Bangunan megah dengan pencahayaan minim berdiri agung di tempat sepi.
Sosok-sosok penghuni gedung, dingin dan tak tersentuh. Seolah tak berniat berhubungan dengan dunia luar.
Dari ujung lorong rumah, pria berjas abu-abu berjalan lurus berdampingan dengan laki-laki yang berjas hitam.
"Kau sudah menangani mereka."
Ahmad, lelaki tua keras kepala berbicara dengan nafsu seakan ingin menguliti setiap orang yang ia lihat.
"Ya. Sisanya sudah saya urus. Dan pesanan tuan besar sudah ada di ruangan."
Dani menjawab, matanya lurus namun memberi kesan hormat pada lawan bicara.
Tuan besar Ahmad mengangguk, lalu memasuki ruangan yang dimaksud Dani. Ruangan yang menyajikan sosok yang ingin sekali ia lenyapkan.
"Halo, sahabat lama. Aku turut berbahagia atas meninggalnya putra yang menuruni sifatmu, peng-khi-a-nat."
Jakadinata, sahabat lama dari Jonathan, duduk menyeringai di atas kursi satu-satunya di ruangan.
"Ahh, aku sangat merasa terpuruk karena tidak bisa melihat langsung bagaimana putramu meninggal dengan cara yang sama seperti istrimu."
Jakadinata tersenyum mengejek, menikmati raut sedih sang mantan sahabat.
"Apa kau sudah cukup bersenang-senang?"
Ahmad menatap dingin tanpa ekspresi.
"Hahahaha ... ya. Membuat istrimu gila, anakmu mati dan menyiksa putrimu adalah kesenangan."
Si gila Jakadinata tertawa tak tau diri. Seolah dia penguasa kemenangan.
"Kalau begitu, sekarang giliranmu. Mari kita saling membunuh."
Ahmad melepas jas abu-abunya lalu menghampiri Jakadinata yang mendadak terdiam.
Tanpa peluru dia bukan apa-apa, dan mantan sahabatnya ini adalah pegulat yang sempurna.
"Cih. Kau takut, sahabatku?"
Ahmad berdecih, rupanya Jakadinata tak juga mengembangkan kemampuan berkelahinya.
"Apa kau berniat membunuhku? Dan menyempurnakan daftar orang-orangku yang telah kau sekap dan intimidasi?"
Laki-laki tua yang saat ini terpojok, entah apa yang ingin dia pastikan.
"Hahahaha .."
Dan pertanyaannya di jawab tawa sang lawan bicara.
"Aku mengagumi kelicikanmu dalam mencari informasi. Apakah Dani? Ohh, aku sudah tau. Dan perlakuanmu yang buruk pada keluarganya telah membuat dia berpindah menyerangmu," lanjut Ahmad.
"Cih. Jadi sekarang apa? Mau bertarung lalu kau yang menang? Hey, jangan lupakan aku punya Rian."
Jakadinata mencoba melayangkan siasat mengancam.
"Memangnya apa yang bisa bocah itu lakukan? Memenjarakanku?"
Ahmad tersenyum mengejek.
"Tidak hanya itu. Aku bisa memastikan putrimu selalu dalam ancaman."
Jakadinata tetap dalam siasat mengancam.
"Oh, ya? Kalau begitu aku akan memastikan kau dan dia tak lagi ada di dunia ini."
Ayah yang beberapa jam lalu menyaksiksan putranya di makamkan dan putrinya dibawa memasuki ruang ICU, melipat lengan baju bersiap menyiksa sang pelaku dari segala kejadian buruk yang menimpanya.
"Kirim saja aku ke penjara."
Ha! Si gila itu rupanya sudah merasa tak berdaya.
"Ya. Tentu. Namun sebelum itu akan kupastikan kau berada dipenjara tanpa nyawa."
Bugh. Ahmad meninju keras wajah sahabat lamanya, membuat gusi bagian bawah penerima pukulan bergeser ke kanan.
"Bukankah dalam agamamu membunuh itu dilarang?"
Jaka terhuyung, bibirnya robek. Ucapan yang keluar dari mulutnya membuat ia semakin merasa sakit.
"Hukum bagi yang membunuh adalah di bunuh."
Bugh. Ahmad kembali melayangkan tinjunya.
"Kau berbicara seolah kau tak pernah membunuh."
Jaka meludahkan darah lalu bangkit menantang ke arah lawan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The True Traveller (Revisi)
AdventureCover By Canva Template Cover by mystudio11 Elemen by Gia Leuterio from sketchify japan & alvindovicto from painting tools Font : Kollektif & Lotus Eater Sans SUDAH TAMAT _____________________________ Apa yang lebih sakit dari ini? Air mata yang te...
