan."

"Dan jika aku ingin disentuh?" tanya Jennie.

Jisoo tidak langsung menjawab. Ia menunduk, menekankan genggaman pada lututnya sendiri, lalu berkata dengan suara nyaris gemetar, "Maka saya akan kehilangan batas. Dan jika saya kehilangan batas, saya takut... kehilangan pekerjaan, kehilangan objektivitas, dan yang paling buruk—kehilangan Anda dalam bentuk yang paling benar."

Seketika, ruang di antara mereka berubah. Bukan menjadi lebih dekat atau lebih jauh, tapi menjadi lebih jujur. Tidak ada rayuan. Tidak ada permainan peran. Hanya dua perempuan yang duduk dalam jarak yang cukup dekat untuk mendengar denyut napas satu sama lain, namun cukup jauh untuk tahu mereka belum sepenuhnya siap menjangkau.

Jennie berdiri perlahan. Ia melangkah ke kamar, tapi sebelum hilang di balik ambang pintu, ia menoleh.

"Aku tidak butuh kau kehilangan objektivitas, Jisoo. Aku hanya ingin kau berhenti berpura-pura tak merasa apa-apa. Selamat malam."








•••







Pagi datang seperti biasa. Matahari menyelinap lewat celah tirai jendela apartemen. Tidak ada alarm yang berbunyi. Tidak ada suara gaduh khas rumah idol dengan agenda padat.

Jennie bangun lebih awal dari biasanya. Mungkin karena tidurnya gelisah, atau mungkin karena perasaan yang ia tinggalkan tadi malam belum sepenuhnya larut. Ia berdiri lama di depan cermin, hanya mengenakan kaus longgar dan celana pendek, menyisir rambut tanpa niat merapikan, lebih karena ingin menyibukkan tangan.

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang