Pk-73

1.6K 69 2
                                        





Bukan aku meragukan kecantikan dirimu. Namun, aku hanya tak ingin melupakan dirimu yang dahulu. Dan berpindah tempat menyukaimu yang sekarang. Walau kalian sama. Namun rasanya berbeda. Jujur, aku lebih suka caramu berpakaian dulu. --Angga.

.••~••








🌕️🌕️🌕️

Bella merasa risih saat dirinya terus terusan ditatap oleh si Angga-Angga ini. Lantas dia akan memberanikan diri untuk menegur pria ini.

"Jaga mata lo. Jangan liatin gue kaya mau nerkam gitu." Bella menyimpan jus di sampingnya, sebagai alat sebuah jarak juga dengan lelaki di dekatnya ini.

"Mataku ada, untuk melihat. Melihat indahnya, dunia beserta seluruh makhluk penghuninya. Gak salah dong, kalo mataku sukanya melihat kamu terus." Angga tersenyum dan semakin dalam melihat kedua mata Bella.

Bella menjadi gugup kembali. Debaran jantungnya kian detik semakin meninggi. Jika ia tidak pergi, bisa bisa dia terkena penyakit jantung disini.

"Y-ya... Tapi fungsi matanya digunain buat hal yang berpaedah dong. Contohnya baca buku kek. Bukan liatin gue." Bella memalingkan wajah ke arah lain.

"Melihat kamu juga hal yang tidak merugikan bukan? Malahan itu bagus untuk kesehatan mata juga jantung aku."

Entah turunan dari siapa laki-laki ini pintar merayu wanita seperti ini. Bella semakin ragu, jika lelaki ini benar-benar pacarnya di masa lalu. Masa iya, dia berpacaran dengan orang alay seperti ini. Ih gak mungkin.

"Ya tapi gak bagusnya buat kesehatan jantung gue--E-eh... Maksudnya, gue risih tau diliatin sama lo!" Bella memegang bibirnya. Salah besar jika tadi ia mengaku bahwa sekarang jantungnya ini sedang dalam keadaan tidak stabil.

"Kamu baper?" Angga menaikkan alisnya. Menggoda Bella ternyata seindah ini. Jika ia tahu dari lama, mungkin dulu Angga akan melakukan ini sejak dulu kala. Akan mejadi hobbynya juga membuat gadisnya utu  marah karena dirayu terus-terusan.

"Baper? Enak aja. Gak lah." Bella kembali memalingkan wajahnya.

Angga mengangguk pelan. Lantas pandangannya diluruskan ke depan.

"Kamu tau, apa yang bikin jus itu manis?" tanya Angga serius.

Bella tertarik. Lantas dia menoleh agar tau apa jawabannya. Dia menatap wajah Angga. "Apa? Pasti gula."

Angga menggeleng, "Bukan."

"Hm... Rasa buahnya. Kan kalo buahnya manis, otomatis jusnya juga ikutan manis dong?"

"Bukan."

"Terus apa?"

"Senyuman kamu." Angga tersenyum melirik Bella.

Bella melongo. "Ah, receh banget gombalannya. Lo itu bener-bener, cowok aneh. Tapi lucu." Bella terkekeh.

Angga ikut tertawa kecil. Semudah ini ternyata bahagia. Saat kita melihat orang yang kita sayang tertawa, rasanya dunia kita yang hancur pun tenggelam karena dunia terlalu dipenuhi rasa bahagia. Angga senang, melihat Bella tertawa.

Tunggu. Angga melupakan sesuatu. Dia melihat Bella dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Lantas wajahnya langsung kembali berekspresi datar.

"Kenapa pake dres?" tanya Angga dingin.

Bella yang tertawa, mendadak diam. Dia menoleh ke arah Angga. Ada masalah apa dengan lelaki ini sebenarnya?

"Urusannya sama lo apa?" tanya Bella meneliti wajah Angga.

Preman Kampus {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang