Hari-hari berjalan tanpa biasanya. Tak ada lagi suara bising Bella yang selalu mampu membuat Angga kesal atau bahagia. Tak ada lagi senyuman indah gadis itu. Warna-warni hidup Angga lenyap seketika.
Angga menyusuri koridor rumah sakit. Ternyata ini benar nyata. Dia sedang di sini, dan kecelakaan itu benar-benar terjadi. Bella pun benar sedang tak sadarkan diri.
Drt... Drt...
Angga dengan lemah, mengambil ponselnya. Ia memberhentikkan langkah kakinya. Nama Adi terpampang jelas di sana.
"Kamu sudah makan Angga?" tanya Adi serak di seberang sana.
Angga diam. Mulutnya sama sekali tak ada napsu berbicara. Semangatnya sudah hilang, dunianya kini sedang kelam. Semua berubah pesat karena seseorang yang sangat Angga sayang, dan sekarang orang itu, sedang terbaring lemah melawan kematian di ruangan sana.
"Jangan sakitin diri kamu. Bella akan sedih, jika kamu tidak jaga kesehatan seperti ini. Jangan jadiin Bella kelemahan kamu. Jadiin dia semangat, untuk kamu lebih baik lagi."
"Iya Pah," ucap Angga serak.
"Papah tutup dulu telponenya."
Angga memasukkan kembali ponselnya itu. Selangkah demi selangkah ia mencoba kuat demi sampai ke depan ruangan gadisnya. Bukan Angga tak kuat karena kekurangan asupan makanan, namun hatinya yang tidak kuat menahan rindu juga sakit yang amat dalam ketika melihat bagaimana alat monitor itu hanya mengisi suara ruangan. Dan bagaimana tubuh kekasihnya hanya terbaring tak bergerak di ranjang rumah sakit itu.
Angga sampai di depan ruangan Bella. Dia berdiam diri di depan pintu. Dia bimbang, antara ingin masuk dan tidak. Masuk pun percuma, di sana ia pasti hanya akan mendapatkan siksa karena Bella tak kunjung mau membuka mata.
Ceklek!
Pintu terbuka. Terlihat Deni keluar sambil membersihkan air mata di pipinya. Sepertinya, Deni habis menangis di dekat putrinya. Biarkanlah. Hak Deni untuk menangis. Bukan! Bukan karena dia cengeng dan lemah. Tapi Angga tau, bagaimana sakitnya berada di dekat Bella saat itu. Diapun juga sering menangis di samping Bella.
"Angga? Sudah datang ternyata. Mau jenguk Bella ya?" tanya Deni tersenyum ramah.
"Iya Om," jawab Angga pelan.
"Terima kasih sudah menjaga Bella sampai sejauh ini. Terima kasih, karena kamu mau menjadi pasangan Bella. Om hapal betul kebahagian Bella, dan kebahagiaan itu terletak pada kamu. Tetap jaga Bella untuk Om Angga," ucap Deni tersenyum.
Angga mengangguk. "Sudah kewajiban saya Om. Saya janji," ucap Angga tersenyum kecil.
"Bagus. Kamu masuk aja. Dan jangan lupa, kamu jaga pola makan. Jangan sampai sakit, nanti Bella tidak akan semangat jika tidak ada kamu di samping dia," ucap Deni terkekeh.
"Om pergi dulu."
Angga hanya mengangguk. Dia berjalan masuk ke dalam ruangan yang di penuhi oleh bau obat obatan. Dan suara bising alat monitor.
"Panggil Bella sayang, sekali aja...."
"Mau jus gak? Nih gue beliin buat lo, special tulus dari hati."
"Boleh nambah gak makannya?"
"Angga yakin, gak mau nganterin Bella pulang?"
Kenangan itu seketika langsung terlintas di benak Angga. Jujur, Angga sangat rindu suara gadisnya. Angga segera duduk di kursi samping dekat Bella. Memegangi tangan sang pacar.
Mata cokelat itu tetap terpejam. Cantik wajahnya menambah kesan dongeng untuknya. Semacam putri salju, dia tidur dan hingga kini belum terbangun. Tidak, bukan mati. Mungkin, Tuhan sedang berbaik hati padanya. Sehingga dalam tidurnya, gadis ini di beri waktu yang cukup lama. Mungkin sedang sedikit di beri waktu beristirahat dari dunianya. Dunianya yang di penuhi oleh siksaan batin juga tangis yang selalu hadir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Preman Kampus {END}
Fiksyen RemajaTerkadang sikap pemarah menutupi semua kesedihan pada seseorang. Mungkin umumnya wanita memang yang sering dikejar oleh pria, namun apakah salah jika wanita yang mengejar pria? Bella mengenyampingkan rasa malu, gengsi dan rasa takut akan orang lain...
