#26# Sok kegantengan dulu~

1.3K 128 7
                                        

Ya, aku tiba-tiba merasa percaya diri dengan penampilanku ini.
Walaupun belum terlalu banyak perubahan padaku, tapi berkat olahraga yang kulakukan tubuhku jadi lebih berotot dan nampak kekar.
Wajahku hanya tinggal mata sipit yang belum diperbaiki. Tapi, tidak masalah lah...kayak orang Asia juga keren kok ! (^0^)

Mamicitta mengajarkanku bagaimana menyambut tamu, menghidangkan minuman untuk mereka dengan cara yang anggun. Yah...repotlah...(=_=")

The Kingdom mulai didatangi pelanggan ketika menjelang malam hari. Tamu pertamaku adalah seorang wanita imut dengan rambut bergelombang sepinggang. Ia hanya datang sendiri dan terlihat malu-malu.

Mamicitta mengedip padaku agar aku segera melayani tamu ini. Aku langsung merapikan pakaianku dan berjalan ke arah si tamu.

"Selamat malam, nona. Anda ingin makan malam ?" tawarku dengan sopan dan tersenyum. Si tamu merona dan ia mengangguk.

"Silahkan ke sebelah sini." Aku menunjukkan padanya sebuah jalan menuju ruang kecil dengan sofa santai dan meja kaca.
Tamu itu duduk dengan canggung karena mungkin ini pertama kalinya ia ke tempat ini.

"Maaf, boleh saya tahu nama nona ?" Tanyaku tersenyum kembali.

"Ah, Alecia." Jawabnya dan suaranya cukup manis.

"Oh baiklah, nona Alecia. Ini daftar menunya." Kusorongkan padanya sebuah daftar menu dan ia mengambilnya.

Alecia melihat beberapa menu makanan dan menunjuk salah satunya. Aku tersenyum ke arahnya dan menunduk sopan untuk permisi.

Tidak berapa lama aku kembali membawa makanan yang dipesan oleh Alecia. Sepiring steak dengan ukuran kecil yang menurutku tidak mengenyangkan sama sekali. Mungkin kalau makan nasi padang lebih puas...(=Q=)

Aku menghidangkannya dengan segala cara yang menurutku sangat cool.
Well, Alecia terpukau saat aku menuangkan minumannya dengan satu jari kelingking yang melenting. Hahahaa...

Aku duduk di samping Alecia dengan memberikannya sedikit jarak. Alecia nampaknya sedikit risih dengan kehadiranku. Tapi, aku tidak mengganggunya dan hanya diam dengan senyum tetap terukir. Yah, bibirku cukup pegal...namanya saja cari duit...berkorban dikit gak papa lah !

Alecia kelihatan kewalahan memotong steak-nya. Kurasa karena tenaganya yang kecil, ia kelihatan seperti sedang memotong karet.

Tanpa berkata apa-apa, aku mengambil pisau dan garpunya perlahan. Alecia terkejut dengan tindakanku.

"Ti...tidak apa-apa ! Biar ku lakukan sendiri..." katanya terkejut.

"Sangat disayangkan jika gadis cantik seperti anda menguras tenaga untuk memotong steak ini. Biarkan saya membantu anda agar anda tidak kelelahan. Anda tuan putri saya malam ini..." aku tersenyum sekeren mungkin dan mengeluarkan jurus gombal yang mungkin saja berguna.

Yak ! Terbukti dengan Alecia merona merah dan nampaknya kembali terpukau olehku.

Aku memotongkan dagingnya dengan mudah dan menyodorkannya pada Alecia untuk menyuapinya.
Alecia kembali terkejut dan membuka bibir mungilnya perlahan.
Dengan malu-malu, ia menerima suapanku satu per satu.

Karena porsi kecil itu, hanya dengan lima suapan saja, steak itu sudah habis.
Alecia terlihat malu-malu karena melihatku membantunya mengambilkan serbet.
Ah, aku memang gentleman sekali...
(-__-)7

Alecia menikmati minumannya perlahan-lahan. Nampaknya ia masih ingin menghabiskan waktu bersamaku.

"Umm...namamu siapa ?" tanya Alecia perlahan.

"Dylan. Anda bisa memanggilku Dylan." jawabku masih sambil tersenyum.

