47 - Last Chance

27K 2.9K 637
                                        

Baekhyun menginjak pelan pedal gas saat lampu sudah berubah hijau. Tangan kirinya sedari tadi masih mengenggam tangan Sena sepanjang jalan. Mereka baru saja tiba di Seoul, dan kini sedang menuju pulang ke rumah.

"Jadi satu kesalahanku masih belum bisa dimaafkan? Bahkan demi Cheonsa?"

Sena melirik ke arah Baekhyun. "Kenapa bawa-bawa bayiku?"

"Bukan hanya bayimu. Bayiku juga. Bayi kita," balas Baekhyun.

"Karena satu kesalahan lagi belum dimaafkan, entah kenapa aku merasa tidak tenang?" Baekhyun melirik ke arah Sena sekilas.

"Kenapa berbicara begitu?"

"Kau tau, umur itu tidak ada yang tau." Baekhyun membelokkan setirnya.

Sena mengerjap dan segera melepaskan tangannya dari genggaman Baekhyun. "Kau ini bicara apa?"

"Aku hanya berkata hal yang benar. Umur tidak ada yang tau. Jika kau belum memaafkanku seperti ini, rasanya itu sangat tidak tenang. Siapa tau jika nanti aku tiba-tiba--"

"Sebenarnya apa yang kau bicarakan?! Mau meninggalkanku dan Cheonsa?!" teriak Sena. Matanya mulai berkaca-kaca terisi air mata.

Baekhyun segera menepikan mobilnya ke tepi jalan dan menginjak rem. "Hey, kenapa kau menangis?"

Sena mendorong dada pria itu. "Perkataanmu yang membuatku menangis! Kau bicara seperti kau besok mau mati saja!" Sena menutupi wajahnya dan mulai menangis.

Baekhyun melepas sabuk pengamannya. Dia meraih kedua tangan Sena lalu terkekeh. "Hey ibu hamil, aku hanya bergurau. Kau tau sendiri aku ini suka sekali bergurau. Kenapa menangis?"

"Jaksa menyebalkan! Jaksa gil--"

"Stop. Jangan mengumpat. Kau mau Cheonsa mendengarnya?" dengan cepat Baekhyun menyela.

"Karena kau menyebalkan!"

Baekhyun tertawa dan segera memeluk Sena. "Aigoo....sudah aku bilang aku hanya bergurau."

"Gurauanmu tidak lucu." Sena memukul dada pria itu. Dan Baekhyun kembali tertawa.

"Berhenti tertawa! Aku akan menggunting mulutmu!"

"Lalu jika nanti aku mau menciummu bagaimana?"

"Masa bodoh. Aku tidak peduli," balas Sena dengan cepat.

"Memangnya kau tidak mau aku cium? Lalu bagaimana jika nanti Cheonsa mau dicium ayahnya dan--"

"Tutup mulutmu. Berisik."

Baekhyun tersenyum dan hanya mengelus punggung Sena dengan tangannya. "Jadi.....aku dimaafkan tidak? Kali ini aku serius, umur itu tidak ada yang tau--"

"Berhenti membahas hal seperti itu!"

Baekhyun menghela napas. "Maafkan aku ya?"

"Yasudah."

"Yasudah apa?"

"Yasudah iya."

"Iya apa?"

"Yasudah iya aku maafkan!" Sena melepaskan dirinya.

Baekhyun tertawa. "Yes. Sekarang aku merasa sangaaaat tenang sekali."

Sene berdecak. Mencubit lengan Baekhyun dengan kencang. "Kau sengaja ya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan? Sengaja berbicara tentang umur tidak ada yang tau agar aku memaafkanmu?"

Baekhyun tersenyum miring. "Yang penting kau sudah memaafkanku. Dan mulai sekarang kita bisa hidup berumah tangga dengan damai, aman dan nyaman."

"Ini kesempatan terakhirmu. Aku tidak akan memberikan kesempatan lagi padamu jika kau berani membuat kesalahan lagi," ujar Sena dengan nada serius.

AnimosityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang