Aku masih ternganga tapi kakinya langsung berjalan ke arah Jess tanpa kusadari. Mataku meneliti Jess karena sosok 'perempuan'-nya sangat sulit terlihat. Yah, mungkin untuk mataku saja.
Jess tidak menyadari aku yang berjalan ke arahnya. Matanya masih terpejam mengikuti alunan musik. Aku duduk di sampingnya masih dalam keadaan melongo dan tanganku mencengkeram bahunya pelan.
Jess membuka matanya dan menoleh ke arahku. "Oh, kau." katanya sambil melepaskan headset yang dipakainya.
"J...Jess...apa benar kau perempuan ?" Tanyaku gugup. Mungkin kedengarannya konyol karena aku langsung bertanya pada si empunya. Tapi, kebenaran dari mulut pemiliknya pasti lebih membuatku percaya.
Jess mengerjap, "Ya. Memangnya kenapa ?"
Aku langsung membelalak terkejut. "Tapi, bukannya namamu seperti laki-laki ??? Umm...maksudku Jess itu 'kan sering dipakai untuk anak laki-kaki..."
"Jessica. Nama lengkapku Jessica Palmore. Cuma lebih enak mendengar orang memanggilku Jess. Kau bisa lihat 'kan kalau aku bukan tipe cewek yang terlalu feminim ?" Jess tersenyum kilat.
Aku menganggup kikuk. "Ya, terlalu tidak feminim sampai aku benar-benar mengira kau itu laki-laki tulen." gelengku pelan.
Jess tertawa mendengar kata-kataku.
"Apa aku segitu tidak menariknya ?"
"Kalau kau cowok, kau menarik." Jawabku tanpa sungkan. Jess membelalak ke arahku. Kemudian ia berdecak sambil menggelengkan kepalanya.
"Jadi cowok aja menarik, apalagi jadi cewek ??? Kau belum pernah melihatku dalam versi feminim. Mungkin jika kau melihatnya kau bisa mimisan !" Kekeh Jess.
"Dada rata kek papan gitu apanya yang bikin mimisan ??? Kecuali kau dijadikan papan pemukul baru aku bisa mimisan beneran karena tertimpuk kau." Balasku menyeringai.
"Eh, eh ! Jadi, kau dari tadi memperhatikan dadaku ya ??? Dasar mesum !" Jess menutupi dadanya dengan kedua tangan sambil tertawa. Ia tahu aku tidak serius dan itulah yang membuat Jess terlihat menarik. Dia humoris dan ceria.
"Cuma kau loh yang bilang aku tidak menarik sebagai perempuan. Hampir semua orang bilang aku sangat cantik mempesona jika memakai gaun." ujar Jess dengan pedenya.
"Trus ? Gua mesti bilang WOW gitu ???" Aku menirukan kata-kata populer dengan mimik serius. Jess tertawa seketika.
"Jadi, kalau cuman aku yang bilang, kenapa ? Kau jadi naksir padaku ???" Ejekku. Jess tergelak lagi.
"Kau kebanyakan nonton drama, Dylan. Mataku masih belum rusak sampai harus naksir padamu." Ia menjulurkan lidah mengejekku.
"Ya, ya. Kau mana mungkin naksir sama babi jelek, gendut macam aku." Hinaku pada diri sendiri. Jess membelalak. "Aku tidak bilang kau babi kok !"
Aku tertegun dan tertawa melihatnya. "Aku tau Jess. Tidak perlu sampai hampir meloncat begitu." Aku masih terkekeh melihatnya. Jess memang gadis yang baik.
Baik ? Bukankah akan sangat baik jika dia mau membantuku menyumbangkan darah ?
"Kau bicara soal darah lagi, Dylan. Ada apa sih dengan darah ?" Kernyit Jess. Aku terkesiap mendengarnya.
"Kau hobi sekali membaca pikiran orang !" seruku.
"Itu tidak bisa kuatasi, kawan. Saat aku melihat wajah orang, aku langsung bisa mengetahui apa yang dipikirkannya. Tidak bisa kukontrol."
Jawabnya tenang.
"Tapi, aku benar-benar penasaran kenapa kau sibuk memikirkan darah terus. Ada apa sih ?" Tanyanya lagi.
Aku tidak mungkin mengatakannya 'kaann ???
Kucoba untuk memikirkan memberitahunya atau tidak. Selama ini tidak ada orang yang tahu aku ini apa. Tapi, mungkin aku bisa percaya pada Jess.
Aku ini sebenarnya vampir, Jess...
Mataku menatap Jess lurus-lurus. Dia pasti membaca pikiranku barusan. Terbukti dari ekspresinya yang berubah. Matanya membesar seketika dan aku tahu dia benar-benar terkejut...
KAMU SEDANG MEMBACA
Unusual Vampire
VampirJika biasanya di film-film, vampire selalu digambarkan memiliki paras rupawan melebihi manusia biasa, hal itu sama sekali tidak terjadi padaku... Kenapa bisa kukatakan demikian ? Karena aku adalah vampire yang menyedihkan... Buruk rupa, pendek, gend...
