•~•
Semuanya mengangguk. Mengerti dengan apa yang Bella tuliskan pada kertas itu, semuanya memang masuk akal. Bahkan, tak pernah terlintas di benak mereka jika Aksara jawa dengan simbol tanda kecil di kertas SIROMON itu jika disatukan dan digali lebih dalam, akan melahirkan sebuah kata-kata baru.
Devan menggelengkan kepalanya takjub. "Gila Bell, gue bahkan gak nge'h, kalo ada tanda itu, di kertas SIROMON. Mata lo tajem juga."
"Lo hebat, bisa nyatuin terjemahan sama tanda ini. Menjadi sebuah kata-kata baru, dan sayangnya harus kita cari tau lagi arti sebenarnya. Tapi, setidaknya, lo udah bikin Teka-teki ini semakin menuju ke tingkat pemecahan yang lebih tinggi lagi," ucap Dela tersenyum.
Bella hanya mengangguk-ngangguk saja. Setelahnya ia segera membereskan semuanya. Kini, tidak ada Kevin di antara mereka berlima. Lelaki itu tidak ikut, karena ada urusan mendadak yang menyangkut perkampusannya.
"Jadi, pertama kita bakal ngapain lagi Bell?" tanya Devan penasaran.
"Kita balik lagi ke jalan Cempaka. Ada yang mau gue cari lebih dalam di situ, ayo."
Mereka mengangguk dan mulai bergegas pergi dari sana.
•~•
Sampai. Setelah beberapa menit melakukan perjalanan, akhirnya mereka semua pun sampai di Jalan Cempaka waktu itu.
Bella berjalan lebih dulu. Ia ingin menanyakan sesuatu hal, pada siapapun orang yang terlihat olehnya. Namun, sampai ini, tak ada seseorangpun yang bisa ia tanya.
Devan lantas bertanya. "Lo cari apaan sekarang Bell?"
"Gue mau cari nama orang."
Dela mengerutkan keningnya. "Nama orang?"
"Dalam terjemahan kan ada kata Dapa, dan Baba Cama. Gue yakin itu nama orang. Makanya, gue cari tau di Jalan ini. Karena gue yakin, petunjuknya mengarah ke tempat ini. Kan tandanya juga ada di kertas SIROMON," ucap Bella yakin.
Dela mengangguk paham.
"Terus, kita nanya sama siapa? Gak ada orang di sini," ucap Dela.
"Kita berpencar yah," usul Bella.
"Oke, gue, Reno dan Dela ke arah kiri. Lo sama Angga ke kanan. Kalo udah nemuin sesuatu, kita saling kabarin aja. Setuju?"
"Oke."
Sesuai rencana, Bella dan Angga ada dalam satu misi yang sama. Bella tidak bisa egois, mementingkan diri dari pada mementingkan masalah ini. Dia memang risih, dengan Angga. Namun, tak bisa dibohongi, jika sebetulnya Bella merasa nyaman didekat lelaki ini.
"Pegangan. Jangan jauh-jauh, takut kamu hilang." Angga menggenggam tangan Bella.
Aneh. Bella tidak berontak sedikitpun. Malah, dalam hati ia bersenang.
Angga menarik tangan Bella, agar mereka melanjutkan perjalanan untuk mencari warga sekitar yang bisa mereka intrograsi dan pertanyai.
🌑🌑🌑
Devan melihat seseorang yang baru saja masuk ke dalam sebuah kontrakan cukup besar di ujung jalan. Dia lantas menepuk-nepuk bahu kekasihnya untuk memberi tau.
KAMU SEDANG MEMBACA
Preman Kampus {END}
Ficção AdolescenteTerkadang sikap pemarah menutupi semua kesedihan pada seseorang. Mungkin umumnya wanita memang yang sering dikejar oleh pria, namun apakah salah jika wanita yang mengejar pria? Bella mengenyampingkan rasa malu, gengsi dan rasa takut akan orang lain...
