4. Doin Less, Fallin Harder -End.

594 94 12
                                        


Pukul sembilan malam, bel pintu berbunyi.

Jennie yang mengenakan sweater tipis dan kaus kaki belang duduk terpaku di sofa, tubuhnya bersandar malas seperti balok kapuk yang kehilangan rangka. Ia tidak menyangka ada yang akan datang. Siapa pun itu, semestinya bukan kabar baik.

Ia membuka pintu tanpa basa-basi. Dan di sana berdiri seorang perempuan muda, tinggi, berambut cepak, mengenakan seragam hitam standar yang terlalu asing untuk membuat Jennie nyaman.

"Selamat malam. Saya Seulgi, ditugaskan menggantikan pengamanan Anda mulai malam ini."

Jennie diam. Pundaknya menegang seketika. Matanya menelusuri wajah Seulgi seolah mencari sisa-sisa Jisoo di sana—tidak ada.

"Ganti... apa?"

"Pengamanan, Nona. Saya menerima instruksi dari agensi Anda. Mulai malam ini, saya akan menggantikan posisi Bodyguard Kim Jisoo."

Jennie tidak membalas.

Ia mundur selangkah. Tidak memberi izin masuk, tapi tidak juga menutup pintu.

"Kemana dia?" tanyanya, akhirnya.

Seulgi mengerjap. "Saya tidak diberi penjelasan. Hanya surat tugas dan informasi jadwal Anda minggu ini."

"Kau tidak tahu apa pun tentang dia?"

"Tidak, Nona."

Sepi mengalir cepat. Jennie mematung, wajahnya sulit dibaca—percampuran bingung, marah, dan rasa tidak penting yang menyelinap masuk tanpa izin.

"Masuk saja," katanya lirih. "Kau bisa duduk di ruang tamu."

Seulgi mengangguk dan melewati ambang pintu.

Jennie berjalan ke kamar, menutup pintu perlahan. Tidak menguncinya, tapi membiarkannya separuh tertutup.

Ia berdiri di tengah ruangan. Tak tahu harus melakukan apa.

Hatinya berkecamuk, tapi tak punya nama yang pas untuk setiap emosi. Ia tidak ingin panik—tapi kepalanya penuh bayangan buruk. Ia tidak ingin merasa ditinggalkan—tapi perasaan itu menjalar begitu saja, diam-diam dan pasti.

‘Kenapa dia tidak bilang apa-apa?’

‘Kenapa dia pergi begitu saja?’

‘Apa semua yang kemarin hanya kebetulan hangat yang tidak berarti apa-apa?’

Ia menggenggam ponsel. Masih satu centang. Masih tidak ada pesan baru.

Dan ia merasa seperti gadis kecil yang duduk sendiri di tangga panggung kosong, menunggu seseorang menjemputnya pulang—dan tidak ada yang datang.






~






Tiga hari kemudian, di sebuah kompleks pemakaman kecil di pinggiran Busan.

Jisoo berdiri diam di hadapan nisan yang baru. Matanya bengkak, tapi tidak menangis. Ia sudah kehabisan air mata sejak hari pertama, ketika rumah masa kecilnya hanya menyisakan keheningan, dan aroma asin dari dapur yang tak lagi bisa ia temukan.

Ibunya meninggal mendadak karena serangan jantung. Tidak ada peringatan, tidak ada pesan terakhir.

Dan dalam ketergesaan yang kacau, ia hanya sempat meninggalkan sebuah memo di meja asrama agensi pengawal: Saya perlu waktu. Jangan beri tahu siapa pun dulu.

Ia tahu itu salah. Tapi saat itu, ia tidak ingin menjelaskan apa-apa. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan siapa pun. Terutama di depan Jennie.

Karena... ia takut. Takut bahwa jika ia terbuka terlalu banyak, Jennie akan masuk lebih dalam ke hidupnya. Dan ia belum siap.

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang