“Darius!!” Panggil Caramel.
Perempuan itu dari tadi berusaha mendekati Darius saat keadaan sudah kembali santai. Pembahasan memang belum selesai namun Darius menyuruh yang lainnya untuk beristirahat lagi pula sepertinya Darius lapar.
“Darius!!!” panggil Caramel sekali lagi karena Darius tak kunjung menolehkan kepalanya juga.
Saat Caramel mencoba untuk lebih mendekat, tiba-tiba saja banyak perempuan berpakaian high class mendatangi Darius dengan senyum lebar. Langkah Caramel terhenti seketika. Terlebih lagi Darius juga ikut tersenyum seakan menyapa dan menerima kehadiran para perempuan yang dominan berparas cantik dan bule itu.
“kenapa ga disamperin?” tanya Bucky yang sadar dengan kehadiran Caramel.
“dia sibuk” jawab Caramel sambil tersenyum paksa. Sialnya Bucky lebih peka dengan senyum palsu Caramel itu.
“cemburu? Lokan pacarnya, datengin aja” ucap Bucky. Sorot matanya bergantian menatap Caramel dan Darius.
“gue bukan pacarnya” jawab Caramel cepat.
“masa sih? Mana mungkin Darius kayak gitu sama lo” ucap Bucky kaget dengan ekspresi tak percayanya.
“serius” ucap Caramel ragu-ragu. Jujur dirinya gelisah saat ditengah-tengah perkumpulan lelaki yang berwajah preman itu.
“kalau begitu ada dua kemungkinan. Pertama lo suka dia dan lo selalu ngikutin kemanapun tapi kayaknya itu ga mungkin jadi yang kedua adalah Darius suka sama lo tapi lo ga peka sama dia, benar?” tanya Bucky yang masih penasaran dengan hubungan Darius dan Caramel. Begitu juga dengan saya.
Caramel gelagapan. Dirinya bingung harus menjawab dan berekspresi apa. Tanpa sengaja Caramel membuang wajahnya kearah Darius dan melirik lelaki itu sekilas. Sepertinya Darius sedang asik dan merasa nyaman mengobrol dengan para perempuan yang genit itu.
Jauh di dalam hati Caramel, dirinya merasakan sebuah beton menimpa hatinya. Rasa sakit mulai menyelimuti hatinya saat melihat Darius seperti itu. siapa bilang Darius jarang tersenyum dan tertawa? Itu bohong! Buktinya lelaki itu sedang bahagia sekarang ditambah para perempuan mengiringinya. Caramel merasa dirinya dijauhi dan terasa jauh dengan Darius saat itu.
“maaf, gue pergi” pamit Caramel tak betah terus terusan memandang Darius dari jauh. Dirinya lebih memilih pergi dari sana dan meninggalkan Bucky yang masih menatap Caramel sedih.
Kepergian Caramel di tengah-tengah perkumpulan lelaki itu membuat Darius membuang nafasnya kasar. Sepertinya Darius sadar dengan kehadiran Caramel tadi, lalu kenapa Darius tetap berada disana? Dan lebih memilih tetap mengobrol dengan para perempuan dari sekolah lain itu?
Darius tak fokus dengan arah pembicaraan lawan bicaranya itu. Pikirannya terus tertuju pada Caramel yang menghilang dari padangannya tadi. rasanya Darius ingin mengejar kepergian Caramel, namun kedua kakinya terasa seperti batu. Susah untuk digerakkan dan tak ada rasa untuk dirasakan. Apa yang terjadi pada Darius?
“ca? lo kenapa?” tanya Anastasya saat sadar dengan kehadiran Caramel yang terlihat terburu-buru.
“gue mau pulang” jawab Caramel cepat sambil meraih tas kecilnya.
“lho? Kenapa?” tanya Anastasya kaget.
“ca? lo gapapa? Kok muka lo pucet?” tanya Priselia khawatir.
“gue gapapa” jawab Caramel. Kedua matanya tertuju pada layar handphonenya.
“pasti lo diapa-apain kan? Jawab!” ucap Anastasya seperti mengintimidasi Caramel.
“gue gapapa tasya.. gue cuman mendadak pusing..” jawab Caramel lembut. Sepertinya perempuan itu lebih memilih untuk pasrah dan tak ingin mempermasalahkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Bad Boy ✓
Teen Fiction[COMPLETED 2020 & REPUBLISH 2024] Sinopsis The Bad Boy : Berawal dari kisah duka dan kelabu yang menjadi dendam sampai berakhir di geng motor besar bernama INVICTUS yang dalam bahasa latin berarti tak terkalahkan. Sosok lelaki yang temperamental mem...
