Pk-72

1.6K 83 6
                                        

Seluruh Kampus di hebohkan dengan kedatangan wanita cantik berpakaian feminim. Mereka terkejut saat melihat perubahan drastis dari seorang Bella. Sejak kejadian di ulang tahun Angga, mereka dapat menyimpulkan bahwa selama ini, mereka membenci orang yang salah. Dan mereka salah besar karna sempat membicarakan Bella di belakang, mengejek Bella dan menghina akan semua berita yang tertuju pada Bella. Mereka juga sempat di gemparkan oleh kabar Bella yang kecelakaan. Banyak juga yang heboh karena mendapat berita tentang kepergiaan Delia. Dan sekarang, mereka dikejutkan kembali dengan penampilan Bella yang berubah seperti ini. Satu kata yang pantas dalam menggambarkannya. Cantik.

"Liat-liat. Dia udah sembuh."

"Eh-eh, Bella berubah yah, cantik banget ih."

"Ih-ih, suka deh sama gaya Bella yang sekarang. Lebih feminim gitu."

Bella melirik kanan dan kiri. Orang-orang menatapnya dengan cara pandang yang aneh. Bella sangat asing dengan tempat ini. Apalagi ia takut dengan tatapan-tatapan orang di sekitar sini. Semacam dirinya bagaikan artis yang sedang menjadi pusat perhatian. Bella tidak sadar saja, memang dirinya kini sedang menjadi pusat perhatian. Bahkan sedang menjadi pusat bahan pembicaraan orang.

Bukan. Kali ini bukan karena berita viral tentang masalah. Namun kini semua orang membicarakan Bella dengan berbagai banyak pujian akan perubahan yang dia miliki saat ini.

Bella berdiri di depan halaman Kampus. Dia menunggu Dela. Namun sahabatnya itu belum juga datang hingga saat ini. Bella jadi khawatir, bagaimana jika Dela tidak masuk. Lalu Bella belajar dengan siapa. Bahkan Bella tidak kenal satu orang pun di Kampus sebesar ini.

"Heh!"

Bella dikejutkan dengan tiga orang siswa wanita yang salah satu di antara mereka mendorong bahu Bella dengan seenak jidatnya.

"Apaan nih. Main dorong-dorong aja." Bella menatap sebal wanita di depannya.

"Gak usah sok polos. Lo tuh mau cari muka kaya gimana lagi sih di Kampus ini. Kampus sebesar ini, topik pembicaraannya  selalu lo-lo-lo dan lo! Gak ada yang lain apa!" Dina menunjuk wajah Bella penuh emosi.

Bella mengangkat bahunya. Tak tau apapun masalahnya, "Mulut-mulut mereka. Apapun bisa mereka bicarain, tanpa perlu minta persetujuan dari lo."

"Kurang ajar banget sih lo! Rasain nih!"

Dina hampir menampar Bella. Jika Bella tidak sigap menghentikkan tangan itu lebih dulu.

"Lo siapa sih? Berani banget jadi orang!" bentak Bella sudah tak tahan.

"Pake acara mau tampar gue segala lagi. Waras lo?" tanya Bella kesal.

"Jangan bego. Semua orang tau siapa gue, termasuk lo. Jangan pura-pura gak inget deh lo."

Bella tertawa sumbang. Rasanya dia ingin meneriaki telinga wanita didepannya dan berkata'GUE AMNESIA! GUE GAK TAU LO DAN SIAPA LO!'

Namun Bella masih berbaik hati, karena dia tidak ingin merusak alat pendengaran orang lain.

"Gue gak tau lo siapa. Mending lo pergi, gue gak suka liat muka lo lama- lama."

"Bella gak tau Dina? Wah kenapa yah dia?"

"Ih atau dia pura-pura gak kenal kali yah."

"Bella kenapa yah?"

Begitulah kira- kira dari tangkapan pendengaran Bella. Orang-orang di sini sangatlah kevo. Kenapa dia harus sekolah di Kampus penuh orang- orang kevo seperti ini. Sangat menyebalkan.

"Denger yah, gue gak tau apa-apa. Please jangan ganggu gue." Bella ingin pergi, namun Dina mencekal tangannya.

"Lo tuh selalu bawa sial orang. Pembawa musibah besar. Kalo aja lo gak sekolah di Kampus ini, gue pasti udah jadi penguasa di sini. Dan kalo aja Delia gak donorin mata buat lo, mungkin dia masih ada di dunia ini. Lo tuh jelas-jelas pembawa sial. Gue sebenarnya gak berpihak sama Delia, tapi gue cuman kasian aja, dia mati cuman karena alasan pengen donorin mata sama lo. Sehebat itu lo hancurin hidup orang sampe meninggal," ucap Dina tertawa.

Preman Kampus {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang