"Jadi, apa yang dad khawatirkan ? Tidak masalah bukan kalau Dylan menjadi kuat ?" Heran Jess setelah mulai memahami semuanya.
"Jika dia menjadi kuat, bukankah resiko kau akan diserang semakin besar ? Apalagi dia sering berada di dekatmu." Ayah Jess menatap tajam ke arahku.
Aku langsung terlonjak mendengarnya.
"Saya tidak seperti itu om ! Walaupun saya menjadi kuat, tapi tak pernah terbayang sekalipun saya akan menyerang Jess hanya demi sebuah keserakahan belaka !" Suaraku meninggi dan aku berdiri tiba-tiba dari tempat dudukku.
Mereka semua terdiam dan Jess nampak tersipu-sipu.
Melihat mereka tertegun dengan suaraku yang membesar, aku pun malu dan berdeham kembali duduk.
"Saya bukan orang yang tidak tahu diri dengan menyerang orang yang sudah menyelamatkan saya... setidaknya saya berhutang budi pada Jess..." kataku kembali memandang serius ke arah kedua orangtua Jess.
"Jika kau merasa berhutang dengan Ica, bisakah kau bersumpah di depan kami bahwa kau tidak akan mengkhianati kami ? Tentu saja dengan sumpah magis." Ayah Jess terlihat tenang sekali saat mengatakan itu semua.
Aku tidak takut mendengar kata itu sama sekali.
"Ya, saya bisa om. Saat ini juga jika om menginginkannya." Tegasku.
Ayah Jess tersenyum, "Bagus. Kau memang pemuda yang bertanggung jawab."
Bertanggung jawab ??? Memangnya aku menghamili anak orang ???
(=A=")a
Ayah Jess ternyata bukan menggertakku, ia memang bersungguh-sungguh untuk melakukan sumpah magis itu. Dan aku sebagai seorang vampir, aku pun tahu bagaimana cara melakukan sumpah itu.
Jess hanya memandangi kami dengan bingung saat aku dan ayah Jess berdiri.
Dengan satu kibasan tangan, ibu Jess menghilangkan meja yang berada di depan kami tadi hingga ruang keluarga itu menjadi lebih luas.
Tangan kanan ayah Jess teracung ke samping tubuhnya.
SRIING...
Sebilah pedang perak muncul di genggamannya hingga membuat Jess semakin takjub. Aku sudah meneguk ludah karena tegang mengikuti langkah berikutnya.
Ayah Jess memberikan pedang itu padaku. Aku langsung menerimanya dan dapat merasakan panas di telapak tanganku yang memegang logam putih itu.
Tidak sakit, tapi cukup membuatku mengernyit.
Aku memejamkan mata berusaha tidak memikirkan bagaimana rasa sakit yang akan ku dera sebentar lagi.
JLEB !
Kutusukkan langsung pedang itu ke jantungku hingga membuat Jess memekik kaget melihat darahku berhamburan di lantai.
"Dylan !!! Dad hentikan !!! Kau ingin membunuhnya ???!" Teriak Jess langsung berdiri berusaha menghampiriku tapi ibunya menghalanginya.
"Dia tidak akan mati, sayang... duduklah tenang dan lihat saja..." kata ibunya hingga membuat Jess kembali duduk walaupun ia menggigit bibir bawahnya dengan pucat pasi.
Apakah aku merasa sakit ? Tidak.
Vampir tidak merasakan sakit jika kulitnya ditusuk dengan logam putih. Walaupun terkadang film sering melebih-lebihkan dengan vampir berteriak setiap kali ditusuh logam putih. Yah, memang manusia suka membuat film lebay...(=__=")
Yang bisa kurasakan hanyalah rasa panas yang menjalari tubuhku.
Tanganku masih memegang pegangan pedang itu.
Kutarik napasku dalam-dalam karena merasa sedikit sesak.
"Saya, Dylan Oscar bersumpah tidak akan menyerang, mengkhianati, melukai, bahkan membunuh Jessica Palmore sang keturunan bangsa Witch. Jika saya melanggar sumpah ini, saya bersedia memberikan nyawa saya kepada Jessica Palmore hingga kekuatannya kembali lagi padanya." Kataku sambil masih memejamkan mata.
Kucabut bilah pedang itu dan aku mengambil darah yang menempel di sana, kugoreskan darahku di lantai hingga membentuk pentagram dengan diriku yang menjadi pusatnya.
Setelah membentuk pentagram itu, aku mengoleskan darahku di kedua jariku dan mengangkat tanganku untuk mengesahkan sumpahku.
"Dylan Oscar dari kaum vampir membuat sumpah magis ini pada kaum Witch yang agung." Kataku kembali dan aku mengecup kedua jariku yang berdarah itu.
Jess memperhatikan dengan membelalak saat darahku yang membentuk pentagram bersinar terang dan menghilang seperti di sedot oleh lantai keramik itu.
Pedang perak itu pun kujatuhkan secara vertikal dengan mata pedangnya langsung menghujam lantai.
Alih-alih, jatuh berdenting di lantai, pedang itu seakan menembus lantai juga dan menghilang. Luka tusukan di dadaku pun seakan mengerut menutup walaupun akhirnya menyisakan bekas luka keperakan di kulit mulusku. (=___=")
Ritual sumpah selesai.
Aku langsung terbatuk seakan oksigen baru saja masuk ke pernapasanku dan memegangi dadaku yang terasa ngilu.
Aku memegang sandaran sofa karena merasa tubuhku sangat lemas. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku mau terlibat lebih jauh dengan keluarga ini hingga harus membuat sumpah yang bisa membahayakan nyawaku.
Jess langsung menghampiriku dan aku bisa melihat raut wajah cemas pada dirinya.
"Kau baik-baik saja ???" Tanyanya pelan.
Aku hanya mengangguk tanpa sanggup berkata apa-apa.
"Kau telah melakukannya, Dylan. Sekarang keluarga Palmore bisa mempercayaimu berada di dekat Ica." Kata ayah Jess. Aku kembali mengangguk kecil dengan letih.
"Apa om juga melakukan sumpah ini pada Dave ?" Pertanyaan itu timbul tiba-tiba di pikiranku hingga memaksa suara serakku untuk berbicara.
Orangtua Jess saling berpandangan.
"Dia 'kan manusia. Untuk apa melakukan sumpah magis ?" Tanya mereka dengan keheranan.
Aku langsung menaikkan sebelah alisku.
"Bicara apa om dan tante ? Dia 'kan werewolf."
KAMU SEDANG MEMBACA
Unusual Vampire
VampirosJika biasanya di film-film, vampire selalu digambarkan memiliki paras rupawan melebihi manusia biasa, hal itu sama sekali tidak terjadi padaku... Kenapa bisa kukatakan demikian ? Karena aku adalah vampire yang menyedihkan... Buruk rupa, pendek, gend...
