Sudah selama beberapa hari ini Baekhyun tidak pernah tidur dengan nyenyak. Ini sudah lewat 4 hari setelah hari perkiraan lahir bayinya, namun ternyata bayinya itu masih betah di dalam kandungan dan belum menunjukkan tanda-tanda ingin keluar. Karena dia harus siap kapanpun disaat Sena mau melahirkan. Selama bekerja pun dia terus-menerus khawatir dan selalu memikirkan istrinya yang tengah hamil besar itu.
Baekhyun menoleh saat merasakan pergerakan Sena yang terlihat tidak nyaman dalam tidurnya.
"Sena? Ada apa? Kau mulai merasakan tanda-tandanya?" tanyanya sedikit panik. Lalu membalik posisi berbaringnya menjadi menghadap ke arah Sena.
Tanpa di duga wanita itu malah menangis.
"Eh? Kenapa menangis?"
Sena mengusap air mata yang hendak meluncur melewati pipinya. "Aku bingung."
"Bingung?"
"Berkali-kali aku mencoba posisi yang nyaman. Menyamping ke kanan atau ke kiri pun tidak nyaman. Apalagi berbaring," rengeknya, sementara tangannya memegang perutnya yang besar itu.
Baekhyun mengerti. Dia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya jika di posisi Sena yang membawa perut besarnya kemana-mana. Apalagi disaat tidur dan tidak bisa menemukan posisi yang nyaman.
Saat hamil Cheonsa dulu pun begitu, Sena kadang terlihat kewalahan membawa-bawa perut besarnya. Tapi di kehamilan sekarang, istrinya itu sampai menangis.
Baekhyun bangkit, merubah posisinya menjadi duduk. "Kemari," ujarnya.
Mengusap air matanya sekali lagi, Sena bangkit perlahan dan mendekat pada suaminya. Baekhyun menarik Sena, menyandarkan kepala wanita itu pada bahunya.
"Mau minum?" tanya Baekhyun mengusap-usap rambut Sena.
Sena menggeleng. Tangan Baekhyun terulur menyentuh perut Sena lalu mengusapnya dengan lembut. "Sayang, jadi kapan kau akan keluar? Kenapa kau betah sekali di perut mommy? Tidak mau bertemu daddy?"
"Padahal kakakmu dulu sudah keluar sebelum waktunya, tapi kau malah tidak keluar-keluar. Jangan-jangan kau malu ya? Apa kau pemalu?"
"Aih, tidak mungkin anak daddy pemalu. Iya kan?"
Baekhyun terkekeh merasakan sebuah pergerakan dari dalam perut Sena. "Dia menendang."
"Mungkin dia menolak saat aku menyebutnya pemalu." Dia menoleh pada Sena.
Mau tak mau Sena ikut tersenyum kecil. "Mana mungkin anaknya pemalu, jika ayahnya narsis sepertimu."
Baekhyun tersenyum dan mengangguk. Dia melirik ke arah jam, pukul 2 pagi. Matanya benar-benar lelah, dia sangat mengantuk. Tapi dia berusaha terjaga demi menemani Sena.
"Kau sebaiknya tidur lagi, Baekhyun. Aku juga akan mencoba tidur," ujar Sena merasa tak tega melihat suaminya itu sesekali menguap dan mengucek matanya.
Pria itu mengangguk lagi, membantu Sena berbaring menyamping ke sebelah kanan. Baekhyun ikut membaringkan dirinya dan merapatkan tubuhnya pada Sena. "Aku tidak akan benar-benar tidur. Kau jangan khawatir. Jika ada apa-apa, langsung bangunkan aku ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Animosity
Fiksi Penggemar(COMPLETED) Byun Baekhyun, seorang jaksa tampan yang datang dalam kehidupan Park Sena secara tiba-tiba. Dengan semua perkataan dan tingkah manisnya, berhasil meluluhkan Sena. Pesona dan kebaikan pria itu berhasil menarik Sena untuk membuka ruang hat...
