Diriku memohon maaf lagi guys updatenya lama.
Upload ulang ya manteman, diriku salah edit tadi.😭😭😭
Happy reading all!!!!
Awal pagi Damian, dimulai dengan membangunkan putra tunggalnya yang masih tertidur nyenyak.
Jam menunjukkan pukul 5 lewat 45 pagi, dan putranya memiliki jadwal latihan fisik rutin yang harus dilaksanakan.
Meski sedang liburan, latihan fisik tetap dijalankan, guna mempertahankan stamina putranya.
"Didi, putra papa, time to wake up, sayang." Suara Damian, mengalun begitu lembut di dekat telinga Deva. Jari telunjuknya mengusap pipi Deva.
Tidak ada tanda-tanda putranya akan terbangun, Damian, kembali memanggilnya dengan suara berat nan lembutnya. "Kecil, bayinya papa, anak kesayangan papa, malaikatnya papa, ayo bangun."
Kelopak mata Deva, bergerak. Sayup-sayup rungunya mulai menangkap suara. Awalnya suara itu terasa jauh, yang semakin lama suara itu semakin jelas terdengar. Ketika Deva, membuka matanya, dalam pandangan buram Deva, menangkap siluet seseorang. Deva, berkedip beberapa kali guna memperjelas pandanganya. Begitu, pandangan yang Deva, lihat jelas, ada sang ayah yang sudah memasang senyum dan mengucapkan sapaan pagi untuk menyabut paginya.
"Good morning, Didi."
Senyum Deva, terbit ketika melihat senyuman sang ayah yang menyabutnya ketika membuka mata. "Good morning, papa." Balasnya, suaranya masih serak.
"Tidur Didi, nyenyak? Atau Didi, ada bermimpi?"
"Emm... sepertinya tidak a... oh tadi Didi, mimpi seperti dikerjar orang, tapi Didi, tidak bisa lari, rasanya kaki Didi, seperti ada yang mengikat. Didi, mau minta tolong, tapi suaranya tidak terdengar, bahkan Didi, tidak bisa mendengar suara Didi, sendiri. Tapi anehnya papa, orang yang kejar Didi, kan berlari, sedangkan Didi, tidak bisa berlari, tapi orang itu tidak sampai-sampai pada Didi. Terus Didi, bangun karena dengar suara papa." Adunya. Menceritakan mimpi yang dialaminya. "Papa, pernah mimpi seperti itu juga tidak?" Tanya Deva.
"Pernah. Sepertinya mimpi seperti itu hal yang biasa. Malah kadang papa, sampai tertangkap." Ujar Damian.
"Uhh... seram sekali sampai bisa ditangkap. Didi, saja yang cuma dikejar takut." Deva, membuat ekspresi ketakutan ketika membayangkan jika sosok itu menangkapnya. "Bisa tidak Didi, tidak mimpi seperti itu lagi? Kalau ada caranya, papa, juga ikutan, supaya papa, tidak bermimpi seperti itu lagi!
Damian, terdiam. Baru tersadar, kenapa dirinya tidak terpikirkan hal itu. Damian, menganggap jika mimpi seperti itu hal yang biasa karena bukan mimpi buruk. Namun, jika terus berulang bukankah ada yang salah?
"Papa, tidak tahu. Mungkin kita bisa bertanya dengan Rowan. Pasti dia, punya jawabannya."
Mendengar perkataan sang ayah, Deva, merasa lega. Dalam benaknya, Rowan, selalu punya jawaban dan cara untuk mengatasi rasa takutnya.
"Iya, nanti kita call Rowan."
Damian, tersenyum mendengar sahutan putranya. "Kalau begitu, sekarang waktunya Didi, sikat gigi dan bersiap untuk olahraga." Damian, mengangkat tubuh putranya dan menggendongnya, lalu berjalan kearah kamar mandi.
Setelah sampai kamar mandi, Damian, menurunkan putranya tepat diatas tangga kecil, lalu mengambil sikat gigi dan memberikan sikat gigi yang diatasnya sudah ada pasta gigi pada putranya.
"Didi, sikat gigi dulu, papa, mau menyiapkan baju olahraganya." Setelah berkata seperti itu, Damian, meninggalkan putranya yang sedang menggosok gigi.
Tidak berapa lama, Damian, masuk kembali kedalam kamar mandi, guna melihat apakah putranya sudah selesai dengan acara menggosok giginya atau belum, dengan membawa setelan yang akan dipakai putranya.
