Pk-67

2K 111 20
                                        










___________

••~••

"Dia nolongin gue?" tanya Delia pada Angga yang berada tepat di depannya sekarang.

Gadis yang selamat dan sempat meninggal ternyata Delia. Dan sebuah keajaiban juga karena Delia masih di beri kesempatan hidup untuk melihat kedua orang tuanya, dan melihat Angga juga.

"Dia korbanin nyawa, cuman buat gue?" tanya Delia dengan suara serak.

"Jawab Angga. Jangan diem aja!" teriak Delia.

"Arghh...." Delia memegangi perutnya. Terasa amat sakit sungguh di bagian perutnya itu.

"Lo harus banyak istirahat," ucap Angga dingin.

"Jawab aja pertanyaan gue Angga! Bella celaka karena gue?! Iya!" bentak Delia emosi.

"Iya! dan karena lo juga, sekarang cewek gue buta! dia koma dan lagi bertarung sama kematian! lo tau itu!" bentak Angga kebablasan. Sungguh emosinya tak bisa dibendung lagi.

Deg!

Ini adalah kabar mengejutkan bagi Delia.

"ANGGA! KELUAR KAMU! INGAT, DELIA BARU SAJA SADAR!" teriak ibu Delia saat tahu bahwa di dalam sini Angga sedang memarahi putrinya.

Angga keluar tanpa mengatakan satu patah kata pun. Ia sekarang selalu emosional jika menyangkut semua itu tentang Bella.

***

"Bell, gue mohon bangun!" ucap Angga serak.

Ia hanya bisa melihat Bella di balik kaca ruangan Bella di rawat, tak ada seorang pun yang di perbolehkan masuk. Keadaan Bella masih koma, dan tidak boleh di ganggu oleh siapapun. Termasuk Deni, ayahnya sendiri.

"Om titip anak Om dulu. Om mau keluar sebentar," ucap Deni menepuk pelan pundak Angga.

***

Deni berada diam di dekat pemakaman Tina. Ia berjongkok lantas menunduk. Malu jika ia mengakuinya di depan pemakaman Tina.

"Maaf Na. Aku gak bisa jaga anak kita dengan baik. Aku emang Ayah yang buruk buat dia. Andai kamu ada di sini, kamu pasti akan menjadi penyemangat untuk anak kita," gumam Deni menunduk. Setetes air mata baru saja keluar dari dalam sudut matanya.

"Kamu ingat? Janji kita untuk selalu melindunginya dari bahayanya dunia? Melindungi Bella dari kejamnya lelaki penggangu itu? Aku ragu, jika kematianmu hanya sekedar kecelakaan, tapi kenapa kamu gak pernah cerita masalah kamu sama aku. Sikap egoismu masih sama. Tidak ingin membuat orang lain terluka dan susah. Dan hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri saja. Jika lelaki itu menganggumu lagi, kenapa kamu tidak berbagi cerita itu dengan ku Na," ucap Deni kesal sekaligus kecewa di iringi tangisan pelannya.

"Na. Mau jadi pacar ku?"

"Gak."

"Ayolah Na. Aku bisa jagain kamu dari lelaki manapun."

"Gak butuh bodyguard. Sorry."

"Bukan penjaga. Tapi sebagai pacarmu Na."

"Akas. Gue cinta sama lo."

"Makasih Na. Udah mau jadi pacarku."

Deni ingat sepenggal kenangan masa SMA bersama Tina. Di mana sikap dingin Tina, yang selalu menolak 'Deni Prakasya'. Deni yang tetap mengejar siswa cantik bernama Tina itu. Sampai pada akhir cerita di mana mereka hidup bahagia sampai menikah. Masa kelam pun pernah Deni lewati dengan Tina. Tak mudah melupakan kenangan banyak bersama orang yang kita cintai.

Preman Kampus {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang