______________
••~••
Ini adalah masa lalu, yang terulang di masa sekarang. Mimpi buruk yang menjadi faktor keterpurukan diriku.
🌕️🌕️🌕️
"ARGH!"
Deg!
Dunia serasa terdiam. Waktu terasa berhenti. Dan tubuh terasa ingin mati. Kedua mata ini melihat langsung kejadian mengenaskan itu. Dirinya seperti mengulang waktu di masa lalu, di mana sang ibu meninggal karena kecelakaan tabrak lari. Percis seperti sekarang ini.
"Argh!"
Brugh!
Brakh!
Kecelakaan terjadi dua kali. Wanita itu, tertabrak mobil lagi. Sungguh ini tidak bisa di pikirkan sebelumnya. Apa ini? Kenapa semesta seolah sedang mempermainkannya?
Djrs!
Hujan turun bersamaan dengan kejadian mengenaskan yang menimpa wanita itu. Seolah ia tahu, bahwa ini adalah waktu tepat untuk ikut berduka atas kejadian yang menimpa manusia di bumi.
"BELLA!"
Tubuh Angga serasa ingin mati pada saat waktu itu juga. Yang tertabrak tidak hanya Delia saja, namun kekasihnya pun ikut tertabrak saat tak sengaja ia menolong Delia. Kenapa ini terjadi begitu cepat. Sangat lucu bukan, semesta seolah mengulangi kejadian dulu di mana Angga melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa ibunya mati saat tertabrak truck yang berkendara ugal-ugalan di jalanan. Dan itu sangat membuat Angga terpuruk setengah mati.
"Mah! Bangun! Mamah berdalah! Mamah bangun. Tolongin Mamah saya, Om...."
"Angga kuat sayang. Angga gak boleh nangis. Laki-laki harus kuat. Mamah... Mamah pergi dulu."
"Mamah bangun! Mamah gak boleh tidur di sini! Ayo kita pulang Mah, tidurnya di kasur empuk aja. Kalo di sini, nanti kepala Mamah berdalah kaya gini lagi. Ayo Mah... Bangun!"
Memang, saat itu Angga masih belum mengerti apa itu Mati. Dan apa itu pergi. Yang dia ingat, ibunya tertidur dan tidak pernah bangun lagi. Bahkan ibunya dikubur dan ditutupi oleh tanah. Seperti sedang bermain petak umpet, namun tak kunjung keluar meski sudah tau jika ibunya ada di dalam sana.
"Mamah... Apa di sana gelap? Angga ingin ikut Mamah. Angga mau temenin Mamah bobo. Nanti, kalo ada nyamuk yang gigit Angga, siapa yang akan kasih Angga pelukan? Papah, kan jarang di rumah. Mamah... Ayo keluar Mah," ucap Angga menangis, sambil menggaruk tanah pemakanan ibunya. Membuat Adi cemas di buatnya.
"Ayo Angga. Kita pulang." Adi menggendong Angga kecil. Ia memangkunya di pundak. Setetes air mata jatuh ke pipinya. Tak kuasa melihat kepolosan anak yang baru saja di tinggal ibunya.
"Pah. Mamah ketinggalan. Mamah belum keluar Pah. Ayo kita paksa Mamah Pah. Lepasin Angga Pah. Angga mau ajak Mamah pulang. Papah lepasin!"
Angga berlari. Menghampiri sang kekasih di bawah derasnya hujan mengguyur Kota Jakarta. Ia tak peduli dengan pakaian yang basah akibat terkena air. Ia tak peduli dengan suara bising rintikan hujan. Kekasihnya? Kekasihnya tertabrak truck! Kalian tahu!
"Bella! Bella, apa yang sakit? Apa Bell!" teriak Angga panik membawa kepala Bella ke dalam pelukan tubuhnya.
Ia tak peduli, darah mengotori jas mewah itu. Ia tak peduli pakaiannya menjadin kotor akibat Bella. Angga sangat tak peduli itu semua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Preman Kampus {END}
Novela JuvenilTerkadang sikap pemarah menutupi semua kesedihan pada seseorang. Mungkin umumnya wanita memang yang sering dikejar oleh pria, namun apakah salah jika wanita yang mengejar pria? Bella mengenyampingkan rasa malu, gengsi dan rasa takut akan orang lain...