"Ah, Dylan...kau kelihatannya masih muda...berapa umurmu ?" Alecia terlihat penasaran dan ia menatapku tanpa malu-malu lagi.

"Menurut anda ?" Aku tersenyum menggodanya.

"Umm...17 ?" Tebaknya. Aku tertawa mendengarnya.

"Wah, saya muda sekali ya...hampir tepat nona." Kataku lagi.

"Ah, kau pasti 18 !" Alecia berseru dengan penuh semangat.

"Bingo !" Aku menjentik jariku dengan sekeren mungkin. Alecia tertawa dan menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Nampaknya dia malu kembali.

"Anda sering kemari ?" tanyaku padanya. Alecia menggeleng.

"Tidak. Ini pertama kalinya aku kemari dan kata teman-temanku, The Kingdom bisa menjadi tempat curhatan jika sedang suntuk..." jawabnya.

"Ah...jadi anda ingin curhat ?" Aku tersenyum kembali. Wajah Alecia merona merah kembali.

"A..ah, tidak ! Tidak ! Lupakan saja...!" katanya cepat sambil mengibaskan tangannya beberapa kali.
Ah, aku tahu maksudnya apa. Memang wanita butuh di bujuk...

"Ceritakan saja, nona...mungkin saja saya bisa membantu. Bukankah lebih baik diceritakan daripada dipendam sampai bikin sakit hati ?" Aku mengerling padanya.

Alecia terlihat ragu sesaat dan ia akhirnya berdeham.

"Se...sebenarnya aku sedang menyukai seseorang...tapi, aku tidak tahu apa dia menyukaiku...hanya saja sikapnya sangat baik padaku...tapi, beberapa hari yang lalu aku melihatnya berjalan dengan gadis lain..." Alecia tiba-tiba terlihat muram.

"Apa anda sudah bertanya padanya ?" tanyaku.
Alecia menggeleng.

"Aku tidak berani bertanya padanya...nanti aku di bilang terlalu posesif...padahal pacarnya pun bukan..." jawab Alecia menghela napas panjang.

Aku tersenyum ke arahnya.
"Seharusnya anda tanyakan padanya. Bertanya itu tidak berarti menunjukkan anda posesif, bukan ? Tergantung bagaimana cara anda bertanya hingga tidak terlihat seperti gadis yang posesif. Jika anda tidak bertanya sedikitpun, pasti anda tidak akan pernah tahu kebenarannya. Siapa tahu gadis yang dibawanya jalan itu adalah saudaranya ?" kataku ringan.

Mata Alecia melebar seketika.
"Bagaimana caranya aku bertanya padanya ?"

"Hmm...mungkin anda bisa bertanya seperti ini, 'Eh, kemarin aku lihat kamu jalan sama cewek. Cantik banget ! Siapa tuh ? Pacarnya yaa ??? Gak bilang-bilang udah jadian ! Selamat yaa !' Dengan suara ceria seperti tidak terjadi apa-apa mungkin akan kelihatan lebih natural. Selain itu, dari kata-kata seperti itu, anda jadi tahu 'kan kalo dia udah punya pacar atau belum. Bisa aja dia jawab, 'Ah, bukan. Itu sodaraku.' Bukannya lebih lega dengarnya ?" kataku. Alecia membentuk mulutnya menjadi 0 besar.

"Ah benar sekali ! Aku tidak terpikir seperti itu ! Terima kasih banyak kau sudah menolongku, Dylan !" Alecia berdiri mendadak dengan semangat.
Sepertinya ia akan langsung menemui pria itu dan mempraktekkan kalimatku barusan.

Alecia berjalan mendadak untuk keluar dari ruangan tapi, ia tidak menyadari roknya tersangkut ujung meja hingga hampir terjatuh.

Dengan cepat, aku menangkap tubuh Alecia yang hampir menabrakku. Ia jadi berada di pelukanku.

"Anda tidak apa-apa, nona ?" tanyaku pelan.
Suaraku terdengar jelas karena bibirku berada dekat dengan telinganya.

Wajah Alecia memerah luar biasa dan ia terlihat gugup.
Yah, aku memang terlihat keren...(^0^)9

"Aku baik-baik saja ! Terima kasih banyak, Dylan !" Ucapnya terburu-buru dengan wajah memerah. Aku tahu kalau dia pasti berdebar-debar karenaku.

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang terlihat manis.

Unusual VampireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang