"Sampai kapan kau akan merajuk padaku? Ini sudah lebih dari satu minggu."
Ifa merengut diatas punggung si legam, setelah pulang dari dusun datuk Syarif si belang seperti menjauh darinya. Mungkin ia masih marah. Makanan jatah si legam yang Ifa siapkan tak disentuhnya sama sekali. Membuat rasa bersalahnya kembali menyeruak.
Ifa menghela nafas, ia melirik ke arah si belang yang berjalan disisinya. Tiba-tiba ide gila muncul dalam pikirannya. Ifa tersenyum lalu melompat ke arah si belang. Si belang mengeram dan meronta.
"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau berhenti bersikap seperti ini padaku!" Ifa berkata mutlak memperkuat pegangannya pada leher si belang yang meronta.
Si belang mendengus frustasi ia lalu menggulingkan tubuhnya menyebabkan tubuh kecil Ifa terjatuh ke tanah tapi Ifa tak melepaskan pegangan tangannya pada leher si belang, membuat si belang berbalik dan menyerang Ifa. Aksi keduanya berlanjut pada perkelahian gadis berusia sepuluh tahun yang keras kepala dengan seekor harimau yang terlihat frustasi akibat kekeras kepalaan Ifa dan tolong jangan lupakan si legam yang menyaksikan perkelahian mereka dengan tetap setia menerapkan sikap tenangnya.
"Kejar aku dasar pemalas," Ifa berlari sambil tertawa di tengah padang rumput yang nampak menyenangkan dengan danau luas membentang disisinya.
Sepertinya si keras kepala dan si sombong sudah mulai berbaikan.
Setelah kembali dari dusun datuk Syarif Ifa memutuskan untuk meninggalkan gubuknya dan menjelajahi pulau Sumatera bersama si belang dan si legam.
"Sepertinya aku mencium aroma menguntungkan disini,"
Seorang pria berbadan besar menghampiri Ifa dan dua binatang yang selama hampir dua tahun ini menemani Ifa.
"Hey, lihatlah kulit harimau itu pasti akan sangat mahal jika kita jual dan kuda hitam itu terlihat agung dan mengagumkan. Aku akan menjualnya dengan harga mahal."
Seorang lelaki jangkung bertubuh kurus ikut memberi pendapat tentang sesuatu yang mereka anggap tangkapan mereka hari ini.
Tiga laki-laki lain yang memiliki perawakan hampir serupa tersenyum penuh maksud saat menatap dua hewan disisi Ifa.
Ifa menyentuh anak busurnya yang beracun dan mendapati semuanya masih utuh belum ia gunakan untuk berburu. Karena sejak tadi Ifa menghabiskan waktu berburunya dengan berkelahi cukup hebat dengan si belang.
"Hey anak manis, mau ikut dengan om? Om bisa membelikanmu banyak mainan," lelaki bertubuh paling besar menghampiri Ifa tangannya terulur hendak menyentuh dagunya.
"Singkirkan tangan kotormu dariku." Ifa menepis kasar tangan besar yang mengarah pada wajahnya.
"Kau punya nyali juga anak manis."
"Pergilah, dan jangan mengganggu kami!"
Semua pemburu ilegal itu terlihat terkejut melihat anak gadis berusia sepuluh tahun dihadapannya nampak tenang tak terganggu dengan kehadiran mereka yang berperawakan mengerikan dengan senjata api yang mereka genggam. Sejujurnya sejak awal mereka memang sudah merasa terkejut melihat anak kecil berlarian dengan tertawa sedangkan dibelakangnya seekor harimau besar mengejarnya.
"Bwahahahaha.. Apa kami harus merasa takut lalu berlari ketakutan?" pria bertubuh besar itu menertawakan Ifa tapi Ifa tak bergeming ia tetap tenang menatap lima pria kasar dihadapannya yang tak juga menyadari bahwa Ifa diam-diam mengoles racun berdosis cukup tinggi pada anak panahnya.
"Sepertinya aku akan menjualmu pada Tuan Jaka, si tua itu pasti senang bisa mendapat mainan seperti mu," lelaki berperawakan kurus namun memiliki tinggi badan cukup tinggi berkata sambil tertawa.
'Apa? Apa katanya? Tu.. Tuan Jaka? Tidak mungkin!' lutut Ifa terasa lemas. Ingatannya melayang pada hari-harinya yang penuh luka dan derita.
Wusshhh.. Jleb,
Ifa tak bisa mengontrol emosinya, dengan refleks ia memasang anak panah pada busurnya lalu melayangkannya pada laki-laki yang menyebutkan nama orang yang paling tak ingin Ifa dengar. Anak panah Ifa melesat mengenai bahu kanan sasarannya. Seketika lelaki kurus jangkung itu mengeram marah.
"Sialan! Beraninya kau melawan kami!" merasa tak terima teman-teman dari laki-laki yang menjadi sasaran anak panah Ifa mengarahkan sejata api pada Ifa.
Dorr.. Dor.. Dorr.. Dorrr... Dorrr
Mereka menembak dengan membabi buta. Ifa yang saat itu fokusnya terpecah dengan ingatan masa lalunya tak bisa mengelak dengan sempurna dari serangan bertubi-tubi itu. Beberapa peluru yang melesat kearah Ifa berhasil menyentuh permukaan kulit luarnya. Ifa hendak mengajak si belang dan si legam menceburkan diri ke dalam danau untuk menghindari peluru yang melesat kearah mereka. Tapi si belang malah melakukan hal gila.
"Belang..?!!" Ifa melotot menyaksikan si belang berlari kearah para peluru berasal dan menerkam pelaku yang memiliki badan paling besar.
"Brengsek!!"
"Mati kau! Mati!!"
Dorrr.. Dorr... Dorr.. Dorr
Ifa menyaksikan si belang ditembaki para pemburu ilegal dalam jarak dekat. Tubuh si belang ambruk, wajahnya hancur. Darah segar mengalir deras dari lubang bekas peluru ditubuhnya.
Dada Ifa bergemuruh, wajahnya memerah. Ifa berlari kearah para pemburu ilegal yang saat ini tengah sibuk mengisi senjata api mereka dengan peluru baru. Ifa memasang kembali anak panahnya dan melepaskannya secara brutal ke arah para pelaku penembakan si belang.
Settt.. Settt.. Sett.. Settt
"Sial!! Persediaan peluru kita habis. Ayo lari!!"
Merasa terancam, kelima pria dewasa itu melarikan diri meninggalkan Ifa yang kembali diraup kesedihan.
"Belaaannnggg.." Ifa berjongkok dan memeriksa keadaan si belang dan mendapati si belang masih bernafas.
"Bertahanlah.. Ku mohon.. Aku akan menolongmu.. Kau percaya padaku kan?" Ifa bangkit lalu berlari mengambil tas coklatnya dari punggung si legam yang saat terjadi penembakan berhasil Ifa dorong ke arah danau. Dan saat Ifa hendak melakukan hal serupa pada si belang, si belang malah berlari menghadang para pemburu ilegal itu.
Ifa membuka tas coklatnya dan hendak melakukan pengobatan pada si belang, namun tiba-tiba si belang berhenti bernafas.
"Tidak.. Tidak.. Ku mohon jangan.. Kau hewan yang sombong dan menyebalkan! Tolong jangan bercanda!"
Ifa meraba-raba tubuh si belang mencari tanda-tanda kehidupan si belang. Ifa menyentuh nadinya, memeriksa detak jantungnya, mengecek nafasnya. Tapi ia tak menemukan sedikitpun tanda-tanda kehidupan dari binatang sombong ini.
Ifa masih terus meraba-raba tubuh si belang, saat penglihatannya mulai terasa buram terhalang genangan air mata dipelupuk matanya. Ifa tak tahan, jika ia berkedip ia akan menangis. Ia mencoba mengatur nafas, namun nafasnya terasa seakan tercekat menyiksa Ifa lebih dalam.
"Tidak.. Tidak.. Kumohon jangaann.." Ifa tak sanggup lagi menahan, tangisnya pecah ia berteriak melepaskan dukanya yang membuncah.
"Belang kau tak boleh meninggalkanku." Ifa mengguncang keras tubuh si belang yang sudah tak bernyawa. Air matanya mengalir deras membanjiri dahaga sakit yang ia rasakan.
"Kemarin kau marah hanya karena aku pergi tanpa pamit dulu padamu. Aku bersumpah akan melakukan hal yang sama jika kau meninggalkan ku belaaanngg.." Ifa menjerit berharap si belang terbangun karena merasa terganggu oleh jeritannya. Namun nihil, si belang tetap setia dengan mata terpejamnya meninggalkan setitik air mata disudut mata kanannya.
Ifa tersentak si legam mengelus punggung Ifa dengan kepalanya. Ifa menatap kosong kearah si legam dan menemukan sepasang mata coklat si legam yang mendamaikan.
Sepasang mata coklat itu seakan mengatakan bahwa Ifa harus ikhlas dan tegar. Ifa kembali melirik kearah si belang yang sudah tak bernyawa. Hatinya kembali sakit namun Ifa harus kuat.
Ifa lalu berdiri, ia berniat menguburkan si belang dengan layak. Ifa memutar matanya dan pandangannya mengunci sepetak tanah yang dinaungi sebuah pohon rindang. Ifa menghampiri arah pandangannya lalu mulai menggali dan menyiapkan beberapa batu.
Ifa menguburkan si belang dengan hati yang terasa seakan dicengkram kuat. Hewan yang saat pertama kali bertemu berniat menjadikannya santapan telah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Setelah selesai menguburkan jasad si belang, Ifa berjalan kearah danau. Tatapannya kosong, hatinya terluka dan pakaian syar'inya yang awalnya berwarna biru dongker mendapatkan warna baru, merah darah dengan beberapa bagian menampilkan robekan-robekan kecil yang menunjukan luka baru ditubuh Ifa.
Ifa menenggelamkan tubuhnya kedalam air danau yang tenang. Ifa tak mempedulikan luka barunya yang terasa perih saat terkena air. Ifa memejamkan matanya dalam air danau yang mendapatkan warna baru juga dari tubuh Ifa.
Ifa meneteskan air mata sakitnya dalam diam. Air danau membantunya menutupi tangisannya.
'Allahuuu.. Aku adalah hambaMu yang lemah.. Hamba merasa sendirian.. Hamba takut Ya Allaah.. Tolong jangan tinggalkan hamba.. Engkaulah zat yang Maha Abadi, Maha Hidup dan Maha Mengasihi.. Berilah hamba ketegaran dalam menghadapi setiap ujian dariMu ya Allah..'
Ifa berdoa, merintih dan tersedu. Ia mengadukan segala sakitnya kepada yang Maha Satu ditemani air danau yang seakan memeluknya, memberinya perasaan menenangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The True Traveller (Revisi)
AvventuraCover By Canva Template Cover by mystudio11 Elemen by Gia Leuterio from sketchify japan & alvindovicto from painting tools Font : Kollektif & Lotus Eater Sans SUDAH TAMAT _____________________________ Apa yang lebih sakit dari ini? Air mata yang te...
