PK-2

6.1K 374 6
                                        

Ketika rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang ternyaman, namun bagi seorang Bella Rechasey, rumahnya adalah tempat di mana semua kesedihan menumpuk.



"Bella pulang," ucap Bella lesu dengan kaki melangkah pelan masuk ke dalam rumah mewah berlantai 3 tersebut.

"INI SEMUA SALAH KAMU!"

"KAMU MENYALAHKAN AKU? IYA INI SALAH AKU DAN AKAN TETAP JADI SALAH AKU!"

Lagi-lagi Bella harus mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Tidak cukup kah bagi Bella sedari ia kecil selalu mendengar kedua orang tuanya bertengkar. Mungkin di saat Bella sudah besar seperti sekarang, pertengkaran itu sudah sama seperti asupan makanan s
setiap hari baginya. Tapi apa Bella bisa mengeluh sedikit saja? Apa Bella boleh meminta satu hal? Ia ingin berhenti mendengarkan pertengkaran ini. Bella ingin merasakan damai sekali saja. Mempunyai keluarga yang harmonis layaknya keluarga cemara misalnya.

Layaknya sebuah kaset rusak yang bila diputar akan terdapat adegan yang selalu diulang bahkan dipotong. Seperti itulah keadaan keluarganya saat ini. Selalu ada pertengkaran di setiap harinya.

Bella merasa kesal dia ingin marah, ingin berontak, tapi bagaimana dia bisa melakukan itu semua jika dia saja tidak pernah mau bisa mencoba masuk ke dalam lingkaran permasalah itu. Perasaan takut selalu menghantuinya, takut akan hal yang selama ini dia punya dan miliki akan pecah dan hilang dari hidupnya begitu saja. Bella mencoba tidak membuat keluarganya terpecah belah, meski memang benar bahwa orang tuanya selalu menginginkan perpisahan sebagai jalan akhir dari semuanya. Bukan keduanya, tapi bagi Bella di sini hanya ayahnya saja yang selalu meminta pisah. Ibunya selalu bersih keras menahannya, entah apa akar permasalahannya Bella selalu saja tidak mengerti. Sulit rasanya memahami kedua orang tua yang sama-sama egois dalam sifatnya.

"Baru juga pulang ke rumah," keluh Bella merasa lelah.

"Papah, mamah." Bella mencoba memanggil keduanya, namun tidak ada sahutan melainkan pertengkaran yang semakin membesar.

"ARGH SUDAHLAH, AKU MUAK DENGAN SIKAP KAMU!" bentak Deni sang ayah.

"PERGI SANA! AKU PUN MUAK DENGAN SIKAP KAMU!" teriak Tina sang ibu.

"PAH, MAH!" teriak Bella kencang saat kedua orang tuanya sama-sama pergi meninggalkan dirinya.

Bella tersenyum kecut dengan tubuhnya bergetar mengingat teriakan kedua orang tuanya yang masih terngiang di kepalanya saat itu. "Kenapa? Kenapa kalian kaya gini? Bella capek Pah, Mah," lirih Bella dengan kedua mata memejam.

Brak!

Bella menutup pintu kamar dengan sangat keras. Hingga menimbulkan getaran dan suara gema yang mengusik gendang telinga. Hanya itu saja bentuk pelampiasan amarah bagi dirinya.

"Menyedihman banget hidup gue. Saat orang lain kira hidup gue sempurna indah bahagia kaya cerita dongeng dan faktanya kata bahagia itu gak pernah gue rasain selama ini," lirih Bella menangis menatap lurus ke atap-atap kamarnya.

"Stop Bella ayo lo kuat, lo pasti bisa jalanin ini semua." Bella menyeka air mata dengan kedua tangannya. Tidak ingin terus-terusan menangis dia pun mulai bangkit dan berdiri.

Bella memilih pergi ke arah kamar mandi untuk segera membersihkan tubuh yang sudah dipenuhi oleh keringat yang menyengat dang lengket.

15 menit kemudian.

Bella duduk di ruang keluarga, ia sedang mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil berwarna putih dengan ditemani oleh siaran televisi.

Tok!
Tok!

Preman Kampus {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang