Kalian tau, bagaimana sakitnya aku ketika ingatan ini tidak bisa mengingat masa indah bersama orang tuaku sendiri. Bahkan satu di antara mereka sudah pergi meninggalkan ku___Bella
•~•
"Maaf Mah, aku gak ingat Mamah. Aku bahkan gak ingat muka Mamah kaya gimana? Apa wajah Mamah sama sepertiku?" Bella tersenyum gentir mengelus makam Tina.
"Gak papa Mah. Gak papa Bella gak tau wajah Mamah gimana. Tapi, Mamah harus hidup lagi. Mamah harus temuin Bella, supaya Bella bisa tau wajah Mamah kaya gimana," ucapnya sedih.
Dela terisak melihat Bella. Dia berjongkok dan memeluk Bella. Dia merangkul bahu Bella sambil gemetaran karena terisak menangis.
"Udah ya Bell, kasian tante Tina. Dia sedih pasti. Karena liat lo kaya gini."
"Udah gimana sih, bahkan gue anak durhaka karena gue udah lupain ibu gue!" bentak Bella emosi.
"Enggak gitu Bell, lo anak baik. Lo kan tau, lo Amnesia. Jangan salahin diri lo karena penyakit itu," ucap Dela memohon.
"Ya karena gue Amnesia. Gue pantes salahin diri gue sendiri. Gue durhaka! Gue jahat!"
"Enggak Bella. Lo baik." Dela memeluk Bella. Memeluknya, supaya amarah Bella mereda.
"Gue jahat...." Bella menangis sejadi-jadinya di tempat itu. Di depan makam ibunya, dia berdoa supaya ingatannya bisa kembali pulih.
•~•
Lama waktu dia berada dimakan Tina. Hingga dia juga memutuskan untuk segera pergi dari sana. Dan beralih pergi ke tempat lain untuk menyelesaikan pembuktiannya.
Di sini Bella sekarang. Di pemakaman Delia Sesa. Berjongkok dan mengusap batu nisan itu penuh haru.
"Gue gak tau siapa lo. Gue gak tau lo dulu itu kaya gimana, yang gue tau... Lo dengan rela donorin mata buat gue. Gue yakin lo orang baik. Makasih yah, berkat lo... Gue bisa liat dunia lagi. Berkat lo, gue gak hidup dengan hanya melihat kegelapan. Tapi warna-warni dunia." Bella tersenyum tulus melihat nama sang Almarhumah.
"Delia Sesa, ketika ingatan gue pulih kembali. Gue akan ke sini, dan bakalan berterima kasih sama lo dengan segala ingatan yang udah kembali. Gue janji itu."
Bella melirik Dela dan Devan. Bella melihat Dela mengangguk kecil, dia paham. Waktu sudah semakin sore, dan dia harus segera pulang ke rumah. Tak enak juga, karena Dela membawa Bella pergi tanpa berpamitan dulu pada Deni dan Saras.
Bella terlihat mendekat ke arah Dela. Dia berjalan lesu namun menampilkan senyuman kecil.
"Makasih yah, kalian udah bantuin gue lewatin masa ini. Gue jadi pengen, cepet-cepet ingat masa lalu lagi." Bella terkekeh kecil.
"Emang harus gitu," timpal Devan.
Bella hanya terkekeh dan mengangguk.
___o0o___
"Saras? Seriusan?"
"Iya, nama dia Saras bukan Nisa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Preman Kampus {END}
Ficção AdolescenteTerkadang sikap pemarah menutupi semua kesedihan pada seseorang. Mungkin umumnya wanita memang yang sering dikejar oleh pria, namun apakah salah jika wanita yang mengejar pria? Bella mengenyampingkan rasa malu, gengsi dan rasa takut akan orang lain...
